“Fy,
lo kenapa?”
“Gue…..
enggak papa kok,” tutur Naurafyka sambil terisak.
“Si
Trian jadian ya fy?” Aku bertanya sambil berhati-hati, takut menyinggung
perasaannya.
“Haha…”
hanya tawa garing yang keluar dari mulutnya.
“Fy
serius lo nggak papa?”
“Iya.“
*
Gue kangen……. Gue kangen elo main
basket, dan selalu memakai angka 18 di nomer elo,angka keberuntungan yang
selalu lo pakai dari jaman masih balita. Gue kangen, gue kangen saat lo lewat
di depan gue dan ketika dipanggil pasti sok cool. Padahal biasanya elo juga
suka panggil-panggil gue nggak jelas, tapi pasti setiap gue manggil elo, elo
bertampang sok cool. Gue kangen, kangen jalan-jalan hangout sama anak-anak
terutama elo. Gue kangen saat lo ngecengin si gesti di depan gue. Gue kangen
elo main piano nggak jelas karena marah, kadang juga main piano mellow saat
sedih. Gue kangen datang ke rumah lo, ngobrol bareng kakak elo. Gue kangen
semuanya. Kenapa lo tega sama gue? Kenapa lo tega banget ngehianatin gue? Apa
lo nggak peka?Gue sayang sama lo. Tapi elo malah jadian sama si fanisss. Gue
salah apa sih yan? Mungkin gue emang nggak se cantik fanis, tapi setidaknya
hargain gue. Gue yang selalu ada di sisi lain elo. Ini kado terindah yang lo
kasih ke gue?
***
Hari
ini tanggal 15, dan itu artinya 3 hari lagi aku akan berusia genap 15 tahun.
Hari ini entah kenapa aku sangat malas keluar rumah, bahkan jam 13.00 WIB, aku
masih terbaring di tempat tidur. Kring kring... bunyi dering hpku yang bergetar
kedap-kedip disebelahku. “Halo….” Aku mengangkatnya, meskipun sekali lagi
dengan malas.
“Fy,
keluar yuk?” Tanya seseorang di ujung sana.
“Ngapain?
Ama siapa?”
“Ama
gue, Trian, ama Feri juga”
“Jam?”
“Sekarang”
“Buset!
Gue belom mandi.”
“Pantesan
bau, sono gih gue sama anak-anak udah cus nih ke rumah lo.”
“30
menit lagi” tutututut… aku langsung memutuskan sambungan telepon dari Fanis.
30
menit berlalu, aku sudah rapih, aku mengenakan dress biru tosca selutut sambil
mengenakan cardigan hitam. Dari kamarku terdengan suara mesin mobil berderu dan
semakin mendekat. Aku segera keluar dari kamar menuju gerbang. Benar dugaanku,
teman-temanku terlihat baru saja sampai dan mematikan mesin mobilnya.
“Masuk
Fy, langsung cus aja yuk,” ujar Trian dari jok pengemudi. Aku pun tak
membantah, langsung menuju ke pintu belakang, duduk bersanding dengan fanis di
ferarri merah ini.
“Kita
mau kemana?” tanyaku memecah keheningan.
“Kita
pertamanya mau ke studio dulu ambil gitar gue yang ketinggalan abis itu kita ke
mall apa kemana kek yang penting jalan, nah nih udah hampir sampai kan,” ujar
Trian dan seketika berhenti berbicara ternyata memang sudah sampai di studio
yang memang jaraknya juga sangat dekat dengan rumahku.
“Yaudah
yuk masuk,” ajak Feri.
“Fy,
nyanyi dong, mumpung di studio kan, gue pengen denger elo nyanyi, duet kek gitu
bareng Trian, kan sama-sama pianist tuh,” ajak Fanis, sedikit memohon.
“Ah
gue males nih, lagi serak,” ujarku menolak.
“Fy,
plis deh sekali doing. Yaudah deh yaudah,” ujarku sedikit tertawa, terpaksa.
“Nyanyi
apa Fy?” Tanya Trian kepadaku.
“Terserah
aja deh Yan,” ucapku sambil mencari-cari keyboard untuk berduet.
“A
Thousand years dong pliiiiiiiiiis gue pengen banget dengerin itu lagu,” ujar
fanis dan feri bersamaan.
“Kompak
bener lo berdua,” ujar Trian dengan nada…. Agak sedikit aneh, seperti cemburu?
Alunan
piano beriringan dengan keyboard mengalun lembut, dentingan-dentingan nadanya
selaras dengan harmonisasi suara Naurafyka. Kata demi kata, bait-demi bait,
hingga akhirnya lagu tresebut berakhir, ekspresi dari sang dua bocah yang
sedang menyaksikan ini sangat menggelikan. Seperti tidak pernah mendengar
alunan nada indah seperti tadi sebelumnya.
“WOY!
Udah kelar!” teriak Trian masih dibelakang piano hitam Yamaha ini.
“Eh
sori-sori, abisan lo berdua keren banget gila!!!!!” ujar Fanis jujur.
“Yaudah
yuk cabut,” ajakku.
***
Tujuan
kita selanjutnya adalah taman kota, dan aku mulai mempunyai firasat sedikit
buruk disini. Entah apa.
“Ngapain
berenti disini?” Tanya Fanis yang sedari tadi selalu ingin tahu.
“Udahlah
ikut aja,” ujar Trian dengan senyum yang mencurigakan.
“Kita
ke ayunan yuk? Tapi sebelumnya beli kembang gula dulu,” ajakku.
“Yuk
yuk,” ujar Feri semangat.
“Fan,
ikut gue yuk,” ajak Trian setelah aku dan Feri berkejaran, siapa yang cepat
sampai di si penjual gula.
“Kemana?”
tanyanya.
