Kamis, 28 April 2011

My Little Best

Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi siswa-siswi kelas 9 SMP. Karena hari ini adalah hari yang sangat mendebar-debarkan, banyak siswa yang sampai panas dingin ketika akan menerima selembar kertas putih kecil yang dibagikan siang itu. Kertas tersebut menyangkut masa depan mereka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti yang dirasakan oleh gadis kelas 9.1 SMP Bina Nusa ini. Gadis bermuka tirus ini terus berdo’a agar NEM-nya seperti yang ia harapkan, agar ia bisa membahagiakan orang tuanya. Sementara teman-temannya pun juga melakukan ritual yang –hampir- sama dengannya.

***

Pengumuman-pengumuman, untuk siwa-siswi kelas 9 harap segera masuk ke kelas masing-masing, karena pengumuman kelulusan akan segera dibagikan. Suara dari speaker yang terpasang disudut lapangan itu sontak membuat Ify, gadis yang sedari tadi terus memanjaatkan do’a itu kaget. Ya, memang ia sedari tadi duduk didekat ring basket di lapangan dan konsentrasi penuh dengan do’anya. Jadi ketika mendengar bunyi yang melesat masuk ke telinganya dengan kilat itu membuatnya melonjak dari duduk manisnya. Tanpa basi-basi lagi Ify langsung menuju kelas 9.1, kelas yang akhir-akhir ini menjadi saksi mata perjuangan kerasnya belajar di kelas 9.

Ify notabenenya memang seorang murid yang pintar sekaligus cerdas, namun ia tetap saja was-was. Karena ia banyak mendengar berita bahwa anak yang pandai kadangpun mendapatkan NEM yang sangat anjlok sehingga membuat down siswa tersebut. Mengenaskan, pikirnya. “Ah, kok jadi ngelantur begini sih, fokus ke NEM ku ajalah,” ujarnya. Aldi Nugraha…. Amelia Firnanda Putri…. Alyssa Saufika Umari. “Alhamdulillah sampai juga di namaku, tolong kuatkan aku ketika aku melihatnya ya Tuhan, apapun itu hasilnya,” ucapnya sambil berjalan menuju meja guru.

“Alyssa ini kertas kamu, silahkan dibuka,” tutur bu Ira.

”.........” nampaknya Ify tidak merespon karena ia sangat gugup.

”Selamat ya Fy, kamu mendapat NEM tertinggi se-DKI”

”Ha? Beneran, Bu? Thanks God. Alhamdulillah ya Allah,” ucapnya dengan sangat gembira.

Dia mengamati dengan seksama sekali lagi kertas yang diberikan oleh wali kelasnya yang sangat baik hati itu. Disitu tertulis ALYSSA SAUFIKA UMARI NOMER UJIAN 9185645632 LULUS DENGAN NEM 39.75. Dia tidak sabar untuk memberitahu ibunya di rumah. Sebelumnya Ify mengucapkan terima kasih dulu kepada bu Ira.

”Terima kasih, Bu”

”Sama-sama nak, pulanglah. Ibumu pasti ingin tahu hasilmu ini, jangan lupa hari senin untuk datang ke sekolah karena ada penghargaan buat yang masuk 10 besar NEM tertinggi di sekolah. Salam buat ibumu,” ucap wanita berumur 40 tahunan ini dengan panjang lebar.

”Iya bu, pasti saya sampaikan. Terima kasih sekali lagi saya ucapkan.”

Setelah itu ia segera pergi mengambil sepedanya di parkiran. Kebetulan hari ini ibunya tidak pergi ke pasar. Sehingga sepeda tersebut bisa digunakan oleh Ify untuk pergi ke sekolah –biasanya sepeda tersebut digunakan oleh ibunya kepasar jadi Ify jalan kaki-. Dengan agak terburu-buru Ify melewati jalanan yang agak padat hari ini. Ketika melewati sebuah pasar di dekat sekolahnya itu, ia hampir saja jatuh. Di pasar tersebut banyak orang yang berejubelan di jalanan sehingga menghalangi Ify untuk segera memberitahukan hal bahagia ini kepada Ibunya tercinta. Ify ini anak tunggal, jadi ia sangat disayang oleh orang tuanya.

Kring kring kring....

