Minggu, 19 Agustus 2012

Kado Terindah


“Fy, lo kenapa?”
“Gue….. enggak papa kok,” tutur Naurafyka sambil terisak.
“Si Trian jadian ya fy?” Aku bertanya sambil berhati-hati, takut menyinggung perasaannya.
“Haha…” hanya tawa garing yang keluar dari mulutnya.
“Fy serius lo nggak papa?”
“Iya.“
*
Gue kangen……. Gue kangen elo main basket, dan selalu memakai angka 18 di nomer elo,angka keberuntungan yang selalu lo pakai dari jaman masih balita. Gue kangen, gue kangen saat lo lewat di depan gue dan ketika dipanggil pasti sok cool. Padahal biasanya elo juga suka panggil-panggil gue nggak jelas, tapi pasti setiap gue manggil elo, elo bertampang sok cool. Gue kangen, kangen jalan-jalan hangout sama anak-anak terutama elo. Gue kangen saat lo ngecengin si gesti di depan gue. Gue kangen elo main piano nggak jelas karena marah, kadang juga main piano mellow saat sedih. Gue kangen datang ke rumah lo, ngobrol bareng kakak elo. Gue kangen semuanya. Kenapa lo tega sama gue? Kenapa lo tega banget ngehianatin gue? Apa lo nggak peka?Gue sayang sama lo. Tapi elo malah jadian sama si fanisss. Gue salah apa sih yan? Mungkin gue emang nggak se cantik fanis, tapi setidaknya hargain gue. Gue yang selalu ada di sisi lain elo. Ini kado terindah yang lo kasih ke gue?
***
Hari ini tanggal 15, dan itu artinya 3 hari lagi aku akan berusia genap 15 tahun. Hari ini entah kenapa aku sangat malas keluar rumah, bahkan jam 13.00 WIB, aku masih terbaring di tempat tidur. Kring kring... bunyi dering hpku yang bergetar kedap-kedip disebelahku. “Halo….” Aku mengangkatnya, meskipun sekali lagi dengan malas.
“Fy, keluar yuk?” Tanya seseorang di ujung sana.
“Ngapain? Ama siapa?”
“Ama gue, Trian, ama Feri juga”
“Jam?”
“Sekarang”
“Buset! Gue belom mandi.”
“Pantesan bau, sono gih gue sama anak-anak udah cus nih ke rumah lo.”
“30 menit lagi” tutututut… aku langsung memutuskan sambungan telepon dari Fanis.
30 menit berlalu, aku sudah rapih, aku mengenakan dress biru tosca selutut sambil mengenakan cardigan hitam. Dari kamarku terdengan suara mesin mobil berderu dan semakin mendekat. Aku segera keluar dari kamar menuju gerbang. Benar dugaanku, teman-temanku terlihat baru saja sampai dan mematikan mesin mobilnya.
“Masuk Fy, langsung cus aja yuk,” ujar Trian dari jok pengemudi. Aku pun tak membantah, langsung menuju ke pintu belakang, duduk bersanding dengan fanis di ferarri merah ini.
“Kita mau kemana?” tanyaku memecah keheningan.
“Kita pertamanya mau ke studio dulu ambil gitar gue yang ketinggalan abis itu kita ke mall apa kemana kek yang penting jalan, nah nih udah hampir sampai kan,” ujar Trian dan seketika berhenti berbicara ternyata memang sudah sampai di studio yang memang jaraknya juga sangat dekat dengan rumahku.
“Yaudah yuk masuk,” ajak Feri.
“Fy, nyanyi dong, mumpung di studio kan, gue pengen denger elo nyanyi, duet kek gitu bareng Trian, kan sama-sama pianist tuh,” ajak Fanis, sedikit memohon.
“Ah gue males nih, lagi serak,” ujarku menolak.
“Fy, plis deh sekali doing. Yaudah deh yaudah,” ujarku sedikit tertawa, terpaksa.
“Nyanyi apa Fy?” Tanya Trian kepadaku.
“Terserah aja deh Yan,” ucapku sambil mencari-cari keyboard untuk berduet.
“A Thousand years dong pliiiiiiiiiis gue pengen banget dengerin itu lagu,” ujar fanis dan feri bersamaan.
“Kompak bener lo berdua,” ujar Trian dengan nada…. Agak sedikit aneh, seperti cemburu?
Alunan piano beriringan dengan keyboard mengalun lembut, dentingan-dentingan nadanya selaras dengan harmonisasi suara Naurafyka. Kata demi kata, bait-demi bait, hingga akhirnya lagu tresebut berakhir, ekspresi dari sang dua bocah yang sedang menyaksikan ini sangat menggelikan. Seperti tidak pernah mendengar alunan nada indah seperti tadi sebelumnya.
“WOY! Udah kelar!” teriak Trian masih dibelakang piano hitam Yamaha ini.
“Eh sori-sori, abisan lo berdua keren banget gila!!!!!” ujar Fanis jujur.
“Yaudah yuk cabut,” ajakku.
***
Tujuan kita selanjutnya adalah taman kota, dan aku mulai mempunyai firasat sedikit buruk disini. Entah apa.
“Ngapain berenti disini?” Tanya Fanis yang sedari tadi selalu ingin tahu.
“Udahlah ikut aja,” ujar Trian dengan senyum yang mencurigakan.
“Kita ke ayunan yuk? Tapi sebelumnya beli kembang gula dulu,” ajakku.
“Yuk yuk,” ujar Feri semangat.
“Fan, ikut gue yuk,” ajak Trian setelah aku dan Feri berkejaran, siapa yang cepat sampai di si penjual gula.
“Kemana?” tanyanya.
“Udah ikut aja.”
