Sabtu, 17 September 2011

SAMPAH

Dibuang

Diinjak-injak

Bahkan melihat saja jijik

Seperti yang tadi ku katakan

SAM-PAH

Yang sama sekali tak berguna

Eits...... Itu menurutmu

SAM-PAH

Ya.. SAMPAH memang sisa-sisa dari barang-barang yang kita gunain

Sampah juga memang sesuatu hal yang

Ieuuuuh... BUSUK

Sampah pun biasa ditelantarkan orang sembarangan

Sampah juga bisa menyebabkan gangguan alam

Hmm... Sampah sampah

Hal menjijikkan yang membuat banyak orang sengsara

Gimana tidak sengsara?

Tak seorangpun menghiraukan kita kan?

Aku........ dan sampah

Tapi coba diliat

Tanpa sampah? Dunia bisa bersih

Bisa mengurangi polusi lingkungan

MEMANG!

Tapi apa mungkin di dunia ini tanpa sampah?

Setiap barang yang kita konsumsi aja menghasilkan sampah kan?

Itu tandanya.... Sampah juga penting buat keseimbangan lingkungan

Asaaaal..........

Gunainnya aja yang harus kompeten

Buktinya ada kan barang-barang limbah dari sebuah SAM-PAH?!

Bahkan harganya pun bisa mahaaaaaaaal

Melebihi mahal barang baru malah

SAMPAH juga nggak selamanya nyemarin lingkungan kok?!

Coba sampahnya dibuang di tempat sampah

Nggak bakal buat banjir jakarta kan?

SAMPAH juga berguna tau buat kita

Makanya.....

Jangan ngeremehin sampah

Meskipun sampah itu menjijikkan, baunya busuk

Tapi toh buktinya? Lebih menjual kan.......