Bunyi bel sepeda Ify ketika memasuki halaman depan rumahnya.

”Ibu....... Ify pulang,” dengan girang ia memanggil Ibunya.

”Uhuk uhuk... Iya nak, gimana hasilmu? Lulus? Uhuk... Lalu gimana NEMnya?” meskipun dengan batuk yang sudah bersarang begitu lama ditubuh bu Winda ini ia terus bertanya bagaikan kereta yang tak mau berhenti ketika sudah mencapai stasiun.

”Alhamdulillah, bu. Berkat do’a ibu juga Ify bisa lulus. Ini hasil Ify, jikalau Ibu mau melihat, silahkan,” katanya dengan sopan.

”Tolong ambilkan kacamata Ibu ya, nak.”

”Sip, bu.”

Tak berapa lama Ify mengambilkan kacamata wanita yang sangat dicintainya ini. Bu Winda tersenyum bangga serta menepuk pelan puncak kepala Ify setelah melihat kertas tersebut.

”Terus pertahankan prestasimu ini ya, nak.”

”Pasti, bu”

***

Di dalam kamar, Ify bersenandung kecil sambil memegang sebuah boneka teddy bear putih dengan leher berpita erat-erat.

Semua yang berlalu
Telah menjadi kenangan
Dan seakan kulupakan
Karena ku tak sejalan
Dan tak mungkin ku bertahan
Meski telah ku coba
Semuanya tak berguna
Terbuang sia-sia
Dirimu dihatiku sudah terlalu lama
Biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua
Dan tak mungkin ku bertahan
Meski telah ku coba
Semuanya tak berguna
Terbuang sia-sia
Dirimu dihatiku sudah terlalu lama
Biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua
Dirimu dihatiku sudah terlalu lama
Biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua
Dirimu dihatiku sudah terlalu lama
Dan biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua

”Makasih, Van. Aku berhasil dapetin ini semua berkat kamu. Tapi maafin aku, Van. Aku udah jahat sama kamu. Aku........nggak bermaksud untuk ninggalin kamu,” lirih Ify setelah menyelesaikan senandungnya itu.

***

Hari ini, Ify mendatangi sekolah yang akan ia duduki untuk belajar selama 3 tahun. Ya, ia mendapat undangan memang dari sekolah elit ini. Ify mendaftar –ralat bukan mendaftar tapi mengkonfirmasi- pada salah satu SMA terbagus, termewah, terindah di DKI. Toh, di SMA tersebut ia mendapat beasiswa. Jadi ia tak perlu repot-repot untuk memikirkan biaya sekolah yang mungkin menurut Ify harus menjual rumah dulu baru bisa bersekolah disini.

Pengkonfirmasian tersebut disambut hangat oleh pihak SMA Vincent Boarding School ini. Dan ternyata, kabar bagusnya lagi semester yang akan diikuti oleh Ify berjalan kurang lebih 3 hari lagi. Ify sangat senang karena dalam pikirannya daripada nganggur dirumah mending sekolah, bisa main sama temen-temen. Hal yang mendadak tersebut tidak menjadi masalah bagi Ify. Fasilitas sudah dilayani dengan total pada gadis berprestasi ini. Seragam serta buku-buku sudah dipersiapkan di loker oleh pihak seholah sehingga Ify tidak perlu repot-repot untuk membeli buku ini-itu yang biasanya ia lakukan tiap kenaikan kelas tersebut.

***

3 hari berlalu dengan begitu cepat, yang berarti bahwa hari ini adalah hari pertama Ify bersekolah di Vincent Boarding School. Ia berangkat naik sepeda dari rumahnya. Memang jaraknya cukup jauh, 10 km dari rumah Ify. Namun itu tak menjadi kendala baginya. Ia tetap melakukannya dengan semangat. Tidak seperti murid-murid –manja- yang minta anter jemput pakai mobil padahal jaraknya hanya 500 meter dari sekolah. Buang-buang duit kalau menurut Ify.