***
“Eh Fer, mereka berdua kemana sih?” tanyaku cemas.
“Mana gue tahu, peduli amat lo sama Trian? Ada apa?” Tanya Feri sedikit menuduhku.
“Ish siapa coba, yaudah yuk cari mereka,” ujarku mengalihkan perhatian.
“Yuk yuk, eh eh tuh tuh mereka ada di situ, eh mau ngapain coba si Trian tuh rame-rame gitu?” ujar Feri sambil menunjuk kea rah mereka berdua, aku mengikuti arah tangannya dan seketika…. Hatiku mencelos, menyaksikan yang sama sekali tidak ingin aku saksikan. Dan memang firasatku benar.
***
“Fan, elo tau matahari kan? Matahari itu indah banget ya, mulia banget tugasnya, menyinari semua yang ada di bumi, tanpa matahari kita nggak akan bisa hidup, begitupun dengan elo, elo itu bagai matahari buat gue, elo selalu bersinar buat gue, dan elo…. Elo itu sempurna, semua orang yang ada di sekirat elo pun semua elo sinari, tanpa terkecuali, elo itu bagai matahri, indah disapa dan kalau dilihat nggak ngebosenin, fan….. elo mau nggak jadi matahari buat gue? Matahari yang bakal selalu ada buat gue, matahari yang akan terus ceria di ujung sana, matahari yang menyayangi semua orang..” ujar Trian lantang di tengah lapangan taman kota ini, disaksikan pula oleh banyak orang yang ada disekitarnya.
“Gue…….. gu….gue…. emm…. Gue mau yan.”
***
Aku terduduk lemas, seolah baru saja menyaksikan film laga dibioskop dan pemerannya itu adalah Andrew Garfield dan tewas dihadapanku. Kembang gulaku pun jatuh ke tanah, seakan tangan ini tak kuat membawa apapun meskipun beban itu hanya 0,00001 gram. Feri tampak berseri-seri dan menghambur ke kerumunan orang-orang tersebut. Aku pun bangkit, tak mau menunjukkan rasa kecewaku pada mereka, aku berlari menghambur dan member ucapan selamat, seolah nampak sangat bahagia.
*
Satu bulan berlalu, kini seperti biasa, aku Feri, Fanis, dan Trian hangout bareng, berjalan-jalan memutari kota, sampai akhirnya berhenri pada salah satu titik di sudut kota. Lapangan basket, memang, Fanis, Feri, dan Trian sangat hobi bermain basket, tapi tidak denganku, aku hanya memilih duduk bersandar di bawah pohon di naungi dengan cahaya lampu kuning penerang lapangan basket ini.
“Elo bawa bolanya kan Fan?” Tanya Feri.
“Yoi bro,” ujar Fanis semangat.
“Eh eh liat tuh, galau banget itu anak idupnya… huaahahahah,” tawa Trian sambil menunjukku.
“Paan sih lo pada, udah sono main,” kataku kesal.
Akhirnya, mereka melanjutkan permainan, hampir satu jam aku menunggu disini, menyaksikan setiap detail gerak-gerik mereka, terutama….. Sampai akhirnya aku terlalu fokus dan….. brug. Aku terjatuh.
“ADUH!” teriakku kesal.
“BUAHAHAHAHAH,” tawa Trian, keras sekali.
“Sori Fy, sory, soryyyyyyy banget suer gue ga sengaja,” ujar Feri memelas, memohon-mohon agar aku memaafkannya.
“Ganti rugi! Pala gue sakit tau! Lo main pentok gitu aja!” ujarku emosi
“Sabar fy, sabar,” ujar Fanis disebelahku sambil mengelus-elus kepalaku yang terlempar bola basket tadi.
“Pulang sekarang!!!’ ujarku memerintah.
*
Bulan demi bulan terlewati, hingga sekarang adalah bulan agustus 2013. Hubungan Trian dengan fanis semakin renggang. Kemarin aku sempat bermimpi bahwa fanis sama trian putus gara-gara aku…. Dan semakin hari aku semakin merasakan itu. Mungkin memang aku over pd, tapi yang pasti aku bahagia, entah karena apa. Mungkin aku bahagia karena akhirnya kamu kembali normal seperti yang dulu… Tapi itu tak bertahan lama, hanya berselang seminggu sebelum ulang tahunku di tahun 2013 ini, sampai ketika aku pergi jauh, jauh sekali, bahkan tak akan kembali lagi . Dan untuk terakhir kalinya, aku memberikan buku diaryku kepada Trian. Trian awalnya menolak, tapi akhirnya ia menerimanya. Aku mengawasi dari atas sini, Trian selalu membaca diaryku setiap hari, dan Trian selalu menangis. Sekarang, Feri, Trian, dan Fanis kembali menjadi sahabat yang utuh dan selalu menyambangi tempat peristirahatanku seperti hari ini.
“Fy, maafin gue fy, gue nggak tau kalo lo kayak gini maafin gue fy….” Ujar Fanis sambil menangis tersedu-sedu.
“Yaudah yuk kita pulang dulu, udah sore,” ajak Feri. Tapi Trian menolak, Trian memilih tinggal dan akhirnya Feri dan Fanis pun meninggalkannya.
“Fy…. Maafin gue, maafin gue fy.. gue bodoh banget selama ini, gue nggak sadar kalau lo ada di samping gue terus ngedampingin gue fy, fy gue nyesel… fy plis maafin gue… gue nyesel udah pernah ninggalin lo saat lo butuh gue, padahal gue tau lo selalu ada buat gue, maaf, maaf Fy.”
END

