Sabtu, 28 Juni 2014

Di dalam Ketegaran Semu


Liburan kali ini aku belajar, tentang apa arti kekuatan sesungguhnya. Pun sebaik-baiknya kamu menutupi kelemahanmu dengan kekuatanmu, semua tetap akan terungkap. Seperti malam ini. Malam yang membuat aku paham apa arti ketegaran dan cara mengemas itu semua.
Kau sungguh hebat. Berulang kali kau menutupi hal ini dengan sangat cantik. Kalau malam ini kau tidak menceritakan hal ini padaku, mungkin aku tidak akan pernah tahu betapa hebatnya dirimu. Kau begitu tegar, ini kisah lama. Tapi kau tidak pernah menampakkan hal itu sama sekali. Bagaimana cara agar bisa melakukannya? Sungguh aku ingin belajar. Aku benar-benar kagum. Bagaimana bisa seseorang seperti dirimu mengatur beban yang sangat banyak yang ada dalam dirimu. Mungkin, inilah idealnya seorang pemimpin.
Pemimpin. Kau tidak ingin melihat anggotamu sedih karenamu, karena masalah pribadimu. Kau berhasil menyembunyikannya. Kau juga tidak ingin melibatkan orang-orang disekitarmu untuk masuk kedalam masalahmu. Diluar kau kelihatan begitu kokoh. Kau kuat. Tapi, semenjak malam ini aku paham, kau tidak sepenuhnya kokoh. Ya mungkin di luar kau begitu kokoh, tapi di dalam, kau rapuh.
Jujur, aku sendiri menangis ketika kau menceritakannya. Dan mungkin sebaik-baiknya aku menyembunyikan tangisanku itu, kau tetap tahu. Hingga akhirnya kau menyudahi kisah ini. Aku tahu kau tidak ingin aku berlarut-larut dalam kesedihan ceritamu.
Bagaimana bisa seorang anak yang jauh dari orang tuanya begitu tegar saat mendengar bahwa kini, ayahnya sudah tiada. Aku ingat betul, ketika liburan tiga hari dulu, kau pernah cerita. Kau begitu menggebu-nggebu cerita mengenai sosok ayahmu. Kau sangat kagum dengan ayahmu. Dan kau bilang, bahwa “aku telah berjanji pada ayahku, liburan semester 2 ini, aku akan tetap berada di rumah, aku akan menjaga ayahku”. Dan kini, seminggu sebelum liburan tiba, ayahmu sudah pergi meninggalkanmu. Bagaimana perasaanmu ketika kau diharuskan untuk mengikuti pelatihan ini itu, ayahmu sedang dalam kondisi yang buruk, ia diharuskan untuk operasi. Mungkin ketika aku yang berada dalam posisi itu, aku ingin segera pulang. Tapi kau tidak. Kau tetap menjalaninya dengan tenang. Bagaimana mungkin seorang anak ketika ditelfon orang tuanya untuk segera pulang saat ini juga, menampilkan keadaan di depan bahwa “ya aku baik-baik saja”.
Kau bilang, 2 minggu ketika kau dipaksa pulang, kau selalu menemani ayahmu di Rumah Sakit. Dan kau juga bilang, ayahmu ingin selalu berada disisimu. Bahkan ketika kau akan kembali ke Surabaya, kau bilang ayahmu menangis. Tidak rela kau kembali ke kota perantauanmu secepat ini dan ingin agar kau cepat-cepat pulang lagi. Ini adalah momen terakhir kali kau bicara pada ayahmu. Kau lalu bilang, ketika kau kembali untuk menuntut ilmu, ayahmu tidak mau makan dan berbicara lagi. Kau selalu bilang di telfon untuk menyuruh beliau makan, “buat apa minum obat jika tidak makan”. Dan kurang dari satu bulan setelah kau kembali ke kota perantauan, kau mendengar telfon. Di pagi buta setelah bangun, kau diberitahu bahwa kondisi ayahmu sedang benar-benar buruk. Ayahmu tidak berbicara sama sekali. Dengan kondisi sekujur badannya yang dingin. Banyak orang yang mengerubungi ayahmu sambil membacakan yasin. Dan kau di suruh pulang saat ini juga ketika semua final project harus kau tempuh.
Kau mencoba mengajak bicara ayahmu di telfon, namun yang di katakana ibumu adalah “tuntunlah ayahmu membaca syahadat nak”. Seperti petir yang menyambar sangat cepat, kau segera menuntunnya, kau meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah kau lakukan selama ini. Dan kau, tidak akan pernah berbicara dengannya lagi. Bahkan, tidak pernah bertemunya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar