Rintik-rintik tangisan alam kian larut membasahi bumi. Keras, mengusik ketenangan jiwa.
***
“Hee chan ah, jangan pegang itu” seru seseorang dari dalam dapur rumah di gang sempit kompleks Mawar kota Jakarta. Hee chan pun segera menghentikan apa yang ia perbuat, takut kalau diomeli oleh majikannya lagi.
”Daripada kamu merusaknya, lebih baik kamu bantu Eomma memasak”, seru orang itu lagi, yang rupanya adalah Ibu dari Han Hee Chan. Hee chan pun segera berlari menuju dapur, mengiris ini itu sesuai perintah dari sang Eomma.
”Eomma, emang kita masak apa?”
”Nyonya besar minta kita masakin Sate kelinci spesial”
”Wahhh...”
”Kenapa Hee Chan ah?”
”Tak apa.. aku hanya ingat 3 tahun yang lalu”
”Sudahlah Hee Chan ah, tak usah kau pikirkan. Kamu tidak bahagia ya sekarang tinggal bersama Eomma mu disini? Kamu tidak senang jika Eomma hanya jadi pesuruh disini?”
”Bukan begitu Eomma”
”Eomma tahu perasaanmu. Eomma tahu betul itu. Tapi hee chan ah, ini semua takdir. Kita harus bisa menerima itu, kita juga harus bisa melewati itu. Hidup ini memang rumit Hee Chan ah. Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini”
***
Aku adalah Han Hee Chan. Ya, itu nama koreaku. Dulu aku lahir dan tinggal di Korea bersama keluarga besarku. Ayahku adalah seorang pilot dan ibuku adalah karyawan di salah satu perusahaan ternama di Korea. Dulu, keluargaku hidup mewah sekali. Akupun punya semuanya. Bahkan, jika aku meminta apapun aku tinggal tunjuk. Itu dulu, masa lalu. Tak seperti sekarang ini, mau apa-apa sulit. Bahkan, mau makan pun sulit. Ayahku sudah meninggal karena kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu. Untuk itu, ibuku memutuskan untuk mengajakku pindah di Indonesia saja. Lebih murah biaya hidupnya katanya. Di Indonesia ini ibuku bekerja sebagai PRT di salah satu kompleks di Jakarta. Sedangkan aku? Aku hanya ikut membantu ibuku sebisanya. Saat ini aku masih duduk di bangku SMA. Aku bersekolah di SMA Nusa Bangsa. Bukan sekolah Elite, bukan juga sekolah favorite. Memang, bukannya sombong, tetapi saat di korea dulu, aku adalah siswa yang agak cerdas. Bisa dibilang juga jagoan kelas. Di sekolah aku biasa dipanggil Jeany.
***
”Jean, kamu mau ikut kita nggak?” tanya teman-teman padaku.
”Kemana?” tanyaku balik.
”Ke Mall”
”Enggak ah, nanti aku mau les” jawabku rada gugup.
”Yah, yaudah deh. Tapi besok minggu kita boleh nggak ke rumahmu?”
”HAH?!” jawabku cepat. Enggak mereka nggak boleh ke rumahku, pikirku cepat.
”Nggak usah kaget gitu dong, emang kenapa kalo kita ke rumahmu? Enggak ada masalah kan?” tanya temanku mendesak.
”Maaf ya teman-teman, hari minggu nanti aku mau pergi. Diajak liburan sama Ibuku heheh” sedikit berbohong memang, tapi.. ya sudahlah.
”Yaaaaah” mereka pun pergi meninggalkanku.
”Huh, hampir saja” desahku.
Untung saja mereka tidak memaksaku untuk ke rumah. Jika iya? Bisa gawat. Bisa terbongkar semuanya. Memang disekolah aku adalah Jeany dan bukan Han Hee Chan. Jadi, suka-suka aku mau jadi siapa. Mau jadi anaknya pak menteri kek, pak presiden kek, terserah. Aku berbuat karena aku berani bertanggung jawab.
***
Aku pulang sekolah berjalan kaki, karena memang jarak rumah majikanku dengan sekolah tidak begitu jauh. Hanya sekitar 1 km. Aku berjalan gontai. Eh tapi kenapa firasatku tidak enak? Aku menengok ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Mungkin hanya firasat saja. Aku berjalan lebih cepat, dan untuk kesekian kalinya aku menengok ke belakang lagi. Tak ada siapa-siapa juga. Aku memutuskan untuk mengecoh firasatku itu dengan berlari dan masuk ke salah satu gang. Huh semoga saja firasatku salah. Saat aku baru mau kembali lagi ke jalan yang seharusnya aku lewati, aku terperangah. Aku kaget melihat seseorang di seberang sana. Dia putih, tinggi. Nampaknya sih kakak kelas. Dengan sigap aku pun membaca bet nama-nya. Ahmad Iwari. Eh? Kayaknya aku pernah kenal. Tampaknya juga dia sedang kelelahan. Dia juga kebingungan mencari-cari seseorang. Ah? Apakah itu aku? Tanyaku dalam hati. Ah jangan pd dulu, bantah hatiku. Aku pun dengan mental sok berani menghampirinya.