Jumat, 17 Agustus 2012

Indonesiaku

DIRGAHAYU INDONESIAKU

Indonesia. Itulah Negara gue. Gue bangga jadi orang Indonesia. Gue bangga punya Negara seperti Indonesaia. Indonesia di tahun 2012 ini, memperingati hari kemerdekaan yang ke-67. Indonesia memang udah merdeka selama itu, tapi kenyataannya belum semua bidang di Indonesia yang udah merdeka. Contohnya aja di bidang ekonomi. Masih banyak pengangguran, tuna wisma, orang miskin bahkann terlantar. Di bidang politik malah lebih parah lagi, yang “merdeka” koruptornya bukan warganya. Mungkin mereka emang menerapkan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Tapi bukan itu bro yang dimaksud. Dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat itu adalah rakyat yang memilih, rakyat yang menentukan dan rakyat yang merasakan. Bukan seperti menurut kalian para koruptor yang, “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat” itu diartikan sebagai, mereka membayar, dan mereka menikmati bayaran tersebut. Rakyat itu bukan kalian aja kok. Rakyat Indonesia ada 250.000.000 jiwa. Bayangin aja seberapa banyak, nah kalo uangnya lo nikmatin, mereka hidup dari apa? Kalian orang berpendidikan, kalian orang terpilih bro, harusnya kalian bisa dong berfikir sedikit dan lebih mengutamakan rakyat? Lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi?
Di bidang pendidikan, sekarang emang udah mulai disosialisasikan pendidikan gratis dan tidak memungut biaya apapun, tapi menurut gue itu belum berjalan sepenuhnya, masih banyak diluar sana yang menarik pungli dan uang sekolah. Di bidang olahraga, prestasi Indonesia pun menurun drastis, dari biasanya olimpiade selalu mendapat emas, di ulang tahun Indonesia yang ke 67 ini, Indonesia hanya mendapat 1 perak dan 1 perunggu. Sangat berbanding jauh dengan beberapa tahun lalu. tim Thomas uber Indonesia juga bahkan tidak mampu maju ke semi final bahkan perempat final pun langsung kandas.
Reformasi, kita sebagai generasi muda Indonesia seharusnya mendukung sepenuhnya apapun yang terjadi di Negara kita, memang rasa nasionalis dari sebagian besar pemuda Indonesia sudah jauh berkurang. Bahkan, dulu, ketika mahasiswa, ketika masyarakat tidak boleh membantah suatu perintah dari Negara, mereka berdemo, menuntut sesuatu keadilan, menuntut suatu kebenaran, dengan gigih dan sangat beraninya pemuda Indonesia dahulu dengan semangat yang berkobar-kobar pula. Sekarang? Setelah diberi kebebasan sedemikian rupa, ketika para mahasiswa boleh mengutarakan pendapat sebagai mana mestinya mereka justru malah menyelewengkan itu semua. Mereka malah bentrokan, tawuran, demo dengan kekerasan. Itulah mental bangsa Indonesia saat ini, pemuda Indonesia! Kita seharusnya sebagai generasi muda, harus mampu mewujudkan cita-cita bangsa, kita harus taat serta tertib terhadap peraturan, bukan malah melanggar aturan yang ada. Kita seharusnya lebih memupuk rasa nasionalis kita sejak dini, kita juga perlu berjuang mengharumkan nama bangsa, sederhana saja, dengan menorehkan prestasi maupun karya yang bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kita seharusnya sebagai bangsa Indonesia, harus berjuang untuk Indonesia yang MERDEKA dan MERDESA!!!