“Udah
ikut aja.”
***
“Eh
Fer, mereka berdua kemana sih?” tanyaku cemas.
“Mana
gue tahu, peduli amat lo sama Trian? Ada apa?” Tanya Feri sedikit menuduhku.
“Ish
siapa coba, yaudah yuk cari mereka,” ujarku mengalihkan perhatian.
“Yuk
yuk, eh eh tuh tuh mereka ada di situ, eh mau ngapain coba si Trian tuh
rame-rame gitu?” ujar Feri sambil menunjuk kea rah mereka berdua, aku mengikuti
arah tangannya dan seketika…. Hatiku mencelos, menyaksikan yang sama sekali
tidak ingin aku saksikan. Dan memang firasatku benar.
***
“Fan,
elo tau matahari kan? Matahari itu indah banget ya, mulia banget tugasnya,
menyinari semua yang ada di bumi, tanpa matahari kita nggak akan bisa hidup,
begitupun dengan elo, elo itu bagai matahari buat gue, elo selalu bersinar buat
gue, dan elo…. Elo itu sempurna, semua orang yang ada di sekirat elo pun semua
elo sinari, tanpa terkecuali, elo itu bagai matahri, indah disapa dan kalau
dilihat nggak ngebosenin, fan….. elo mau nggak jadi matahari buat gue? Matahari
yang bakal selalu ada buat gue, matahari yang akan terus ceria di ujung sana,
matahari yang menyayangi semua orang..” ujar Trian lantang di tengah lapangan
taman kota ini, disaksikan pula oleh banyak orang yang ada disekitarnya.
“Gue……..
gu….gue…. emm…. Gue mau yan.”
***
Aku
terduduk lemas, seolah baru saja menyaksikan film laga dibioskop dan pemerannya
itu adalah Andrew Garfield dan tewas dihadapanku. Kembang gulaku pun jatuh ke
tanah, seakan tangan ini tak kuat membawa apapun meskipun beban itu hanya
0,00001 gram. Feri tampak berseri-seri dan menghambur ke kerumunan orang-orang
tersebut. Aku pun bangkit, tak mau menunjukkan rasa kecewaku pada mereka, aku
berlari menghambur dan member ucapan selamat, seolah nampak sangat bahagia.
*
Satu
bulan berlalu, kini seperti biasa, aku Feri, Fanis, dan Trian hangout bareng,
berjalan-jalan memutari kota, sampai akhirnya berhenri pada salah satu titik di
sudut kota. Lapangan basket, memang, Fanis, Feri, dan Trian sangat hobi bermain
basket, tapi tidak denganku, aku hanya memilih duduk bersandar di bawah pohon
di naungi dengan cahaya lampu kuning penerang lapangan basket ini.
“Elo
bawa bolanya kan Fan?” Tanya Feri.
“Yoi
bro,” ujar Fanis semangat.
“Eh
eh liat tuh, galau banget itu anak idupnya… huaahahahah,” tawa Trian sambil
menunjukku.
“Paan
sih lo pada, udah sono main,” kataku kesal.
Akhirnya,
mereka melanjutkan permainan, hampir satu jam aku menunggu disini, menyaksikan
setiap detail gerak-gerik mereka, terutama….. Sampai akhirnya aku terlalu fokus
dan….. brug. Aku terjatuh.
“ADUH!”
teriakku kesal.
“BUAHAHAHAHAH,”
tawa Trian, keras sekali.
“Sori
Fy, sory, soryyyyyyy banget suer gue ga sengaja,” ujar Feri memelas,
memohon-mohon agar aku memaafkannya.
“Ganti
rugi! Pala gue sakit tau! Lo main pentok gitu aja!” ujarku emosi
“Sabar
fy, sabar,” ujar Fanis disebelahku sambil mengelus-elus kepalaku yang terlempar
bola basket tadi.
“Pulang
sekarang!!!’ ujarku memerintah.
*
Bulan
demi bulan terlewati, hingga sekarang adalah bulan agustus 2013. Hubungan Trian
dengan fanis semakin renggang. Kemarin aku sempat bermimpi bahwa fanis sama
trian putus gara-gara aku…. Dan semakin hari aku semakin merasakan itu. Mungkin
memang aku over pd, tapi yang pasti aku bahagia, entah karena apa. Mungkin aku
bahagia karena akhirnya kamu kembali normal seperti yang dulu… Tapi itu tak
bertahan lama, hanya berselang seminggu sebelum ulang tahunku di tahun 2013 ini,
sampai ketika aku pergi jauh, jauh sekali, bahkan tak akan kembali lagi . Dan
untuk terakhir kalinya, aku memberikan buku diaryku kepada Trian. Trian awalnya
menolak, tapi akhirnya ia menerimanya. Aku mengawasi dari atas sini, Trian
selalu membaca diaryku setiap hari, dan Trian selalu menangis. Sekarang, Feri,
Trian, dan Fanis kembali menjadi sahabat yang utuh dan selalu menyambangi
tempat peristirahatanku seperti hari ini.
“Fy,
maafin gue fy, gue nggak tau kalo lo kayak gini maafin gue fy….” Ujar Fanis
sambil menangis tersedu-sedu.
“Yaudah
yuk kita pulang dulu, udah sore,” ajak Feri. Tapi Trian menolak, Trian memilih
tinggal dan akhirnya Feri dan Fanis pun meninggalkannya.
“Fy….
Maafin gue, maafin gue fy.. gue bodoh banget selama ini, gue nggak sadar kalau
lo ada di samping gue terus ngedampingin gue fy, fy gue nyesel… fy plis maafin
gue… gue nyesel udah pernah ninggalin lo saat lo butuh gue, padahal gue tau lo
selalu ada buat gue, maaf, maaf Fy.”
END