”Nyari siapa kak?” tanyaku sopan.
”Kamu? Han Hee Chan kan?”
”Loh? Kok kakak tahu?”
”Kamu nggak inget sama aku?”
”Kakak siapa?”
”Aku Park Eun Hyuk”
”Park... Eun Hyuk? Loh?” tanyaku sedikit bingung.
”Iya, sekarang aku pindah ke Indonesia, demi kamu dan Ibumu”
”Loh?” aku semakin bingung.
”Ikut aku” aku hanya menurut saja, dan mengekor dibelakangnya. Park eun hyuk mengajakku ke sebuah taman kecil di pinggir kompleks.
”Hee Chan ah, bagaimana hidupmu disini? Kau betah tinggal disini?”
”Hah? Hahahah ya begini lah”
”Hee chan ah, aku mohon. Aku mohon sekali. Tolong jangan berpikir pendek”
”Apa maksud kamu?!”
”Aku tahu Hee Chan ah, kamu selama ini banyak berbohong”
”Apa? Kamu tahu apa?”
”Kamu selama ini bohong kan sama teman-temanmu, kamu bohong kan kalau selama ini kamu adalah anaknya orang kaya, hidupmu mewah. Itu dulu Hee Chan ah, tolong, sadarlah!”
”Apa urusanmu?!”
”Aku peduli padamu”
”Kenapa? Kau tidak suka? Suka-suka aku dong. Disini aku Jeany, bukan Han Hee Chan. Jeany adalah anak orang kaya, tidak seperti Han Hee Chan, anak orang melarat yang nggak punya apa-apa”
”Diam Han Hee Chan-ssi! Kenapa kau sekarang jadi begini? Papamu pasti sangat kecewa padamu. Kenapa sekarang kau jadi gadis liar seperti ini? Topeng! Kau hanya menutupi dirimu dengan topeng! Buruk! Picik sekali kau rupanya!”
”Kau yang diam. Aku begini karena aku capek! Aku capek dengan ketidak cukupanku”
”Aku tahu, pasti kau masih tidak terima saat papamu meninggal di kecelakaan itu”
”Iya, dan itu semua gara-gara kau!”
”Aku? Ini takdir Hee Chan ah, buka matamu. Semuanya sudah berubah. Berubah 180 derajat bahkan! Tolong, jangan seperti ini, papamu pasti kecewa melihatmu seperti ini!”
”Sudah diam, kau tidak tahu apa-apa tentang papa!!!” mataku mulai perih, kabur, semakin kabur dan akhirnya keluarlah tetesan bening yang membuat anak sungai di pipi chabiku.
”Hapus air matamu itu! Aku tidak suka melihatmu menangis! Tolonglah jika kau mau berubah pasti hidupmu akan lebih baik”
”Siapa kau berani-beraninya menasehatiku?”
”Aku ini sahabatmu Hee Chan ah”
”Sahabat?”
”Tolonglah, kau berubah. Demi aku, SAHABATMU. Tolong jangan pakai topeng busuk itu lagi. Tanpa topeng itu, kau akan lebih terlihat sempurna. Tidak akan teman-temanmu menjauhimu hanya gara-gara kau seperti itu. Justru mereka malah akan semakin sayang padamu jika kau itu apa adanya. Bukan yang picik seperti ini! Dan kau tahu itu!!!”
Seolah mempunyai ikatan batin, hujan pun turun, deras, deras sekali. Membuat sakit yang terkenainya. Termasuk 2 anak manusia yang sedang berdebat tentang pilihan. Ya, hidup itu pilihan. Jika kau memilih sesuatu maka kau harus mempertanggung jawabkannya. Dan sebelum jatuh tiba pilihanmu, pikirlah 2 kali. Jangan sampai kau merasa menyesal telah memilih apa yang tidak kamu inginkan. Memilih yang justru akan menyakiti dirimu sendiri. Menutupinya dengan kebohongan.
END
yaampun mas ganteng kan harusnya nembak jeany wkwk
BalasHapusditunggu yang kyuchan yap ;p