Alyssa Saufika Umari, ya nama keberuntungan bagi Ify. Dia sangat bangga sekaligus selalu bersyukur punya nama tersebut. Namanya pasti selalu terletak pada abjad depan. Jadi absenya depan. Oleh karena itu, dia menjadi gampang ketika akan ditunjuk maju ke depan kelas, karena ia tak perlu menunggu lama-lama. Lain dengan anak yang tidak menghargai namanya sendiri. Padahal orang tuanya sudah dengan susah payah membuat nama yang sedemikian rupa dirancang khusus untuk anak kesayangannya malah suka diganti sendiri oleh anak itu sehingga ia dapat mengubah nama dengan seenak udel mereka.

Seperti hari ini pula, dengan mudah Ify mencari abjad A serta menemukan namanya untuk mencari kelas apa yang akan ditempatinya di papan pengumuman sekolah barunya itu. Dia tidak perlu mengantri beberapa lama, karena dalam waktu 2 menit saja ia sudah bisa menemukan kelasnya. Setelah dari papan pengumuman Ify beranjak untuk menuju lorong sekolah yang disana ada denah untuk menuju ke kelasnya. “Ruang 10.10,” gumamnya pelan. Oh jadi dia harus menuju lantai 3 yang paling ujung karena ruang 10.10 terletak disana.

Ify sampai dikelasnya 10 menit sebelum bel. Jadi lumayan buat kenalan sama teman barunya dikelas. Ify memilih bangku nomer 2 dari depan, nomer 3 dari samping. Bangku di sekolah barunya merupakan bangku yang terdapat kursi sekaligus meja yang digabung. Disamping bangkunya ada seorang cowok keren, yang sedang mengutak-atik blackberry milik cowok tersebut. ”Nampaknya dari kalangan borjuis,” ucapnya pelan. Didepannya ada cewek putih tinggi, berambut lurus yang cantik. ”Ash...il...la,” samar-samar Ify membaca bet nama anak tersebut. Hmm mungkin namanya Ashilla. Di belakang bangku Ify itu masih kosong. Jadi Ify segera menuju ke bangku tersebut setelah itu ia berniat untuk berkenalan dengan mbak serta mas yang ada didepan dan sampingnya itu.

”Permisi, boleh duduk sini?,” katanya pada seorang cowok yang menurutnya borjuis tadi.

”Duduk aja sih,” katanya tak peduli.

”Terima kasih, aku Ify, kamu siapa?”

”Nggak usah sok akrab deh,” katanya ketus

”Maaf,” kata Ify lalu duduk.

Dalam hati Ify terus merutuki dirinya yang kesal karena cowok ini sangat sombong. Sombong sekali bahkan. Masak ditanya nama aja nggak mau dijawab. Mana kata-katanya menyakitkan lagi. Ah bodo amat, benaknya mengakhiri.

”Pagi mbak, namanya siapa? Aku Ify,” kata Ify yang ingin berkenalan dengan gadis yang disebutnya Shilla tadi

”Oh iya, aku Ashilla, panggil aja Shilla,” kata gadis itu lembut

”Oh, oke Shil”

Teng teng teng....

Bel berbunyi nyaring di seluruh penjuru kelas. Termasuk dikelas 10.10 ini. Tak berapa lama setelah bel berbunyi, seorang guru berwajah agak lonjong, berambut putih ini masuk ke kelas.

”Selamat pagi anak-anak,” tuturnya dengan tegas.

”Pagi pak,” sahut anak-anak dengan kompak.

”Saya Pak Duta, guru pelajaran Matematika. Wali kelas kalian. Sekarang saya ingin menunjuk captain and vice captain in this class. Mana daftar nama kalian?”

“Di laci pak,” kata nova yang duduk di meja depan paling pojok

“Oke, saya pilih………. Mario sebagai captain dan…………….. Gabriel sebagai vice captain. Yang merasa mempunyai nama tersebut, harap maju ke depan kelas.”

Loh kok hanya satu yang maju ke depan kelas? Ify membatin. Ternyata yang maju itu cowok yang ada disebelah Ify. Ya, cowok sombong yang bersikap tak peduli padanya tadi.

”Oke, let’s introduce your self. Please mention name, graduated from, and your address.”

“Nama : Mario Stevano Aditya Haling, dari SMP…”

Tok tok tok

“Permisi.....Maaf pak tadi saya telat, saya habis ke ruang kepala sekolah dulu tadi”, kata cowok yang sedang mengatur nafas di depan pak Duta.

“Oke, who is your name?”

