Rabu, 29 Februari 2012

Profil Pandji Pragiwaksono

Pandji Pragiwaksono

Pandji mempunyai nama lengkap Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo. Namun biasa dipanggil dengan Pandji. Ia lahir di Singapura, 18 Juni 1979. Pandji adalah seorang presenter televisi, penyiar radio, standup comedian dan juga penulis buku. Pandji bersekolah di Playgroup Internasional di Kemang, TK dan SD di sekolah swasta yaitu TK dan SD Triguna, SMP 29 Jakarta dan salah satu alumnus SMA Kolase Gonzaga angkatan ke-8. Ia tercatat sebagai mahasiswa Prodi Desain Produk di Institut Tekhnologi Bandung angkatan 1997. Kini Ia aktif dalam legalitas ganja nasional.

Di tahun 2001-2003 Pandji adalah penyiar radio / Program Direktur Hard Rock FM Bandung. Selanjutnya ia menjadi penyiar Hard Rock FM Jakarta dari tahun 2004-2007. Ia juga pernah menjadi presenter reality show ”Kena Deh” yang di tayangkan TV7 pada tahun 2006-2007. Acara ini ditayangkan kembali di ANTV sejak 2008 hingga kini dan menjadi puncak kepopulerannya walaupun dengan acara ulangan. Pada tahun 2006 ia juga terlibat sebagai pemain ”Ngelenong Nyok” di transTV. Tidak hanya itu, Pandji juga sebagai presenter pertandingan NBA di JakTV, presenter acara ”backstreet” di SCTV, pada tahun 2006-2007. Menjabat sebagai presenter ”good news” transTV, presenter acara ”hole in the wall” di RCTI pun pernah dilakoninya dalam tahun 2007. Pada tahun 2009 sebagai presenter Bombastis di RCTI dan CasCisCus di ANTV. Pada tahun 2011 Pandji adalah presenter acara “1800” dan StandUp Comedy yang ditayangkan di kompas TV, presenter “Koq Bisa” di JakTV, dan pembawa acara provoactive proactive di MetroTV.

Banyak pemuda jaman sekarang yang justru benci dengan Indonesia, yang ingin pindah ke luar negeri, memperbaiki hidupnya di luar negeri, bersekolah di luar negeri. Hal ini menunjukkan perbedaan yang sangat drastis dengan kepribadian Pandji ini. Bukan, bukan karena pendidikan Indonesia saat ini masih terpuruk, namun ketika mereka bersekolah di luar negeri mereka pasti akan meninggalkan daerah asalnya dalam artian mereka tidak mau kembali lagi. Mereka akan menetap dan berganti kewarganegaraan di sana.

Pandji berpikir bahwa banyak sekali orang di Indonesia yang sebenarnya cinta terhadap Indonesia tetapi lingkungannya membuat mereka menahan diri karena takut dibilang sok, atau malah dibilang naif. ”Nggak mau pulang, nggak suka Indonesia. Katanya di sini infrastruktur kurang, pajak nggak jelas ke mana, jalanan rusak, public transportation buruk… Jepang dan Indonesia sama-sama dalam keadaan tidak baik di tahun (19)45, tapi kini Jepang melesat dan Indonesia masih begini-begini aja. Jepang penduduknya berapa sih? Seluas apa? Terbagi atas berapa pulau? Berapa banyak bahasa? Berapa banyak tradisi? Berapa banyak kultur? Berapa banyak kebutuhan? Di tahun 1945 Jepang memang mulai dari titik yang sama dengan Indonesia akibat bom Hiroshima dan Nagasaki yang merupakan lumbung beras mereka. Tapi sebelum itu? Jepang adalah penguasa dunia, mereka menguasai negara-negara termasuk Cina dan kita di Indonesia. Pengetahuan mereka dan kita jauh berbeda sebelum tahun 1945. Masalah di negara kita adalah kita yang berbeda pola pikirnya. Kita terlalu banyak terpisahkan. Itu adalah kenyataan. Berkat allah kita dipersatukan dengan bahasa yang sama atau boleh jadi kita tidak mempunyai pemimpin kuat. Saya tidak tahu. Tak ada yang dapat kami lakukan dengan menyalahkan masa lalu. Apa yang ada pada saat ini, jika kita tidak suka apa yang kami lihat hari ini, kami akan merubahnya.” Ini adalah kutipan dari Buku Nasional.Is.Me karya Pandji sendiri. Dan prinsip yang Pandji tanamkan dalam dirinya sampai saat ini yaitu melakukan sesuatu, mengambil tindakan, berkarya, untuk Indonesia, sebagai buah dari optimisme terhadap Indonesia. Ini adalah hal yang sangat luar biasa.