Minggu, 04 September 2011

Kekecewaanku Itu Palsu

Cerpen ini sebenernya Cuma curahan hati saya aja sih -_-. Tapi ga semuanya juga kok. Maaf juga kalau judulnya gak nyambung. Soalnya gap inter bikin judul sih -_-. Yaudah let’s check it out  oh iya sebelumnya cerita ini special for my dearest best friend SHELLA DESICA and YUNITA DWI RUSTINA
KEKECEWAANKU ITU PALSU
Malam kian larut. Jarum jam yang bertengger di dinding kamarku pun kian lincah berlarian menuju angka 12. Sebuah malam yang sangat berarti untukku. Dalam hidupku. Teng teng teng, jam dindingku pun mulai mengeluarkan suara lantang, pertanda bahwa sekarang sudah tengah malam. Malam 09 Mei 2011. Ya, mulai detik ini, usiaku sudah mulai bertambah, menandakan bahwa umurku semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Aku segera mencari-cari hp-ku. Ku telusuri setiap sisi kamar bernuansa ungu muda ini. Kucari-cari dibawah bantal, tapi tidak ada. Aku berusaha mengingatnya dan “AHA!” di saku ternyata. Ya, tadi aku menaruhnya di saku, mengapa aku bisa lupa hal sesepele ini? Ah, aku tidak begitu memikirkannya. Setelah ku temukan hp-ku, pun aku segera mencari aplikasi browser yang dapat langsung terhubung ke dunia maya. Aku pun segera login di salah satu social network dengan lambang burung berkicau. “NOW IS MY BIRTHDAY, YEAAAH \m/” aku pun mengupdate demikian setelah aku berhasil masuk ke dunia burung perkicauan ini.
Jarum jam sudah bergerak 2 menit dari pukul 12 malam. Tapi aku masih berniat untuk begadang. Aku belum berminat untuk istirahat menghilangkan lelahku untuk saat ini. Aku segera membuka mentionku. Terdapat beberapa twit dari sahabat-sahabatku.
Karenish : HAPPY BIRTHDAY MY BESTFIEND @Jesjessi semoga kita cepat dipertemukan ya :’)
Hahahah aku tertawa membacanya. Ya, sahabatku ini memang tinggal sangat jauh dari rumahku. Berates-ratus kilometer jarak kita terpisahkan.
Jesjessi : @karenish AAAAA thank you sayangggg :* ajegile doanya -_-
Kira-kira demikian balasanku untuk twit karen tadi.
Nirinin : @jesjessi HAPPY BIRTHDAY MY shity (?) TWIN, best wishes for you :*
Jesjessi : @Nirinin thankyou tanteeeeeeeeeeeeeee :* amin amin 
Defhh : @Jesjessi HAPPY BIRTHDAY Si, best force for you 
Jesjessi : THANK YOU DEEEE ) RT @Defhh: @jesjessi HAPPY BIRTHDAY Si, best force for you
Emmm…… hanya itu yang masuk dalam mentionku, aku agak kecewa sebenarnya.. karena sahabatku yang lainnya apa tidak ingat dengan hari bersejarahku ini? Yah tidak apalah, aku menunggu saja, jujur aku sangat berharap mereka mengucapkan hb kepadaku, meskipun hanya ‘HB’.
Aku memutuskan untuk keluar dari social network itu dan kulihat terdapat beberapa messege received di inbox ku.
From : Tanteku sayang :*
HAPPY BIRTHDAY TO YOU…. HAPPY BIRTHDAY DEAR :*
From : Mmih :*
HAPPY BIRTHAY IBUUUUUU… best wishes for you <3
“Sial” umpatku pelan.. ya, mungkin aku agak emosi saat ini. Bukan agak sih, tapi sudah. Jarrum jam pun sudah menunjukkan pukul 1.00. daripada aku emosi, lebih baik aku memutuskan untuk tidur.
Mungkin hanya secuil orang yang mengucapkan kalimat –yang menurutku- sakral itu padaku hari ini, tapi itu tidak masalah bagiku. Aku cukup senang karena masih ada orang yang ingat dengan ulang tahunku hari ini. Aku sempat berfikir juga, setidak berharga itukah aku di depan mereka? Mereka yang selama ini menjadi teman baikku, bahkan sudah kuanggap menjadi keluargaku? Ya, aku cukup tau diri. Aku bukan siapa-siapa. Aku juga tidak mempunyai keahlian yang menonjol, sehingga tidak di ingat oleh mereka. Aku benci mereka. Padahal, saat mereka butuh aku siap ada, dan saat aku butuh? Kenapa mereka tidak ada. Aku benci mereka, sangat benci. Tapi.. jujur dalam hatiku yang paling dalam, tak bisa dipungkiri bahwa aku sangat kecewa. Sangat kecewa.
Mungkin aku orang yang bodoh.. merasa bahwa diriku tidak penting, dan tidak di anggap orang lain. Tapi memang itu yang aku rasakan. Aku benar-benar merasa kesepian di saat-saat seperti ini. Tapi bukankan aku harusnya bersyukur? Bersyukur karena aku masih mempunyai keluarga yang sangat menyayangiku, bersyukur karena sahabat-sahabat ku yang selalu ada di saat aku senang maupun sedih, bersyukur karena masih bisa menikmati indahnya dunia saat ini. Hey… harusnya aku tidak boleh terpuruk kan hanya gara-gara ‘mereka’ yang lupa dengan ulang tahunku? Toh juga bukan hanya ‘mereka’ kok temanku didunia ini. Sangat bodoh jika aku berfikiran seperti itu.
Aku juga sempat envy ketika ada orang lain yang terlihat sangat akrab dengan temanku. Tapi kenapa temanku itu begitu tidak menganggapku. Bahkan, saat ulang tahunku seperti ini ia hanya meng-smsku. Sedangkan jika orang lain itu yang ulang tahun? Mungkin dia akan mengucapkannya lewat sms, twitter, maupun facebook sekaligus. Tapi kenapa hanya sms kalau aku yang ulang tahun? Aku berpikir geram. Apakah masih layak disebut seorang ‘teman’, aku juga tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Hey… itu kehidupannya, bukan kehidupanmu. Terserah dong dia mau ngelakuin apa aja.. kamu nggak punya hak bukan ngelarang dia berteman sama siapa aja… lagi-lagi hati kecilku memberontak, menyadarkanku akan semua hal ini.
Tapi kenapa… kenapa aku selalu tidak dianggap? Sehina itukah aku? Kenapa hidupku ini begitu miris? Kenapa? Kenapa pula SAUDARAku yang datang ke rumahku hari ini juga tidak ingat dengan ulang tahunku? Padahal dia selalu membuka facebook, harusnya di berandanya kan ada namaku saat aku ulang tahun hari ini. Dan kenapa dia begitu tidak mempedulikanku? Kenapa? Bahkan mengajak ku ngobrol saja tidak. Oh, what a nice attitude. Jujur, hatiku saat ini seperti sedang ditusuk-tusuk oleh pisau. Hatiku menjerit, menangis meratapi nasibku saat ini. Tidak, bukan hanya hatiku, cairan bening dari mataku pun saat ini sudah hampir kering. Mungkin habis untuk menangis sedari tadi. Ya allah… aku benci hari ini. Aku benci semuanya…… Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku? Aku hanya seorang gadis lemah, cengeng serta manja. Apa aku kuat untuk menghadapi ini semua? Ah mungkin terlalu lebay kalau aku berkata seperti itu. SAKIT HATI, ya itu yang lebih tepat untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini.
Tok tok..
Aku mendengar bunyi kamarku diketuk. Aku yang sedari tadi berusaha memejamkan mata pun mulai tersulut lagi. “Siapa sih, ganggu orang aja”, ujarku ngedumel sambil membuka pintu kamarku. “Oh elo, ngapain lo kesini?” tanyaku dengan nada datar, sejujurnya aku sangat malas untuk bertemu orang hari ini
“Kenapa? Ga boleh ya gue main kesini?” ujarnya santai
“Boleh, tapi hari ini gue lagi males”
“Yailah cantiik, jelek deh kalau ngambek. Cepet tua loh marah-marah mulu” ujarnya
“Apaan sih? Gue tutup nih pintunya kalau lo bawel? Buruan ada apaan?”
“Tar sore ikut gue yuk?”
“Kemana?”
“Taman”
“Ngapain?”
“Nyulik elo, ya main laaaaaaaaaaah”
“Ga ah, males”
“Yaudah ga gue kasih hadiah loh”
“Apaan emang?”
“Ada deeeeeeeh, makanya ikut yuk”
***
Sore ini, langit begitu tampak menawan dengan semburat jingganya yang tertorehkan selaras dengan awan putih gembul di angkasa. Begitu serasi dengan seorang cowok berpostur tinggi putih yang sangat gagah, dengan rambutnya yang khas bermodel acak-acakan. Begitu serasi dengan dandanannya yang terkesan sedikit urakan namun masih dalam batas sopan.
Lain halnya dengan gadis manis berlesung pipit yang sedang duduk menata dirinya sejak 5 menit lalu, berpatut di depan sebuah cermin besar berwarna coklat gelap. Ia menggunakan setelan t-shirt ungu muda dipadukan dengan celana jeans selutut dengan cardigan senada dengan warna jeansnya. Gadis itu tampak agak murung. Mungkin gara-gara emosinya masih meluap-luap. Gadis itu…………..aku.
Aku sedang berusaha mengatur emosiku agar nanti ketika aku ke taman aku tak melampiaskannya kepada sepupuku. Sepupuku yang sudah repot-repot mengajakku.
Setelah kurasa selesai, aku segera turun dari kamarku yang berada di lantai dua ini. Aku menunggunya sambil menonton salah satu acara komedi di stasiun televisi swasta di Indonesia. Ya, dengan menonton komedi mungkin mood ku akan menjadi lebih baik.
Hampir setengah jam lebih aku menunggu, kulirik sedikit jam yang ada di tanganku. Pukul 4.07. padahal ia janji akan menjemputku pukul setengah 4. Aku mulai bosan, bersamaan dengan itu..
“Hey..”
“Kenapa jam segini baru dateng? Jamuran kali nungguinnya”
“Ngambek mulu ih”
“Ya lagian udah tau gue orangnya on time, kenapa di suruh nunggu?”
“Yaudah daripada bawel berangkat sekarang aja yuk”
Aku tidak menjawab. Aku lebih memilih untuk keluar dari rumah –mama papa tidak ada dirumah- dan meninggalkannya yang ternyata malah mengekor dibelakangku.
“Ngapain naik mobil?” tanyaku
“Masa udah dandan keren-keren giini disuruh jalan kaki sih hehe” katanya nyengir
“Biarin wlee” ujarku memeletkan lidah
Rey, sepupuku pun langsung menancap gas, membiarkan spidometernya melambung menaiki angka-angka normal yang biasa digunakan oleh para pengemudi. Setengah jam perjalanan, kami pun tiba di tempat tujuan kami, di taman kota. Memang, jaraknya terbilang agak jauh dari rumahku yang terletak di pinggiran. “Sampai”, ujarnya sambil tersenyum kepadaku. “Turun yuk”, ujarnya lagi. Aku hanya mengangguk.
***
Di taman kami hanya diam sedari tadi. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Suasana disini tampak begitu….. kikuk. Hanya bunyi deratan ayunan tua yang meronta-ronta ketika ku naiki.
“Rey…” ujarku membuka suara
“Ya?” tanyanya
“Lo ngapain ngajak gue kesini kalo kita cuma diem-dieman begini?”
“Gue lagi sibuk Si, maaf ya hehe” jawabnya
“Oh” jawabku malas
“Jangan ngambek dong”
“Ga”
“Tuh kan ngambek”
“Engga”
“Si, jangan ngambek dong, jelek tau”
“Abisnya……..”
“Maaf deh maaf”
“Ga gue maafin”
“Yaudah, gue tinggal pulang”
“Iya deh iya..”
Suasana kembali hening. Dari pada suasananya tidak enak begini, aku berfikir untuk memutari taman saja. Ninggalin si kunyuk satu itu disini. Diam-diam aku melangkahkan kakiku meninggalkan Rey yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya.
“Jessi, lo mau kemana?” tanyanya, mungkin dia menyadari kepergianku tadi
“Pergi, abisnya gue dikacangin mulu”
“Lo orang kok, bukan kacang”
“Nah kan, mulai deh”
“Biarin”
“….”
“Kok diem lagi sih? Katanya ga mau dikacangin?”
“Ehm Rey…….. Lo lupa ya hari ini hari apa?”
“Hari Rabu kan”
Aku melengos, “Bukan itu yang gue mau Rey” ujar ku lirih, pelan sekali
“Oh”
“Yailah ngambek lagi”
“Rey…….”
“Hm?”
“Kenapa sih orang-orang ga nganggep gue? Ga mentingin gue? Bahkan di hari seperti ini mereka juga ga inget hari apa? Kenapa sih Rey mereka semua jahat sama gue?”
“Ga ada yang lupa kok”
“Buktinya elo lupa kan..”
“Gue gak lupa kok, hari ini hari Rabu kan?” ujarnya
“….” Aku memilih diam tak bersuara
“Emang penting banget ya Si, buat lo hari ini?”
“Penting lah…”
“Kenapa harus penting”
“Ya penting aja…”
“Harusnya lo sedih dong, kan itu tandanya umur elo terus berkurang”
“Tapi kan gue harus bersyukur karena gue masih dikasih kesehatan sama Allah, gue masih dikasih kehidupan”
“Dengan cara apa lo bersyukur?”
Aku terdiam. Diam karena memang aku tidak tau mau menjawab apa. Ya selama ini, apa pernah aku bersyukur kepada-Nya? Kapan terakhir kali aku mengucap syukur pun aku sudah lupa. Mungkin waktu pelajaran agama ketika sd dulu.
“Kenapa diem? Lo gatau ya caranya bersyukur?”
“Gue tau kok” ujarku ragu
“Apa?”
“Senantiasa bilang Alhamdulillah sama berbagi ke yang nggak punya aja”
“Terus?”
“Udah”
“Gini ya si…. Bersyukur itu ya emang seperti yang lo ucapin tadi, tapi bersyukur bukan hanya itu aja caranya. Bersyukur dengan cara yang sederhana aja misalnya. Bantu-bantuin mama lo bersihin rumah, bantuin orang-orang yang sedang kesusahan, bantuin mama nyuci baju, bantuin nyapu, pokoknya yang sederhana itu juga udah sama dengan bersyukur kok. Karena, elo dianugerahin rumah yang besar, yang mewah, punya baju-baju bagus, punya duit banyak, harusnya elo bersyukur dong? Bersyukur dengan cara merawat apa yang Allah kasih ke elo. Itu udah bersyukur kok” ujar Rey panjang lebar.
Jleb. Rey benar. Bahkan melakukan semua itu aja aku tidak pernah. Sama sekali tidak pernah.
“Pernah elo ngelakuin begitu? Enggak kan? Kasihan mama lo Si, kalo kakak lo pulang doing kerjaan mama lo jadi sedikit lebih ringan, kakak lo kan yang sering nyapu? Nyuci baju? Ngepel? Dan lain-lainnya? Elo? Mana pernah” ujarnya sinis
Jujur, kata-kata Rey tadi sedikit memancing emosiku.
“Tau apa lo tentang gue? Kenapa sih harus disbanding-bandingin sama kakak gue? Gue gasuka. Inget itu” ujarku tajam
“Gue tau semuanya kok. Nyokap lo sering cerita ke gue. Gue tau gue lancang, tapi toh kita sepupuan kan?”
“Pantesan semua orang-orang sering bandingin elo sama kakak lo.. elo nya aja yang bego. Elo itu salah Si, sifat-sifat lo itu harusnya di ubah” lanjutnya setengah mengatur nafas sejenak.
“Apa hak lo ngatain gue bego? HAH?!” bentakku
“Maaf tuan putri, tapi aku berkata apa adanya kok” ujar Rey mendramatisir
“Sialan lo” ujarku mulai emosi
“Iya deh Jessi sayang, Jessi pinter banget deh. Jesii kan sering juara olimpiade, sering jadi kebanggaan guru-guru. Gue aja sampe kalah haha. Eh tapi ya Si, percuma kali pinter doang tapi nggak bisa ngapa ngapain. Bisa mudah dimanfaatin orang dong kalau gitu? Percuma juga lo pinter tapi gapernah pinter ngendaliin emosi? Orang pinter ittu bukan di eksakta aja kali. Pinter ngendaliin emosi, itu juga namanya pinter kok, pinter bersosialisasi, itu juga pinter kok. Pinter itu nggak seperti yang lo pikirin aja tau. Elo? Lo belom bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat buat orang lain kan? Elo baru ngelakuin semuanya demi kepentingan elo sendiri, Si. Apa itu yang namanya pinter?’ ujarnya santai
Aku hanya terdiam. Diam sambil menunduk menahan emosiku. Diam sambil menunduk menyembunyikan air mataku yang ingin keluar sedari tadi.
“Kenapa diam? Ga bisa jawab? Semua orang itu sayang sama lo Si. Bahkan, mereka membanding-bandingkan elo dengan kakak elo itu demi kebaikan elo juga..”
“TAPI REY… KENAPA SEMUA MENGELU-ELUKAN KAKAK MULU? KENAPA? GUE GAPERNAH REY GAPERNAH” aku mulai terisak. Rey? Hanya diam membiarkanku melanjutkan berbicara.
“Jujur gue iri Rey, iri banget. Kakak gue kalo minta sesuatu pasti dibeliin, sedangkan gue? Mana pernah? Mereka juga, bahkan orang tua gue pun sering banget banding-bandingin gue sama dia. Gue sebel Rey. Gue benci. Apa mereka gak ngehargain gue? Mereka bisa dong bilang dengan cara baik-baik? Ga perlu di banding-bandingin? Gue gasuka itu. Mereka tau” Aku semakin terisak dan terus menunduk. Membiarkan air mataku mengalir dengan deras dari kedua mata bulatku.
“Tapi Si, cara lo itu salah, harusnya lo ga boleh bentak mereka, harusnya lo terima aja itu. Lo berusaha buat ngelakuin apa yang mereka mau, gue yakin kok mereka gak bakal ngelakuin itu lagi kalo lo mau berubah”
Aku masih diam mematung.
“Lo ubah dulu sifat lo, kebiasaan-kebiasaan lo, turuti aja perintah mereka. Gue yakin mereka ngelakuin yang terbaik buat lo. Mereka itu sayang banget sama lo”
“Mereka nggak peduli sama gue Rey” ujarku lirih
“Yaelah, ngomong apaan sih lo? Kalo mereka nggak peduli ngapain mereka nyempattin ke sini buat bilang happy birthday ke elo?”
“Mana?”
“Tuh” Rey mengangkat dagunya seolah-olah menunjukkan ke arah mana aku harus melihatnya.
“HAH?!” aku kaget. Sangat kaget. Mereka dengar dong apa yang aku bilang sedari tadi.
“HAPPY BIRTHDAY JESSI, HAPPY BIRTHDAY JESSI, HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY JESSI” Aku masih diam dengan mulut menganga.
“Jessi, maafin kita ya sayang, mama papa tau kalo kita salah, kita nggak bakal bandingin kamu lagi, mungkin kakak kamu juga capek udah dibandingin mulu sama kamu, maafin mama sama papa ya Si” ujar mamaku
“Eh, oh iya ma. Maafin jessi juga ya. Jessi ga pernah nurut sama mama. Jessi emang anak yang nakal ma, hehehe” ujarku nyengir
“Happy birthday ya de”, ucap kakakku
“Makasih kak fin”
“Oh iya, jangan suka ngiri lagi lo sama gue, justru harusnya gue yang ngiri sama elo”
Aku mengangkat alis. Kenapa bisa? Tanyaku dalam hati
“Iyalah, secara lo itu yang dibanggain sama papa mama, elo yang pinter, elo yang bikin keluarga kita bangga karna elo, elo bikin keluarga kita berarti di mata masyarakat, semuanya kan karna elo” ujar kak findi seakan ia mengerti apa maksudku tadi.
“Tapi tetep aja kak, di balik itu semua kan ada elo, my hero, my destiny, and my beloved sister hahahaha” tawaku
“Yang seneng, gue dikacangin nih”
Aku tertawa melihat ulah Rey seperti tadi, dan… sejak kapan dia pindah tempat? Kukira dari tadi dia masih duduk disampingku. Kenapa sekarang sudah bergabung bersama semua keluargaku dan teman-temanku? Ah, mungkin aku nggak menyadari pas dia jalan kesitu tadi.
“Eh iya Rey… hehehe makasih ya buat semuanya.. udah dengerin curhatan gue.. udah bikin surprise kayak gini hehe”
“Sama-sama sepupuku sayang.. gue justru punya surprise yang lebih istimewa lagi buat lo”
“Apaan?” tanyaku penasaran
Berjanjilah wahai sahabatku
Bila kau tinggalkan aku
Tetaplah tersenyum
“siapa yang nyanyi? Kayaknya gue kenal deh? Tapi mana orangnya?” ujarku pelan
Meski hati sedih dan menangis
Ku ingin kau tetap tabah, menghadapinya
Aku masih celingak-celinguk mencari sosok yang mengalunkan lagu favoritku tadi, “ah dia……..”
Bila kau harus pergi
Meninggalkan dirimu
Jangan lupakan aku
“Gi…….o”
Semoga
Dirimu disana
Kan baik-baik saja
Untuk selamanya
“Ya itu pasti Gio”
Disini aku kan selalu
Rindukan dirimu
Wahai sahabatku
Prok prok prok. Kulihat semua keluarga dan teman-temanku memberi tepuk tangan padanya. Orang yang telah menyanyi dengan suara emasnya itu kepadaku.
“Happy birthday Jessi”, ucapnya kepadaku
“Elo………..Gi…o?”
“Kenalin, aku Gio Damanik Susanto” ujarnya sok
“Hah? Jadi elo beneran Gio?”
“Biasa aja dong mulutnya” uups aku pun langsung menutup mulutku refleks. Jadi sedari tadi mulutku nganga? Aaaaaaaaaah malu banget ini..
“Giooooooooooooooo” reflek aku memeluknya
“Lepasin weh, malu tau”
Uuuuuuups, lagi-lagi aku salah tingkah.
“Abisnya….. eh eh, elo berubah banget Yo? Gila, makin ganteng aja lo, pujaan para wanita dong lo? Hahaha” candaku
“Termasuk elo”
“Hah? Gak deh ya.. Lo kan sahabat gue gitu, ngapain gue suka sama elo, wajah-wajah kayak elo mah dipasar juga banyak”
“Sialan lo”
“Hahahaha, eh tapi beneran deh, 3 TAHUN coy gue ga ketemu elo, gue pangling kan jadinya, lo putih, tinggi, ganteng, keren, pinter, padahal kan lo dulu bantet kayak gue, pinter juga pinteran gue hahahaha” tawaku renyah, kulihat semua orang disekitarku juga ikut tertawa.
“Jesssssssssssssi” ujarnya geram sambil memelototiku
“Peace mameeeeeen”
Hah, aku sadar sekarang.. aku sangat bodoh, bodoh karena menganggap diriku sendiri tidak penting, bodoh karena mengganggap semua orang tidak peduli padaku. Maafkan aku ya Allah, maaf. Aku telah berburuk sangka padamu. Kekecewaanku pada mereka pun sirna sudah. Seolah-olah diterpa badai yang hilang entah kemana. Kekecewaanku pun seakan-akan hanya kekecewaan palsu. Hanya bualanku semata. Karena, ternyata mereka sangat sayang kepadaku. Aku sangat bersyukur di hari ulang tahunku yang ke 16 ini. Aku akan berusaha untuk bersikap lebih baik lagi. Aku berjanji aku tidak akan mengecewakan keluargaku, tak akan mengecewakan Rey, tak akan mengecewakan semuanya, dan pastinya tak akan mengecewakan Rini, Karen, dan… Gio. Karena aku yakin bahwa mereka sangat menyayangiku dengan tulus. Ah betapa indahnya dunia ini…….
Saat kau menganggap seseorang itu berharga, jangan berharap lebih pada mereka, karena hanya akan membuatmu sakit hati. Saat kau membenci seseorang, pun jangan berburuk sangka dahulu padanya. Bisa jadi, ia lah teman terbaikmu yang akan menemanimu saat senang maupun sedih, saat teman-temanmu yang lain tertawa diatas penderitaanmu.
-THE END-