“Gabriel pak,” sahutnya

“You are the vice captain in this class, let’s introduce your self after Mario.”

“Iya pak,” kata cowok yang ternyata bernama Gabriel tersebut.

“Nama Mario Stevano Aditya Haling bisa dipanggil Rio dari SMP Biru Naga, alamat perumahan kelapa dua”

“Oke, selanjutnya kamu Gabriel,” pak Duta menjelaskan.

”Saya Gabriel Stevent Damanik dari SMP Madu Jaya. Saya bertempat tinggal di Kebon Jeruk, Jakarta barat. Sekian perkenalan singkat dari saya, terima kasih.”

”Oke, kalian berdua, silahkan kembali ke tempat duduk, kebetulan sekarang saya ada acara jadi saya tinggal dulu, jangan ramai,” kata pak Duta mengakhiri.

Pak Duta meninggalkan kelas yang berketuakan Rio itu dengan terburu-buru. Nampaknya memang urusan ini sangatlah penting. Ya sudahlah nggak terlalu penting juga ngomongin pak Duta.

”Hallo,” kata Gabriel kepada Ify.

”Eh? Hai,” kata Ify spontan

”Boleh kenalan? Nama?”

”Oh aku Ify.”

”Oh iya Fy, panggil aku Iel aja biar gampang. Kamu sibuk ya Fy?”

”Ah enggak kok,” Ify buru-buru menutup buku yang hampir dibacanya. Menurut dia kalo diajak bicara dengan orang lain sedangkan ia tidak memperhatikan, itu tidak sopan. Lebih tepatnya tidak menghargai lawan bicaranya. Setelah perbincangan yang cukup lama itu Iel mengajak Ify untuk pergi ke Kantin. Ify menyetujui tapi ia juga mengajak Shilla, teman barunya.

”Fy, Shil, mau pesen apa biar aku yang pesenin,” Gabriel menawari.

”Bakso aja yel,” kata Ify dengan cepat saat melihat ada gerobak bakso yang menggoda selera dikantin tersebut.

”Kalau aku samain aja,” Shilla menjawab.

”Oke, tunggu ya.”

Setelah pesanan mereka datang tiba-tiba datang seorang cewek berambut ikal kesana.

”Heh, ngapain kamu deket-deket Iel?”

”Ha? Engga kok, kitakan cuma.........”

”Halah nggak usah muna deh kamu, kamu ngedeketin Iel karena dia kaya kan?,” katanya sinis

”Hey, apaan sih kamu Ngel? Bentak-bentak temen aku, aku nggak suka tau,” kata Iel membela.

”Puas udah dibelain Iel? Ha?” bentak cewek yang dipanggil Ngel tadi kepada Ify

”Udah sana pergi, nggak usah bikin ribut disini ya,” Iel mengusir

”Awas aja kamu macem-macem,” ujar Angel dengan nada meninggi.

Terjadi keheningan beberapa saat di meja yang diduduki mereka bertiga itu. Akhirnya Iel angkat bicara karena ia merasa sangat tidak nyaman karena hening sejenak tadi.

”Maaf ya Fy, Angel kasar tadi sama kamu,” kata Iel menyesal

”Haha, nggak papa kok Yel, by the way tadi siapa sih? Kok tiba-tiba nyolot gitu?” Tanya Ify serius

“Oh tadi Angel, temenku dulu pas SMP, o iya baksonya dimakan gih, buru dingin,” serunya

“Ehm ehm..” Shilla berdehem

“Oh iya maaf Shil, aku lupa kalo ada kamu, gara-gara ‘angel’ tadi itu sih,” ujar Ify sambil mengaduk-aduk jusnya.

“Iya, nggak papa kok, yaudah yuk makan,” kata Shilla.

Iel melahap seporsi baksonya dengan cepat. ”Wkaw, nggak makan berapa hari kamu yel? Rakus begitu?” ujar Shilla meledek Mendengar ucapan Shilla barusan, Iel menjadi hampir tersedak, tapi Iel hanya nyengir saja. ”Yeeh, kacang goreng, kacang buncis, kacang toge.” Tawa Ify meledak, ”HAHAHAH kamu jualan sayuran ya Shil, apal gitu?” katanya. ”Woo iya dong, gini-gini kan aku biasanya nemenin bibik kalo bibik lagi belanja, jadi aku tau.”