Di bekali dengan prinsip tersebut Pandji banyak tergabung dalam kelompok-kelompok sosial yang ada di Masyarakat. Salah satu diantaranya adalah ia tergabung dalam anggota C3 (COMMUNITY FOR CHILDREN WITH CANCER), yaitu yayasan yang bergerak untuk membantu anak anak penderita kanker yang datang dari keluarga tidak mampu. Bantuan versi pemerintah tentunya adalah Askeskin. Tapi itu tidak akan cukup. Apalagi askeskin tidak sampai memikirkan terapi psiko sosial yang dibutuhkan oleh anak anak kecil. Namun C3 disini membantu mereka secara psikologi maupun dengan uang. Dengan adanya C3, anak-anak yang menderita kanker akan merasa senang dan bersemangat untuk sembuh, hal ini terbukti efektif dalam mengatasi masalah tersebut.

Pandji juga adalah pendonor tetap. Awalnya, ia dapet kabar lewat SMS dari Tika Panggabean bahwa ada seorang Ibu yang butuh golongan darah O untuk anaknya hari itu juga. SMS itu memberi tahu nomor yang bisa dihubungi, maka Pandji menelfon. Ia dateng ke PMI dan mendonorkan darahnya. Berhubung badannya besar, maka ia diminta untuk memakai kantong baxter. Baxter adalah kantong dengan ukuran lebih besar dari rata rata kantong donor darah. Setelah hari dimana Pandji mendonorkan darahnya untuk Michelle, sejak itu rata rata per 3 bulan Pandji menjadi donor tetap untuk Michelle. Michelle adalah salah satu alasan terkuat Pandji untuk menjaga kesehatannya. Baik secara performa tubuh secara keseluruhan (kolesterol, tekanan darah, kelelahan, dll) ataupun dari sisi penyakit.

Dari sikap-sikap Pandji yang sangat sosialis itu menjadikan pelajaran penting bagi pemuda Indonesia jaman sekarang. Mereka jangan hanya menuntut perubahan, namun juga harus melakukan perubahan. Dari hal yang kecil saja, itu akan sangat berguna bagi Indonesia jika dimaksimalkan. Seperti Pandji yang tak kenal lelah, warga Indonesia harusnya berkepribadian seperti itu, berusaha untuk membangun Indonesia, bukan malah mengotori Indonesia.

Minggu, 12 Februari 2012

Jeany's birthday

Haiiii :)
Tanggal 3 kemaren kan Jeany ultah tuh..
Nah, kita sebagai teman yang baik yang peduli sama dia kan kudu *wajib* ngerjain dia
Nah, jadi kita itu ke rumah dia. Ceritanya waktu itu dia mau lomba. Jam 1an kita ke rumah dia. Eh tapi tbtb hujan deras waktu kita lagi beli pentol. Aku, Ema, Ilma, sama Febby tetep berangkat ke Jeany meskipun ujan-ujan. Tapi si ditanya nggak berani. Takut dimarahin. Inilah foto-foto saat kita menyerbu jeany. Let's check it out!

Salahkah aku bila itu yang kumau?

Ada keindahan di sana
Dikelopak bola matamu
Ada keindahan disana
Disetiap tutur katamu
Nyaman, tenang
Selembut angin berhembus di pagi buta
Menusuk
Desiran-desiran angin itu
Membawaku terbang
Seolah padu padan akan rasa ini
Tiap melihatmu
Bersamamu
Melihat tawamu
Aku bahagia
Meskipun aku hanya gubuk reot
Yang setiap hari kau lalui
Sama sekali tidak untuk di singgahi
Tapi..
Aku menyukainya
Aku menikmatinya
Renyah tawamu
Bagai candu untukku
Ingin lagi dan lagi
Walaupun hanya sesaat
Tanpamu
Aku bukanlah siapa-siapa
Aku tahu, aku hanyalah pungguk yang merindukan bulan
Tapi...
Salahkah aku jika mengharapkanmu?
Salahkah aku bila itu yang kumau?

Lama Tak Jumpa

Hai blooooooog :)))
Maaf ya aku jarang membuka dan mengurusimu, soalnya lagi sibuk akhir-akhir ini.
Tapi sekarang aku udah mulai mau blogging lagi kok. Tenang aja.
Aree {{}}

Topeng

Rintik-rintik tangisan alam kian larut membasahi bumi. Keras, mengusik ketenangan jiwa.

