Pandji Pragiwaksono
Pandji mempunyai nama lengkap Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo. Namun biasa dipanggil dengan Pandji. Ia lahir di Singapura, 18 Juni 1979. Pandji adalah seorang presenter televisi, penyiar radio, standup comedian dan juga penulis buku. Pandji bersekolah di Playgroup Internasional di Kemang, TK dan SD di sekolah swasta yaitu TK dan SD Triguna, SMP 29 Jakarta dan salah satu alumnus SMA Kolase Gonzaga angkatan ke-8. Ia tercatat sebagai mahasiswa Prodi Desain Produk di Institut Tekhnologi Bandung angkatan 1997. Kini Ia aktif dalam legalitas ganja nasional.
Di tahun 2001-2003 Pandji adalah penyiar radio / Program Direktur Hard Rock FM Bandung. Selanjutnya ia menjadi penyiar Hard Rock FM Jakarta dari tahun 2004-2007. Ia juga pernah menjadi presenter reality show ”Kena Deh” yang di tayangkan TV7 pada tahun 2006-2007. Acara ini ditayangkan kembali di ANTV sejak 2008 hingga kini dan menjadi puncak kepopulerannya walaupun dengan acara ulangan. Pada tahun 2006 ia juga terlibat sebagai pemain ”Ngelenong Nyok” di transTV. Tidak hanya itu, Pandji juga sebagai presenter pertandingan NBA di JakTV, presenter acara ”backstreet” di SCTV, pada tahun 2006-2007. Menjabat sebagai presenter ”good news” transTV, presenter acara ”hole in the wall” di RCTI pun pernah dilakoninya dalam tahun 2007. Pada tahun 2009 sebagai presenter Bombastis di RCTI dan CasCisCus di ANTV. Pada tahun 2011 Pandji adalah presenter acara “1800” dan StandUp Comedy yang ditayangkan di kompas TV, presenter “Koq Bisa” di JakTV, dan pembawa acara provoactive proactive di MetroTV.
Banyak pemuda jaman sekarang yang justru benci dengan Indonesia, yang ingin pindah ke luar negeri, memperbaiki hidupnya di luar negeri, bersekolah di luar negeri. Hal ini menunjukkan perbedaan yang sangat drastis dengan kepribadian Pandji ini. Bukan, bukan karena pendidikan Indonesia saat ini masih terpuruk, namun ketika mereka bersekolah di luar negeri mereka pasti akan meninggalkan daerah asalnya dalam artian mereka tidak mau kembali lagi. Mereka akan menetap dan berganti kewarganegaraan di sana.
Pandji berpikir bahwa banyak sekali orang di Indonesia yang sebenarnya cinta terhadap Indonesia tetapi lingkungannya membuat mereka menahan diri karena takut dibilang sok, atau malah dibilang naif. ”Nggak mau pulang, nggak suka Indonesia. Katanya di sini infrastruktur kurang, pajak nggak jelas ke mana, jalanan rusak, public transportation buruk… Jepang dan Indonesia sama-sama dalam keadaan tidak baik di tahun (19)45, tapi kini Jepang melesat dan Indonesia masih begini-begini aja. Jepang penduduknya berapa sih? Seluas apa? Terbagi atas berapa pulau? Berapa banyak bahasa? Berapa banyak tradisi? Berapa banyak kultur? Berapa banyak kebutuhan? Di tahun 1945 Jepang memang mulai dari titik yang sama dengan Indonesia akibat bom Hiroshima dan Nagasaki yang merupakan lumbung beras mereka. Tapi sebelum itu? Jepang adalah penguasa dunia, mereka menguasai negara-negara termasuk Cina dan kita di Indonesia. Pengetahuan mereka dan kita jauh berbeda sebelum tahun 1945. Masalah di negara kita adalah kita yang berbeda pola pikirnya. Kita terlalu banyak terpisahkan. Itu adalah kenyataan. Berkat allah kita dipersatukan dengan bahasa yang sama atau boleh jadi kita tidak mempunyai pemimpin kuat. Saya tidak tahu. Tak ada yang dapat kami lakukan dengan menyalahkan masa lalu. Apa yang ada pada saat ini, jika kita tidak suka apa yang kami lihat hari ini, kami akan merubahnya.” Ini adalah kutipan dari Buku Nasional.Is.Me karya Pandji sendiri. Dan prinsip yang Pandji tanamkan dalam dirinya sampai saat ini yaitu melakukan sesuatu, mengambil tindakan, berkarya, untuk Indonesia, sebagai buah dari optimisme terhadap Indonesia. Ini adalah hal yang sangat luar biasa.
Di bekali dengan prinsip tersebut Pandji banyak tergabung dalam kelompok-kelompok sosial yang ada di Masyarakat. Salah satu diantaranya adalah ia tergabung dalam anggota C3 (COMMUNITY FOR CHILDREN WITH CANCER), yaitu yayasan yang bergerak untuk membantu anak anak penderita kanker yang datang dari keluarga tidak mampu. Bantuan versi pemerintah tentunya adalah Askeskin. Tapi itu tidak akan cukup. Apalagi askeskin tidak sampai memikirkan terapi psiko sosial yang dibutuhkan oleh anak anak kecil. Namun C3 disini membantu mereka secara psikologi maupun dengan uang. Dengan adanya C3, anak-anak yang menderita kanker akan merasa senang dan bersemangat untuk sembuh, hal ini terbukti efektif dalam mengatasi masalah tersebut.
Pandji juga adalah pendonor tetap. Awalnya, ia dapet kabar lewat SMS dari Tika Panggabean bahwa ada seorang Ibu yang butuh golongan darah O untuk anaknya hari itu juga. SMS itu memberi tahu nomor yang bisa dihubungi, maka Pandji menelfon. Ia dateng ke PMI dan mendonorkan darahnya. Berhubung badannya besar, maka ia diminta untuk memakai kantong baxter. Baxter adalah kantong dengan ukuran lebih besar dari rata rata kantong donor darah. Setelah hari dimana Pandji mendonorkan darahnya untuk Michelle, sejak itu rata rata per 3 bulan Pandji menjadi donor tetap untuk Michelle. Michelle adalah salah satu alasan terkuat Pandji untuk menjaga kesehatannya. Baik secara performa tubuh secara keseluruhan (kolesterol, tekanan darah, kelelahan, dll) ataupun dari sisi penyakit.
Dari sikap-sikap Pandji yang sangat sosialis itu menjadikan pelajaran penting bagi pemuda Indonesia jaman sekarang. Mereka jangan hanya menuntut perubahan, namun juga harus melakukan perubahan. Dari hal yang kecil saja, itu akan sangat berguna bagi Indonesia jika dimaksimalkan. Seperti Pandji yang tak kenal lelah, warga Indonesia harusnya berkepribadian seperti itu, berusaha untuk membangun Indonesia, bukan malah mengotori Indonesia.