Setelah mengghabiskan bakso mereka, mereka lalu ke kelas dan tidak berapa lagi adalah jam pulang. Berhubung tidak ada gurunya, Ify segera mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ify merasa ada yang mengawasi gerak-geriknya. Ify menolah ke kanan ke kiri namun tidak ada. Nampaknya ia salah melihat.

Di meja pojok belakang, meja seseorang yang telah melabrak Ify tadi, Angel sedang membicarakan suatu rencana beserta teman-temannya.

”De, Ren, Ni, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang si jelek kampungan itu, okay?” katanya memerintah

”Iya Ngel, gue juga nggak mau kalo Gabriel kita tersayang temenan sama anak jelek itu,” kata Dea

”Oke jalankan misi kita itu secepatnya, karena besok gue akan ngelabrak dia lagi,” Angel mengakhiri perundingan mereka.

Esok harinya ketika Ify sedang asik membaca buku dibangkunya, tiba-tiba Angel serta dayang-dayangnya menggebrak meja Ify. ”Heh, kamu, dasar nggak tau diri,” seru Angel tanpa memperhatikan situasi ruangan. ”Ha? Apa maksudmu? ” kata Ify tak mengerti. ”Pura-pura bego apa emang bego sih? Elo tuh nggak pantes temenan sama Gabriel. Secara, lo kan anak YATIM yang MISKIN, ibu lo juga PENYAKITAN kan,”teriaknya dengan keras ketika menyebut kata-kata yang di capslock itu. ”Eh denger ya mbak angel tercinta, camkan ini baik-baik,” seru Ify saat akan menyanyikan sebuah lagu untuk Angel.

I’m gonna let it show

It’s time it’s to let yo know

To let you know

This is real

This is me

I’m exactly were I’m supposed to be now

Gonna let the light shine on me

Now I found who I’m

There’s know way to hold it in

No more hiding who I wanna be

This is me

“Puas? Ha?” emosi Ify sudah mulai memuncak

“BELOM! Sebelum kamu menjauhi Gabriel.”

Di tengah perdebatan yang jika diteruskan akan lebih panjang lagi itu, tanpa disadari sedari tadi Rio memperhatikan Ify bernyanyi. Suaranya.......bagus sekali, batinnya. ”Suaranya mirip....... Ica,” ucap Rio tanpa sadar. Setelah Rio bilang begitu, Ify serta Dea menengok ke arah Rio. Setelah mendengar nama Ica disebut-sebut, Ify segera memanggil sahabat kecilnya dulu, sahabat yang selalu memanggil namanya dengan nama Ica. ”Va....No...” dengan ragu-ragu ia memanggil Rio. Dengan cepat Rio memandang Ify dan dia segera berlari ke arah Ify lalu memeluknya.

”Kamu Ica?” kata Rio tak percaya

”Iya, jadi, kamu Vano?” sahut Ify juga tak kalah percaya

”Ica....... Kamu kemana aja? Aku kangen sama kamu.”

”Aku... Pindah yo, setelah kepergian bapak ku. Aku pindah didaerah Jakarta Timur.”

”Lalu kenapa kamu nggak kasih kabar aku?”

”Maafin aku yo.”

”Kamu tau nggak? Aku bersikap begini itu gara-gara kamu tau?”

Tak terasa Ify menitikkan air mata, ”Maafin aku sekali lagi yo, tapi kamu janji ya, setelah ini kamu tudak boleh ketus lagi sama yang lain, kamu harus mempunyai sikap peduli pada mereka.”

”Pasti Fy, aku akan lakuin ini demi kamu, sahabat kecilku.”

Seisi kelas melihat mereka bak melihat drama telenovela yang jarang ada ini dengan sangat serius. Mereka sangat kaget, sosok seorang Rio yang notabenenya cuek, serta tidak peduli, yang bungkusnya sangat buruk bahkan tidak sempurna itu hatinya sangat mulia, karena bisa bersikap sangat peduli kepada gadis miskin yang menjadi sahabat masa kecilnya itu. Karena Ifylah Rio sadar bahwa manusia sangatlah perlu menghargai orang lain karena mungkin tanpa orang lain ia tidak akan bisa bahagia.

- the end -