***

“Hee chan ah, jangan pegang itu” seru seseorang dari dalam dapur rumah di gang sempit kompleks Mawar kota Jakarta. Hee chan pun segera menghentikan apa yang ia perbuat, takut kalau diomeli oleh majikannya lagi.

”Daripada kamu merusaknya, lebih baik kamu bantu Eomma memasak”, seru orang itu lagi, yang rupanya adalah Ibu dari Han Hee Chan. Hee chan pun segera berlari menuju dapur, mengiris ini itu sesuai perintah dari sang Eomma.

”Eomma, emang kita masak apa?”

”Nyonya besar minta kita masakin Sate kelinci spesial”

”Wahhh...”

”Kenapa Hee Chan ah?”

”Tak apa.. aku hanya ingat 3 tahun yang lalu”

”Sudahlah Hee Chan ah, tak usah kau pikirkan. Kamu tidak bahagia ya sekarang tinggal bersama Eomma mu disini? Kamu tidak senang jika Eomma hanya jadi pesuruh disini?”

”Bukan begitu Eomma”

”Eomma tahu perasaanmu. Eomma tahu betul itu. Tapi hee chan ah, ini semua takdir. Kita harus bisa menerima itu, kita juga harus bisa melewati itu. Hidup ini memang rumit Hee Chan ah. Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini”

***

Aku adalah Han Hee Chan. Ya, itu nama koreaku. Dulu aku lahir dan tinggal di Korea bersama keluarga besarku. Ayahku adalah seorang pilot dan ibuku adalah karyawan di salah satu perusahaan ternama di Korea. Dulu, keluargaku hidup mewah sekali. Akupun punya semuanya. Bahkan, jika aku meminta apapun aku tinggal tunjuk. Itu dulu, masa lalu. Tak seperti sekarang ini, mau apa-apa sulit. Bahkan, mau makan pun sulit. Ayahku sudah meninggal karena kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu. Untuk itu, ibuku memutuskan untuk mengajakku pindah di Indonesia saja. Lebih murah biaya hidupnya katanya. Di Indonesia ini ibuku bekerja sebagai PRT di salah satu kompleks di Jakarta. Sedangkan aku? Aku hanya ikut membantu ibuku sebisanya. Saat ini aku masih duduk di bangku SMA. Aku bersekolah di SMA Nusa Bangsa. Bukan sekolah Elite, bukan juga sekolah favorite. Memang, bukannya sombong, tetapi saat di korea dulu, aku adalah siswa yang agak cerdas. Bisa dibilang juga jagoan kelas. Di sekolah aku biasa dipanggil Jeany.

***

”Jean, kamu mau ikut kita nggak?” tanya teman-teman padaku.

”Kemana?” tanyaku balik.

”Ke Mall”

”Enggak ah, nanti aku mau les” jawabku rada gugup.

”Yah, yaudah deh. Tapi besok minggu kita boleh nggak ke rumahmu?”

”HAH?!” jawabku cepat. Enggak mereka nggak boleh ke rumahku, pikirku cepat.

”Nggak usah kaget gitu dong, emang kenapa kalo kita ke rumahmu? Enggak ada masalah kan?” tanya temanku mendesak.

”Maaf ya teman-teman, hari minggu nanti aku mau pergi. Diajak liburan sama Ibuku heheh” sedikit berbohong memang, tapi.. ya sudahlah.

”Yaaaaah” mereka pun pergi meninggalkanku.

”Huh, hampir saja” desahku.

Untung saja mereka tidak memaksaku untuk ke rumah. Jika iya? Bisa gawat. Bisa terbongkar semuanya. Memang disekolah aku adalah Jeany dan bukan Han Hee Chan. Jadi, suka-suka aku mau jadi siapa. Mau jadi anaknya pak menteri kek, pak presiden kek, terserah. Aku berbuat karena aku berani bertanggung jawab.

***

Aku pulang sekolah berjalan kaki, karena memang jarak rumah majikanku dengan sekolah tidak begitu jauh. Hanya sekitar 1 km. Aku berjalan gontai. Eh tapi kenapa firasatku tidak enak? Aku menengok ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Mungkin hanya firasat saja. Aku berjalan lebih cepat, dan untuk kesekian kalinya aku menengok ke belakang lagi. Tak ada siapa-siapa juga. Aku memutuskan untuk mengecoh firasatku itu dengan berlari dan masuk ke salah satu gang. Huh semoga saja firasatku salah. Saat aku baru mau kembali lagi ke jalan yang seharusnya aku lewati, aku terperangah. Aku kaget melihat seseorang di seberang sana. Dia putih, tinggi. Nampaknya sih kakak kelas. Dengan sigap aku pun membaca bet nama-nya. Ahmad Iwari. Eh? Kayaknya aku pernah kenal. Tampaknya juga dia sedang kelelahan. Dia juga kebingungan mencari-cari seseorang. Ah? Apakah itu aku? Tanyaku dalam hati. Ah jangan pd dulu, bantah hatiku. Aku pun dengan mental sok berani menghampirinya.

”Nyari siapa kak?” tanyaku sopan.

”Kamu? Han Hee Chan kan?”

”Loh? Kok kakak tahu?”

”Kamu nggak inget sama aku?”

”Kakak siapa?”

”Aku Park Eun Hyuk”

”Park... Eun Hyuk? Loh?” tanyaku sedikit bingung.

”Iya, sekarang aku pindah ke Indonesia, demi kamu dan Ibumu”

”Loh?” aku semakin bingung.

”Ikut aku” aku hanya menurut saja, dan mengekor dibelakangnya. Park eun hyuk mengajakku ke sebuah taman kecil di pinggir kompleks.

”Hee Chan ah, bagaimana hidupmu disini? Kau betah tinggal disini?”

”Hah? Hahahah ya begini lah”

”Hee chan ah, aku mohon. Aku mohon sekali. Tolong jangan berpikir pendek”

”Apa maksud kamu?!”

”Aku tahu Hee Chan ah, kamu selama ini banyak berbohong”

”Apa? Kamu tahu apa?”

”Kamu selama ini bohong kan sama teman-temanmu, kamu bohong kan kalau selama ini kamu adalah anaknya orang kaya, hidupmu mewah. Itu dulu Hee Chan ah, tolong, sadarlah!”

”Apa urusanmu?!”

”Aku peduli padamu”

”Kenapa? Kau tidak suka? Suka-suka aku dong. Disini aku Jeany, bukan Han Hee Chan. Jeany adalah anak orang kaya, tidak seperti Han Hee Chan, anak orang melarat yang nggak punya apa-apa”

”Diam Han Hee Chan-ssi! Kenapa kau sekarang jadi begini? Papamu pasti sangat kecewa padamu. Kenapa sekarang kau jadi gadis liar seperti ini? Topeng! Kau hanya menutupi dirimu dengan topeng! Buruk! Picik sekali kau rupanya!”

”Kau yang diam. Aku begini karena aku capek! Aku capek dengan ketidak cukupanku”

”Aku tahu, pasti kau masih tidak terima saat papamu meninggal di kecelakaan itu”

”Iya, dan itu semua gara-gara kau!”

”Aku? Ini takdir Hee Chan ah, buka matamu. Semuanya sudah berubah. Berubah 180 derajat bahkan! Tolong, jangan seperti ini, papamu pasti kecewa melihatmu seperti ini!”

”Sudah diam, kau tidak tahu apa-apa tentang papa!!!” mataku mulai perih, kabur, semakin kabur dan akhirnya keluarlah tetesan bening yang membuat anak sungai di pipi chabiku.

”Hapus air matamu itu! Aku tidak suka melihatmu menangis! Tolonglah jika kau mau berubah pasti hidupmu akan lebih baik”

”Siapa kau berani-beraninya menasehatiku?”

”Aku ini sahabatmu Hee Chan ah”

”Sahabat?”

”Tolonglah, kau berubah. Demi aku, SAHABATMU. Tolong jangan pakai topeng busuk itu lagi. Tanpa topeng itu, kau akan lebih terlihat sempurna. Tidak akan teman-temanmu menjauhimu hanya gara-gara kau seperti itu. Justru mereka malah akan semakin sayang padamu jika kau itu apa adanya. Bukan yang picik seperti ini! Dan kau tahu itu!!!”

Seolah mempunyai ikatan batin, hujan pun turun, deras, deras sekali. Membuat sakit yang terkenainya. Termasuk 2 anak manusia yang sedang berdebat tentang pilihan. Ya, hidup itu pilihan. Jika kau memilih sesuatu maka kau harus mempertanggung jawabkannya. Dan sebelum jatuh tiba pilihanmu, pikirlah 2 kali. Jangan sampai kau merasa menyesal telah memilih apa yang tidak kamu inginkan. Memilih yang justru akan menyakiti dirimu sendiri. Menutupinya dengan kebohongan.

END