Sabtu, 02 Juli 2011

Karma Itu Berlaku Lho

Sang surya mulai menyembunyikan sinarnya di senja hari ini. Nampaknya ia enggan untuk muncul dari persembunyiannya dibalik awan hitam yang bergelayut hari ini. Rintik-rintik hujan pun mulai turun dari singga sananya. Tetes-tetes yang jaraknya kian merapat ini tak terasa mengenai sesosok gadis mungil yang kira-kira berumur 15 tahun yang sedang duduk termenung di bibir pantai utara jakarta ini. Hanya ada dia disana. Entah karena alasan apa, gadis itu enggan sekali untuk kembali ke vilanya yang berada kira-kira 10 meter dibelakang ia duduk sekarang ini. Dia malah ingin tetesan air yang jatuh itu mengenai tubuhnya dengan keras agar ia dapat melupakan apa yang kemarin ia lihat.

*flashback*

Ify bangun dari tidur lelapnya. Ia segera mandi dan bersiap ke meja makan untuk sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Ia menyisir rambutnya yang indah tersebut dan mengambil sebuah jepit kecil berhiaskan kupu-kupu dan segera mengambil tas ranselnya yang akan dibawanya ke sekolah. Ify berlarian kecil menuju tangga dan segera duduk di kursi meja makan. Ify mendengar suara-suara teriakan yang berasal dari kamar mama papanya. Kebetulan kamar mama papa Ify terletak persis disebelah kanan meja makan, sehingga Ify dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka ributkan.

”Pa, Mama udah nggak tahan lagi sama Papa! Jadi gini kelakuan papa selama ini? Mama nggak nyangka Pa, Papa bisa setega ini sama Mama, sama Gabriel, sama Ify juga! Mama Capek Pa! Mama minta cerai!” teriak mama Ify sambil terisak

*flashback off*

Tak terasa butiran bening yang sedari tadi ia tahan itu keluar juga dari pelupuk mata bulatnya. Butiran bening tersebut memang tak nampak, karena terhapus oleh derasnya air hujan yang kini menerpa tubuh gadis mungil itu dengan sangat kencang.

”Non, Non Ify, yaampun Non, kenopo Non udan-udan ngene? Nek loro piye Non? Non segera ke vila ya? Ditimbali sama Mamanya Non, Mamanya Non khawatir sekali sama Non.” ujar Pak Ujang dengan logat jawa kentalnya.

“Nggak mau Pak, Ify mau disini aja! Biarin Ify sakit. Paling juga nggak ada yang peduli kok.”

“Non jangan gitu, kasihan Mamane Non. Ayok ya Non ya ke vila?” Pak Ujang memaksa.

”Nggak mau, Pak!” bentak Ify

”Tapi non....”

”Udah lah Pak, Pak Ujang balik aja sendirian ke vila. Bilangin mama kalau Ify mau disini aja. Ify mau sendiri disini.”

”Ya udah Non, saya pergi ya.”

Setelah kepergian Pak Ujang, Ify terus meratapi sikap papanya -yang memang Ify belum tahu seperti apa itu, namun dengan perkataan mamanya yang ia dengar kemarin, Ify jadi yakin kalau ternyata papanya itu orang yang tidak baik- kepada mama Ify sampai Mama Ify berkata ingin bercerai. Dalam bayangan Ify, perceraian merupakan hal yang sangat buruk untuk keluarganya. Papanya akan meninggalkan keluarganya dan Ify belum siap menerima itu semua.

Lelah, itu yang sedang dirasakan oleh Ify saat ini. Rasanya badannya seperti tertimpa beras seberat satu ton yang dilemparkan untuknya. Ify hampir tak sanggup lagi menghadapi ini semua. ”Kak....... Ify kangen sama kakak. Ify nggak mau papa pergi, Ify harus gimana kak,” desah Ify. Ya, Ify memang anak kedua dari keluarga ini, karena ia mempunyai seorang kakak laki-laki.

***

”.............................oke sir,” akhir perkataan Gabriel yang sedang menelpon rekan kerjanya. Memang, gabriel selain kuliah, juga sedang meneruskan bisnis papanya yang berada di Jerman sekarang. Sudah hampir 1 musim ini, gabriel belum pulang ke Indonesia. Gabriel sendiri mempunyai alasan yang sangat kuat untuk tetap tinggal di Jerman untuk sementara ini dan tidak ke Indonesia dulu. Tak lain tak bukan, alasan itu adalah kondisi perusahaan papanya akhir-akhir ini. Terombang-ambing. Miris untuk Pak Stevent –ayah Ify dan Gabriel- yang telah membangun susah payah perusahaan ini sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Namun apa daya, memang seperti itu lah keadaan yang sebenarnya, sehingga membuat Gabriel bertekad untuk menangani perusahaan ini dahulu dan mengacuhkan kuliahnya.

***

Hari berganti hari seiring semakin kacaunya keadaan keluarga Ify. Ify pun sangat jarang sekolah, padahal sebenarnya sebentar lagi ia akan menghadapi ujian nasional. Ify malah sering keluyuran nggak jelas untuk meluapkan masalahnya. Ify juga sering mengupdate twitternya dengan kata-kata kasar seperti ”Fuck, Damn, dan sebagainya”. Untuk yang kesekian kalinya ia membuka twitternya dan mengupdate ”NJIR. UDAH DIEM. BOSEN GUA NGEDENGERIN SEMUA INI!” Setelah mengupdate demikian Ify mempunyai niat untuk membuka replies yang artinya mention teman-temannya untuk ia. 25 new mention. Ia segera mengklik icon tersebut dan dalam beberapa detik muncul sedemikian mention yang menanyakan kabarnya. Terutama via dan shilla, sahabat Ify.

@ashillazhrtiara : @Ifyalyssa fy, lo kemana aja? Lo kenapa?

@viazizah : @Ifyalyssa fy, lo baik-baik aja kan? Lama banget nggak sekolah?

Yah begitulah kira-kira mention yang bejibun dari mereka. Entah ada dorongan apa, ify segera membalas mention dari sahabatnya itu. Ify yakin, raut kecemasan sangatlah nampak pada wajah ceria kedua sahabatnya itu.

@ashillazhrtiara @viazizah lo semua tenang aja, gue ngga papa kok J

Yah itu balasan singkat dari Ify, setidaknya ia bisa meyakinkan kedua sahabatnya kalau ia memang baik-baik saja.

@ashillazhrtiara : Masa sih Fy? I know something wrong with you (́_̀) RT @ashillazhrtiara @viazizah lo semua tenang aja, gue ngga papa kok J

Setelah melihat balasan dari Shilla tersebut, Ify segera meng-close opera mini nya dan melanjutkan aktivitas lainnya yang dianggap lebih penting daripada sekedar membalas mention tersebut. Ify memang paling tidak suka urusannya dicampuri, meskipun itu sahabatnya sendiri. Jadi Ify memilih untuk diam dari kedua sahabatnya itu.

***

Pagi hari ini Ify berlarian kecil menuju taman tempat ia biasa merenung. Ia tampaknya sedikit terburu-buru, karena rintik-rintik hujan mulai membasahi tubuhnya. Ify sangat kaget melihat siapa yang ada disana. Rio. Kakak kelasnya dulu yang terlihat galak itu duduk memejamkan mata sambil bersandar di dekat pohon kecil yang ada di sana. “Ngapain dia di sini?” batin Ify.

Ify menghampiri Rio dan duduk tepat disampingnya. Merasa ada yang menduduki tempat kosong disampingnya, Rio segera membuka matanya dan mendapati Ify yang sedang menutup wajah dan menghembuskan nafas berat.

“Ngapain lo disini?” kata Rio pada Ify

”Ini tempat biasa gue merenung kok, suka-suka gue dong mau kesini. Lagian ini kan juga bukan tempat milik nenek moyang lo.” ucap Ify santai

”Eh elo tuh....... ditanya baik-baik jawabnya malah kek nenek sihir gitu.”

“Hellow? Gitu dibilang santai? Gimana judesnya om?” ujar Ify meledek

”Ah udahlah lagi males gue debat, emang ngapain sih lo disini? Ngga sekolah?”

”Ngga. Males.”

Rio pun melengos. Ia hampir saja berdiri dan melangkahkan kakinya ke tempat yang lebih damai, tentram serta sejahtera tanpa orang yang ada di sampingnya ini.

“Heh, mau kemana lo kak? Sini aja kali, gue nggak bakalan ngapa-ngapain lo kok.”

”Heh oncom, kebalik kali. Seharusnya cowok yang bilang gitu ama cewek.”

”Yah menurut gue kan lo itu ................... jadinya gue bilang gitu?”

”Maksud lo? Gue cewek? Ha? Buta ya mata lo? Jelas-jelas keliatan kalo gue cowok dibilang cewek. Anjir banget ya lo itu.”

”Yaudah sih santai aja. Nggak usah misuh juga bisa kali kak”

”Apaan? Yang biasanya misuh didepan umum siapa? Elo kan? Yang mengumbar-umbar napsu di twitter siapa? Elo juga kan?”

Skak mat. Ify merasa kalah telak dengan perkataan Rio barusan. Ya Ify memang sering melakukan hal itu, karena menurut Ify, setelah mengupdate kata-kata demikian Ify merasa lebih plong dan sedikit terbebas dari masalahnya.

”Kalo punya masalah ya diselesein, nggak usah ditahan, terus ngumpat kata-kata jelek di depan umum,” kata Rio menasehati.

Entah kenapa, Ify selalu mendengarkan nasehat-nasehat Rio sedari tadi. Padahal biasanya Ify paling tidak suka dinasehati. Ify malah sering menyumpel lubang telinganya untuk mendengarkan musik keras-keras daripada mendengarkan orang lain berbicara panjang lebar menasehatinya.

”Kenapa lo diem aja?” kata Rio datar setelah ia mendapati Ify bengong

“Hah? Enggak, nggak papa.”

“Naksir ya sama gue? Udah bilang aja?”

”Dih! Ogah! Amit-amit deh kak gue suka sama elo!”

”Gue pegang kata-kata lo. Sampe lo naksir dan jadi cewek gue, lo harus nraktir sesuka gue selama seminggu.”

Mampus, ucap Ify dalam hati.

“Iya deh iya. Pegang tuh kata-kata gue. Kalo perlu sekalian deh gue traktir lo ke Jepang sekalian, biar kena radiasi nuklirnya, biar tau rasa deh lo.”

”Oke. Inget ya, karma itu berlaku lho,” ujar Rio lalu meninggalkan Ify dari taman tersebut.

***

Hari ini Ify mulai sekolah lagi. Ify menjadi sadar akan kebegoan yang dilakukannya hari-hari kemarin. Karena satu alasan. Nasehat Rio. Ya, nasehat Rio membuat Ify sadar 1800 akan tingkah lakunya yang konyol akhir-akhir ini. Dia yakin bahwa dirinya kuat. Dan dia yakin pasti orang tuanya akan akur kembali.

Hari berganti hari, sejak perjanjian konyol yang mereka sepakati, Rio semakin hari semakin gencar memberikan pesona-pesonanya kepada Ify. Semakin hari pun Ify berusaha mati-matian mendoktrin otaknya agar ia tidak leleh pada pesona Rio yang sangat luar biasa itu. Namun, tampaknya usahanya sama saja dengan menegakkan benang basah, alias sia-sia saja. Bagaimana tidak? Secara sengaja rio memberikan senyuman mautnya –yang pasti membuat seluruh wanita leleh- kepada Ify setiap Ify menghampirinya. Kelakuan Rio makin hari pun makin membuat Ify frustasi.

Seperti hari ini. Ify ingin bersepeda mengitari kompleks perumahannya. Kebetulan Rio yang rumahnya hanya berjarak 3 meter dari rumah Ify mengetahui hal itu dan berusaha memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Rio segera mengambil sepedahnya sambil bersiul-siul jahil saat menyalip Ify. “Woe, edan ya lo kak?”. Rio berpura-pura tidak mendengarnya. “Dasar sinting”. Ify ngedumel. “Eh ada orang ngomong barusan ya, uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuups” kata Rio dibuat-buat dan menengok ke arah Ify. Ify pun yang sudah sangat jengkel dengan kelakuan Rio barusan segera berbalik arah dan memutuskan untuk pulang saja, dari pada ketemu makhluk jelek plus njengkelin satu ini, pikirnya dalam hati. “Yes berhasil, hahahahahahahahahahaha” tawa Rio keras sekali, sampai disangka oleh warga dia gangguan jiwa.

“Dek, gila ya?” ucap seorang warga yang sedang lewat.

“Hah? Saya waras kok pak?” sangkal Rio.

“Kalau waras kenapa ketawa-ketawa sendiri begitu? Mana keras lagi” ucap warga tadi.

“Oh enggak pak, maaf maaf saya kesenengan tadi, maaf pak” Rio segera kabur meninggalkan orang yang menyebutnya –gila- itu.

***

Di bandara

Seorang laki-laki tampan berkulit kuning langsat itu tampak sangat kebingungan. Ia celingak-celinguk seperti mencari seseorang namun belum ia temukan. Ia memang sudah sangat lama tidak menginjakkan kakinya disini. Ya, selain sekolah, ia juga bekerja di luar negeri. Siapa lagi kalau bukan Gabriel. Gabriel Stevent.

Setelah melangkah kira-kira 300 meter dari tempat ia berdiri tadi, akhirnya ia menemukan seseorang yang dicarinya sedari tadi. Rio. Ya, sengaja Gabriel meminta Rio menjemputnya karena Iel –sapaan Gabriel- ingin memberi kejutan untuk keluarganya terutama Ify. Gabriel sering mendapat cerita dari Rio tentang Ify maupun tentang orang tuanya. Gabriel prihatin dengan kondisi Ify saat ini. Karena ia tahu Ify adalah ababil atau biasa disebut abg labil. Untuk itu, ia menyempatkan dirinya bertandang ke Indonesia khususnya Jakarta untuk memberi support kepada adik tercintanya.

***

Tok… tok… tok…

“Siapa sih, malam-malam gini dateng? Setan kali” ujar Ify ngaco

Tok… tok… tok…

Ketukan pintu kedua membuat Ify bangun juga dari duduknya, dan dengan sangat malas dan terpaksa, ia segera berlari membukakan pintu jati yang berada 5 langkah dari posisi ia duduk tadi.

“Apaan malem-malem kesini? Gangguin orang aja” ujarnya galak kepada orang yang berada di depan pintu tadi

“Sewot mulu sih jadi orang, ada tamu itu harusnya disambut dengan senyum dong” ujar tamu tadi

“Kalo sama elo mah, ngapain senyum, gue bukain aja masih beruntung lo”

“Yaudah, gue pulang lagi”

“Emang ada apaan lo kak Rio malem-malem ke sini?” ujar Ify kepada tamunya yang ternyata itu adalah Rio

“Numpang pup, wc gue lagi rusak”

“Ih, serius!”

“Gue? Kesini? Ada urusan lah pastinya”

“Sama siapa? Gue?”

“PD amat lo jadi orang, eh tapi mau gue kasih tau nggak?”

“Apaan?”

“Tereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng……………… dih kok gak muncul? Yel muncul dong!”

“Emang mana kak Iel? Emang kak Iel pulang? Mana mana?” ujar Ify heboh

“Tar, gue cari dulu” kata Rio sambil mencari-cari sesosok manusia yang tadi dibawanya kesini

“Ketemu! Weh tapi dia…………………?”

“Kenapa kak?”

“Tidur nih! Woy Yel bangun woy bangun! Ngebo aja lo!” ucapnya kepada Ify sambil sibuk membangunkan Gabriel

“Hah? Apaan? Ada Maling?” kata Iel setengah sadar

“Maling pala lo peyang” ujar Ify dan Rio bersamaan

“Cieeeeeeeeeh kompak amat” seru Gabriel

“Apaan sih” ujar Ify cepat

“Eh kak, kapan pulang? Kok nggak ngasih kabar dulu sih?”

“Hehe… kan surprise”

“Eh Yel, kenapa tadi lo sampe molor kayak gitu?

“Masuk dulu yuk, dingin nih. Gue tadi molor gara-gara lo berdua ngobrol mulu gue dikacangin. Gatau orang lagi capek apa ya? Ya akhirnya ketiduran lah” sembari berjalan menuju ruang tamu Iel menjawab pertanyaan Rio tadi

“Yaudah, gue pulang duluan ya, udah malem, takut tar dimarahin emak”

“Yailah manja benjet cih anak mama. Unyuuuuuuuuuuuu” ledek Ify

“Yaudah sono pergi” usir Iel bercanda

***

Sudah sekitar satu minggu Iel berada di Indonesia. Kondisi keluarganya pun semakin membaik. Kondisi tersebut tampak kelihatan jelas dari raut muka seluruh keluarga Stevent. Dalam sarapan pagi bersama ini misalnya. Mama dan papa ify sudah nampak akur dan tidak pernah bertengkar lagi. Ify pun tidak pernah membolos sekolah lagi. Bahkan keluarga ini ini terlihat harmonis dan seakan-akan tidak pernah terjadi keributan di dalamnya.

***

Hari ini Ify berangkat sekolah seperti biasa. Namun dengan suasana yang berbeda. Kali ini dia berangkat sekolah diantar oleh kakaknya, Iel. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia diantar oleh Rio menggunakan angkutan umum yang sering lewat didepan gang perumahannya. Ify agak kecewa karena Rio tidak menjemputnya hari ini. Ify juga heran, kenapa kakaknya sesemangat ini mengantarnya ke sekolah. Padahal biasanya paling males Gabriel untuk mengantarkan adiknya ke sekolah.

“Kak, tumben lo nganter gue. Ada angin apaan?”

Yang ditanya malah senyam-senyum sendiri.

“Yailah, senyam-senyum aja lo. Kayaknya ada yang sedang lope lope nih” goda Ify kepada Iel

“Paan sih, anak kecil ga boleh tau” ujar Iel sewot

“Gitu ya sama adek sendiri juga”

“Biarin wooo”

Ify lebih memilih untuk diam dan tidak menggubris omongan kakaknya barusan. Iseng-iseng Ify mengambil blackberry kakaknya yang ada di dashboard mobil.

“Jangan diambil ih” ujar Iel sambil merebut hpnya

“Kenapa? Wah macem-macem nih isinya”

“Dih elah Fy, dibilangin nggak ada apa-apanya juga”

“Kalo nggak ada apa-apanya sini minjem” direbut kembali hp Iel oleh Ify

Yang punya hanya manyun melihat kelakuan adiknya yang satu itu. Ify segera membuka bbm kakaknya dan sangat shocked setelah membukanya. Bagaimana tidak? Isinya Shilla semua.

“Hahahahahahahahahaha yaampun, ini toh yang buat kakakku senyam-senyum kayak orang gila yang biasa di jalan itu hahahahahha” tawa Ify meledak-ledak.

“Apaan sih”.

“Yailah sewot, wah bilangin mama aaaaaaaaaaaah. Pantesan juga semangat 45 nganterin gue ke sekolah. Betewe dapet pinnya darimana kak?”

“BB eluh”

“Weh, nyolong ga bilang-bilang”

“Lu bego, apa pura-pura bego sih Fy, namanya nyolong masa mau ngomong dulu”

“Oh iya ya kak, beneran bego kali gue, cieeeeh shilla nih ye”

“Apaan sih lu ah. Yaudah sana turun, udah nyampe”

“Iya iya bawel, titip salam ga nih sama neng shilla?”

“Au ah”

Gabriel segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Ify.

***

Di dalam kelas, Ify terus meledek shilla. Kebetulan hari ini bapak ibu gurunya sedang rapat. Sehingga jam pelajaran kosong semua.

“Cieh neng shilla sama kakak gue nih” kata Ify

“Apaan sih Fy” ujar shilla

“Cieh yang pipinya merah ngalah-ngalahin tomat busuk” ledek Via

“Tomat seger ngapa Vi, tomat busuk mah kesukaan lo?” ujar Shilla menanggapi

“Au deh tomat apaan aja terserah, yang penting neng shilla sama aa Gabriel, ye ga vi?” ujar Ify

“Hahahahah, iye tuh Fy, betewe udah resmi belom nih?”

Yang ditanya hanya senyam-senyum malu

“Bau-baunya sih udah nih”

“Bener Shill?”

“Ehmmmmm…. Iyeh”

“CIE CIE SELAMAT YA. PEJE PEJE PEJE PEJE” ujar Ify dan Via kompakan

“Yah tinggal gue dong nih yang jomblo. Via ama Apin. Shilla ama Kak Iel. Gue? Ama bangku aja deh, ya bangku ya?”

“Fy, Plis deh jangan gila ngapa?”

“Iya Fy, lagian paling bentar lagi juga ada yang nyangkut kok”

“Lu kata pohon, nyangkut?”

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. Akhirnya obrolan mereka terpaksa harus diakhiri karena bel pulang telah meraung-raung sedari tadi.

***

Hari ini hari Rabu. Kebetulan Sekolah Ify sedang libur. Ify memilih asyik untuk duduk di taman kota. Hari ini fikirannya sedang galau tingkat dewa. Bagaimana tidak? Sudah seminggu ini Rio menghilang. Tidak tau ke mana juntrungannya. Ify pun bersenandung kecil,

Sudah lama

Ku menanti dirimu

Tak tahu sampai kapankah

Sudah lama

Kita bersama sama

Tapi segini sajakah

Entah sampai kapan

Entah sampai kapan

Hari ini ku akan menyatakan cinta

Nyatakan cinta

Aku tak mau menunggu terlalu lama

Terlalu lama aaaaaaaaaa~

Saat sedang asyik-asyiknya bernyanyi dari hatinya yang paling dalam, tiba-tiba terdengar suara yang membuat jantungnya hampiir meloncat keluar.

“Lagu itu…………………………. Buat gue ya?”

“Ih, PD banget lo kak?”

“Alah, gausah ngeles, gue tahu kok kalo lo suka sama gue”

“Emang. Terus kenapa?”

“Traktir gueeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee”

“Tapi jawabannya apa?”

“Hah? Emang ada perjanjian gue harus jawab? Terus emang lo nembak gue?”

“Ih……. Dodol banget sih lo kak, tau ah”

“Yeeeh ngambek, gitu doang juga, kalo ngambek jelek banget lo Fy, sumpah”

“Oh, berarti biasanya gue cantik kan? Akhirnya lo mengakui juga”

“Siapa bilang? Kalo biasa kan jelek, kalo ngambek tambah jelek”

“Ih gitu banget sih lo kak sama gue”

“Suka-suka gue, byeeeeee”

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh, mau kemana?”

Rio pun pergi meninggalkan Ify sendirian yang masih sangat kebingungan dengan sikap Rio tadi. “Paan sih maksud tuh orang atu”. Ify pun memutuskan untuk pulang saja daripada dia tambah bete di taman sendirian. Ify memilih untuk berjalan dan menuntun sepedanya saja. Lagian rumah Ify juga tidak jauh dari taman kota ini. Sambil menikmati suasana, pikirnya.

***

Di tempat lain, Rio yang dibantu oleh Iel, Shilla, Sivia, serta Alvin sedang sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang telah direncanakannya. Rio pun segera mengambil gitar, karena ia yakin sebentar lagi pasti acaranya akan dimulai.

***

Ify masih terus berjalan menuju rumahnya. Memang kini jaraknya sudah agak dekat. Kira-kira 500 meteran lah. “Kok aneh sih? Sepi amat? Biasa juga pada ngerumpel disini tuh anak-anak kecil” kata Ify heran. Sembari berjalan ia menemukan sebuah kaleng coca cola warna merah. Awalnya sih Ify ingin menendangnya. Tapi setelah dilihat-lihat dalam kaleng tersebut ada kerrtasnya. Buru-buru ia buka kertas tersebut. Wanted! 500 again – M –. “Apaan nih? Bukan buat gue kali” ujar Ify agak jengkel. Ify terus berjalan lagi, ia menemukan kaleng yang sama, kaleng yang ada 100 meter dari Ify berada sekarang. Will – A –. “Apalagi sih?” seru Ify. Ify terus berjalan lagi. Di tiga tempat yang berturut-turut ia terus menemukan kaleng yang sama yang berisi arti berbeda-beda pula. Di tempat ketiga Say – R –. Ditempat ke empat Ify menemukan Love – I –. Dan di tempat terakhir Ify menemukan You – O –.

***

“Eh eh itu Ify tuh kayaknya” ucap Rio semangat. “Sembunyi sembunyi” perintah Iel cepat.

***

Ify celingak celinguk di depan rumahnya. Sepi. Hanya itu yang ada dalam otak Ify. “Pada kemana sih? Kompromi kali ya” omel Ify.

“Did you remember some tin you looked at the way? Please arrange it”

Ya, kata-kata itulah yang ada pada spanduk besar yang sengaja ditulis dan ditempelkan di tembok rumah Ify. “Apaan sih? Rajin amat tuh makhluk ngerjain gue” ujar Ify tambah bete. 5 menit berlalu. Sembari terus berpikir Rio keluar sambil menenteng gitar dan bernyanyi

An empty street

And empty house

A hole inside my heart

I'm all alone

The rooms are getting smaller

I wonder how

I wonder why

I wonder where they are

The days we had

The song we sang together

And all my love

I'm holding on forever

Reaching for the love that seem so far...

So I say a little prayer

And hope my dream will take me there

Where the skies are blue

To see you once again my love

Oversees from coast to coast

to find the place i love the most

Where the fields are green

To see you once again my love

I try to read

I go to work

I'm laughing with my friends

But I can't stop to keep myself from thinking

I wonder how

I wonder why

I wonder where they are

The days we had

The song we sang together

And all my love

I'm holding on forever

Reaching for a love that seem so far...

To hold you in my arms

To promise you my love

To tell you from my heart

You're all I'm thinking of

I'm reaching for a love that seem so far...

“Gimana? Keren kan?” ujar Rio seperti biasa.

“Yang ngasih nih tulisan siapa sih? Nyebelin banget”

“Kok sewot? Gue yang ngasih. Ngapa? Nggak suka? Yaudah gue balik”

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeh jangan duluuuuuuu. Maksudnya apaan?”

“Ahelah dodol banget sih! Inget yang dikertas nggak?”

“Enggak” ujar Ify dengan polosnya

“YAILAH IFYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY” seru Rio gemes

“Emang apaan sih?”

“Nih ya, Inget baik-baik! Wan.ted.500.again.will.say.love.you. Udah?”

“Oh. Eh apa? Love you?” seru Ify berbinar-binar

“Y”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaah. Tuh kan bener kata hati gue”

“Emang ati bisa ngomong?”

“Konotasi elaaaaaaaaaaaaaaaaaaah”

“Oh. Eh gue jawab nggak?”

“Nggak perlu”

“Yah, kok gitu?”

“Kan gue udah tau di taman tadi”

“CIEEEEEEEEH PEJE PEJE” Ujar Iel, Shilla, Via, dan Apin bersamaan.

Ya, seminggu menghilang, ternyata Rio gunakan untuk menyiapkan surprise party yang sangat indah untuk Ify, surprise partynya nikita willy aja kalah *plak. Setelah surprise party ini, rencananya Gabriel pun akan kembali ke Jerman untuk kuliah serta kerjanya. Ia merasa waktunya kembali karena keluarganya sudah tenteram seperti sedia kala.

END

my new nerpen? wdyt? jelek ya? ancur? pasti laaaah. secara gue kan penulis amatiran. yaudah yang udah baca makasih. makasiiiiiiiiih banget udah mau baca cerita yang nggak karuan ini. it's originally from me. enjoy it.

Kamis, 28 April 2011

My Little Best

Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi siswa-siswi kelas 9 SMP. Karena hari ini adalah hari yang sangat mendebar-debarkan, banyak siswa yang sampai panas dingin ketika akan menerima selembar kertas putih kecil yang dibagikan siang itu. Kertas tersebut menyangkut masa depan mereka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti yang dirasakan oleh gadis kelas 9.1 SMP Bina Nusa ini. Gadis bermuka tirus ini terus berdo’a agar NEM-nya seperti yang ia harapkan, agar ia bisa membahagiakan orang tuanya. Sementara teman-temannya pun juga melakukan ritual yang –hampir- sama dengannya.

***

Pengumuman-pengumuman, untuk siwa-siswi kelas 9 harap segera masuk ke kelas masing-masing, karena pengumuman kelulusan akan segera dibagikan. Suara dari speaker yang terpasang disudut lapangan itu sontak membuat Ify, gadis yang sedari tadi terus memanjaatkan do’a itu kaget. Ya, memang ia sedari tadi duduk didekat ring basket di lapangan dan konsentrasi penuh dengan do’anya. Jadi ketika mendengar bunyi yang melesat masuk ke telinganya dengan kilat itu membuatnya melonjak dari duduk manisnya. Tanpa basi-basi lagi Ify langsung menuju kelas 9.1, kelas yang akhir-akhir ini menjadi saksi mata perjuangan kerasnya belajar di kelas 9.

Ify notabenenya memang seorang murid yang pintar sekaligus cerdas, namun ia tetap saja was-was. Karena ia banyak mendengar berita bahwa anak yang pandai kadangpun mendapatkan NEM yang sangat anjlok sehingga membuat down siswa tersebut. Mengenaskan, pikirnya. “Ah, kok jadi ngelantur begini sih, fokus ke NEM ku ajalah,” ujarnya. Aldi Nugraha…. Amelia Firnanda Putri…. Alyssa Saufika Umari. “Alhamdulillah sampai juga di namaku, tolong kuatkan aku ketika aku melihatnya ya Tuhan, apapun itu hasilnya,” ucapnya sambil berjalan menuju meja guru.

“Alyssa ini kertas kamu, silahkan dibuka,” tutur bu Ira.

”.........” nampaknya Ify tidak merespon karena ia sangat gugup.

”Selamat ya Fy, kamu mendapat NEM tertinggi se-DKI”

”Ha? Beneran, Bu? Thanks God. Alhamdulillah ya Allah,” ucapnya dengan sangat gembira.

Dia mengamati dengan seksama sekali lagi kertas yang diberikan oleh wali kelasnya yang sangat baik hati itu. Disitu tertulis ALYSSA SAUFIKA UMARI NOMER UJIAN 9185645632 LULUS DENGAN NEM 39.75. Dia tidak sabar untuk memberitahu ibunya di rumah. Sebelumnya Ify mengucapkan terima kasih dulu kepada bu Ira.

”Terima kasih, Bu”

”Sama-sama nak, pulanglah. Ibumu pasti ingin tahu hasilmu ini, jangan lupa hari senin untuk datang ke sekolah karena ada penghargaan buat yang masuk 10 besar NEM tertinggi di sekolah. Salam buat ibumu,” ucap wanita berumur 40 tahunan ini dengan panjang lebar.

”Iya bu, pasti saya sampaikan. Terima kasih sekali lagi saya ucapkan.”

Setelah itu ia segera pergi mengambil sepedanya di parkiran. Kebetulan hari ini ibunya tidak pergi ke pasar. Sehingga sepeda tersebut bisa digunakan oleh Ify untuk pergi ke sekolah –biasanya sepeda tersebut digunakan oleh ibunya kepasar jadi Ify jalan kaki-. Dengan agak terburu-buru Ify melewati jalanan yang agak padat hari ini. Ketika melewati sebuah pasar di dekat sekolahnya itu, ia hampir saja jatuh. Di pasar tersebut banyak orang yang berejubelan di jalanan sehingga menghalangi Ify untuk segera memberitahukan hal bahagia ini kepada Ibunya tercinta. Ify ini anak tunggal, jadi ia sangat disayang oleh orang tuanya.

Kring kring kring....

Bunyi bel sepeda Ify ketika memasuki halaman depan rumahnya.

”Ibu....... Ify pulang,” dengan girang ia memanggil Ibunya.

”Uhuk uhuk... Iya nak, gimana hasilmu? Lulus? Uhuk... Lalu gimana NEMnya?” meskipun dengan batuk yang sudah bersarang begitu lama ditubuh bu Winda ini ia terus bertanya bagaikan kereta yang tak mau berhenti ketika sudah mencapai stasiun.

”Alhamdulillah, bu. Berkat do’a ibu juga Ify bisa lulus. Ini hasil Ify, jikalau Ibu mau melihat, silahkan,” katanya dengan sopan.

”Tolong ambilkan kacamata Ibu ya, nak.”

”Sip, bu.”

Tak berapa lama Ify mengambilkan kacamata wanita yang sangat dicintainya ini. Bu Winda tersenyum bangga serta menepuk pelan puncak kepala Ify setelah melihat kertas tersebut.

”Terus pertahankan prestasimu ini ya, nak.”

”Pasti, bu”

***

Di dalam kamar, Ify bersenandung kecil sambil memegang sebuah boneka teddy bear putih dengan leher berpita erat-erat.

Semua yang berlalu
Telah menjadi kenangan
Dan seakan kulupakan
Karena ku tak sejalan
Dan tak mungkin ku bertahan
Meski telah ku coba
Semuanya tak berguna
Terbuang sia-sia
Dirimu dihatiku sudah terlalu lama
Biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua
Dan tak mungkin ku bertahan
Meski telah ku coba
Semuanya tak berguna
Terbuang sia-sia
Dirimu dihatiku sudah terlalu lama
Biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua
Dirimu dihatiku sudah terlalu lama
Biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua
Dirimu dihatiku sudah terlalu lama
Dan biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua

”Makasih, Van. Aku berhasil dapetin ini semua berkat kamu. Tapi maafin aku, Van. Aku udah jahat sama kamu. Aku........nggak bermaksud untuk ninggalin kamu,” lirih Ify setelah menyelesaikan senandungnya itu.

***

Hari ini, Ify mendatangi sekolah yang akan ia duduki untuk belajar selama 3 tahun. Ya, ia mendapat undangan memang dari sekolah elit ini. Ify mendaftar –ralat bukan mendaftar tapi mengkonfirmasi- pada salah satu SMA terbagus, termewah, terindah di DKI. Toh, di SMA tersebut ia mendapat beasiswa. Jadi ia tak perlu repot-repot untuk memikirkan biaya sekolah yang mungkin menurut Ify harus menjual rumah dulu baru bisa bersekolah disini.

Pengkonfirmasian tersebut disambut hangat oleh pihak SMA Vincent Boarding School ini. Dan ternyata, kabar bagusnya lagi semester yang akan diikuti oleh Ify berjalan kurang lebih 3 hari lagi. Ify sangat senang karena dalam pikirannya daripada nganggur dirumah mending sekolah, bisa main sama temen-temen. Hal yang mendadak tersebut tidak menjadi masalah bagi Ify. Fasilitas sudah dilayani dengan total pada gadis berprestasi ini. Seragam serta buku-buku sudah dipersiapkan di loker oleh pihak seholah sehingga Ify tidak perlu repot-repot untuk membeli buku ini-itu yang biasanya ia lakukan tiap kenaikan kelas tersebut.

***

3 hari berlalu dengan begitu cepat, yang berarti bahwa hari ini adalah hari pertama Ify bersekolah di Vincent Boarding School. Ia berangkat naik sepeda dari rumahnya. Memang jaraknya cukup jauh, 10 km dari rumah Ify. Namun itu tak menjadi kendala baginya. Ia tetap melakukannya dengan semangat. Tidak seperti murid-murid –manja- yang minta anter jemput pakai mobil padahal jaraknya hanya 500 meter dari sekolah. Buang-buang duit kalau menurut Ify.

Alyssa Saufika Umari, ya nama keberuntungan bagi Ify. Dia sangat bangga sekaligus selalu bersyukur punya nama tersebut. Namanya pasti selalu terletak pada abjad depan. Jadi absenya depan. Oleh karena itu, dia menjadi gampang ketika akan ditunjuk maju ke depan kelas, karena ia tak perlu menunggu lama-lama. Lain dengan anak yang tidak menghargai namanya sendiri. Padahal orang tuanya sudah dengan susah payah membuat nama yang sedemikian rupa dirancang khusus untuk anak kesayangannya malah suka diganti sendiri oleh anak itu sehingga ia dapat mengubah nama dengan seenak udel mereka.

Seperti hari ini pula, dengan mudah Ify mencari abjad A serta menemukan namanya untuk mencari kelas apa yang akan ditempatinya di papan pengumuman sekolah barunya itu. Dia tidak perlu mengantri beberapa lama, karena dalam waktu 2 menit saja ia sudah bisa menemukan kelasnya. Setelah dari papan pengumuman Ify beranjak untuk menuju lorong sekolah yang disana ada denah untuk menuju ke kelasnya. “Ruang 10.10,” gumamnya pelan. Oh jadi dia harus menuju lantai 3 yang paling ujung karena ruang 10.10 terletak disana.

Ify sampai dikelasnya 10 menit sebelum bel. Jadi lumayan buat kenalan sama teman barunya dikelas. Ify memilih bangku nomer 2 dari depan, nomer 3 dari samping. Bangku di sekolah barunya merupakan bangku yang terdapat kursi sekaligus meja yang digabung. Disamping bangkunya ada seorang cowok keren, yang sedang mengutak-atik blackberry milik cowok tersebut. ”Nampaknya dari kalangan borjuis,” ucapnya pelan. Didepannya ada cewek putih tinggi, berambut lurus yang cantik. ”Ash...il...la,” samar-samar Ify membaca bet nama anak tersebut. Hmm mungkin namanya Ashilla. Di belakang bangku Ify itu masih kosong. Jadi Ify segera menuju ke bangku tersebut setelah itu ia berniat untuk berkenalan dengan mbak serta mas yang ada didepan dan sampingnya itu.

”Permisi, boleh duduk sini?,” katanya pada seorang cowok yang menurutnya borjuis tadi.

”Duduk aja sih,” katanya tak peduli.

”Terima kasih, aku Ify, kamu siapa?”

”Nggak usah sok akrab deh,” katanya ketus

”Maaf,” kata Ify lalu duduk.

Dalam hati Ify terus merutuki dirinya yang kesal karena cowok ini sangat sombong. Sombong sekali bahkan. Masak ditanya nama aja nggak mau dijawab. Mana kata-katanya menyakitkan lagi. Ah bodo amat, benaknya mengakhiri.

”Pagi mbak, namanya siapa? Aku Ify,” kata Ify yang ingin berkenalan dengan gadis yang disebutnya Shilla tadi

”Oh iya, aku Ashilla, panggil aja Shilla,” kata gadis itu lembut

”Oh, oke Shil”

Teng teng teng....

Bel berbunyi nyaring di seluruh penjuru kelas. Termasuk dikelas 10.10 ini. Tak berapa lama setelah bel berbunyi, seorang guru berwajah agak lonjong, berambut putih ini masuk ke kelas.

”Selamat pagi anak-anak,” tuturnya dengan tegas.

”Pagi pak,” sahut anak-anak dengan kompak.

”Saya Pak Duta, guru pelajaran Matematika. Wali kelas kalian. Sekarang saya ingin menunjuk captain and vice captain in this class. Mana daftar nama kalian?”

“Di laci pak,” kata nova yang duduk di meja depan paling pojok

“Oke, saya pilih………. Mario sebagai captain dan…………….. Gabriel sebagai vice captain. Yang merasa mempunyai nama tersebut, harap maju ke depan kelas.”

Loh kok hanya satu yang maju ke depan kelas? Ify membatin. Ternyata yang maju itu cowok yang ada disebelah Ify. Ya, cowok sombong yang bersikap tak peduli padanya tadi.

”Oke, let’s introduce your self. Please mention name, graduated from, and your address.”

“Nama : Mario Stevano Aditya Haling, dari SMP…”

Tok tok tok

“Permisi.....Maaf pak tadi saya telat, saya habis ke ruang kepala sekolah dulu tadi”, kata cowok yang sedang mengatur nafas di depan pak Duta.

“Oke, who is your name?”

“Gabriel pak,” sahutnya

“You are the vice captain in this class, let’s introduce your self after Mario.”

“Iya pak,” kata cowok yang ternyata bernama Gabriel tersebut.

“Nama Mario Stevano Aditya Haling bisa dipanggil Rio dari SMP Biru Naga, alamat perumahan kelapa dua”

“Oke, selanjutnya kamu Gabriel,” pak Duta menjelaskan.

”Saya Gabriel Stevent Damanik dari SMP Madu Jaya. Saya bertempat tinggal di Kebon Jeruk, Jakarta barat. Sekian perkenalan singkat dari saya, terima kasih.”

”Oke, kalian berdua, silahkan kembali ke tempat duduk, kebetulan sekarang saya ada acara jadi saya tinggal dulu, jangan ramai,” kata pak Duta mengakhiri.

Pak Duta meninggalkan kelas yang berketuakan Rio itu dengan terburu-buru. Nampaknya memang urusan ini sangatlah penting. Ya sudahlah nggak terlalu penting juga ngomongin pak Duta.

”Hallo,” kata Gabriel kepada Ify.

”Eh? Hai,” kata Ify spontan

”Boleh kenalan? Nama?”

”Oh aku Ify.”

”Oh iya Fy, panggil aku Iel aja biar gampang. Kamu sibuk ya Fy?”

”Ah enggak kok,” Ify buru-buru menutup buku yang hampir dibacanya. Menurut dia kalo diajak bicara dengan orang lain sedangkan ia tidak memperhatikan, itu tidak sopan. Lebih tepatnya tidak menghargai lawan bicaranya. Setelah perbincangan yang cukup lama itu Iel mengajak Ify untuk pergi ke Kantin. Ify menyetujui tapi ia juga mengajak Shilla, teman barunya.

”Fy, Shil, mau pesen apa biar aku yang pesenin,” Gabriel menawari.

”Bakso aja yel,” kata Ify dengan cepat saat melihat ada gerobak bakso yang menggoda selera dikantin tersebut.

”Kalau aku samain aja,” Shilla menjawab.

”Oke, tunggu ya.”

Setelah pesanan mereka datang tiba-tiba datang seorang cewek berambut ikal kesana.

”Heh, ngapain kamu deket-deket Iel?”

”Ha? Engga kok, kitakan cuma.........”

”Halah nggak usah muna deh kamu, kamu ngedeketin Iel karena dia kaya kan?,” katanya sinis

”Hey, apaan sih kamu Ngel? Bentak-bentak temen aku, aku nggak suka tau,” kata Iel membela.

”Puas udah dibelain Iel? Ha?” bentak cewek yang dipanggil Ngel tadi kepada Ify

”Udah sana pergi, nggak usah bikin ribut disini ya,” Iel mengusir

”Awas aja kamu macem-macem,” ujar Angel dengan nada meninggi.

Terjadi keheningan beberapa saat di meja yang diduduki mereka bertiga itu. Akhirnya Iel angkat bicara karena ia merasa sangat tidak nyaman karena hening sejenak tadi.

”Maaf ya Fy, Angel kasar tadi sama kamu,” kata Iel menyesal

”Haha, nggak papa kok Yel, by the way tadi siapa sih? Kok tiba-tiba nyolot gitu?” Tanya Ify serius

“Oh tadi Angel, temenku dulu pas SMP, o iya baksonya dimakan gih, buru dingin,” serunya

“Ehm ehm..” Shilla berdehem

“Oh iya maaf Shil, aku lupa kalo ada kamu, gara-gara ‘angel’ tadi itu sih,” ujar Ify sambil mengaduk-aduk jusnya.

“Iya, nggak papa kok, yaudah yuk makan,” kata Shilla.

Iel melahap seporsi baksonya dengan cepat. ”Wkaw, nggak makan berapa hari kamu yel? Rakus begitu?” ujar Shilla meledek Mendengar ucapan Shilla barusan, Iel menjadi hampir tersedak, tapi Iel hanya nyengir saja. ”Yeeh, kacang goreng, kacang buncis, kacang toge.” Tawa Ify meledak, ”HAHAHAH kamu jualan sayuran ya Shil, apal gitu?” katanya. ”Woo iya dong, gini-gini kan aku biasanya nemenin bibik kalo bibik lagi belanja, jadi aku tau.”

Setelah mengghabiskan bakso mereka, mereka lalu ke kelas dan tidak berapa lagi adalah jam pulang. Berhubung tidak ada gurunya, Ify segera mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ify merasa ada yang mengawasi gerak-geriknya. Ify menolah ke kanan ke kiri namun tidak ada. Nampaknya ia salah melihat.

Di meja pojok belakang, meja seseorang yang telah melabrak Ify tadi, Angel sedang membicarakan suatu rencana beserta teman-temannya.

”De, Ren, Ni, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang si jelek kampungan itu, okay?” katanya memerintah

”Iya Ngel, gue juga nggak mau kalo Gabriel kita tersayang temenan sama anak jelek itu,” kata Dea

”Oke jalankan misi kita itu secepatnya, karena besok gue akan ngelabrak dia lagi,” Angel mengakhiri perundingan mereka.

Esok harinya ketika Ify sedang asik membaca buku dibangkunya, tiba-tiba Angel serta dayang-dayangnya menggebrak meja Ify. ”Heh, kamu, dasar nggak tau diri,” seru Angel tanpa memperhatikan situasi ruangan. ”Ha? Apa maksudmu? ” kata Ify tak mengerti. ”Pura-pura bego apa emang bego sih? Elo tuh nggak pantes temenan sama Gabriel. Secara, lo kan anak YATIM yang MISKIN, ibu lo juga PENYAKITAN kan,”teriaknya dengan keras ketika menyebut kata-kata yang di capslock itu. ”Eh denger ya mbak angel tercinta, camkan ini baik-baik,” seru Ify saat akan menyanyikan sebuah lagu untuk Angel.

I’m gonna let it show

It’s time it’s to let yo know

To let you know

This is real

This is me

I’m exactly were I’m supposed to be now

Gonna let the light shine on me

Now I found who I’m

There’s know way to hold it in

No more hiding who I wanna be

This is me

“Puas? Ha?” emosi Ify sudah mulai memuncak

“BELOM! Sebelum kamu menjauhi Gabriel.”

Di tengah perdebatan yang jika diteruskan akan lebih panjang lagi itu, tanpa disadari sedari tadi Rio memperhatikan Ify bernyanyi. Suaranya.......bagus sekali, batinnya. ”Suaranya mirip....... Ica,” ucap Rio tanpa sadar. Setelah Rio bilang begitu, Ify serta Dea menengok ke arah Rio. Setelah mendengar nama Ica disebut-sebut, Ify segera memanggil sahabat kecilnya dulu, sahabat yang selalu memanggil namanya dengan nama Ica. ”Va....No...” dengan ragu-ragu ia memanggil Rio. Dengan cepat Rio memandang Ify dan dia segera berlari ke arah Ify lalu memeluknya.

”Kamu Ica?” kata Rio tak percaya

”Iya, jadi, kamu Vano?” sahut Ify juga tak kalah percaya

”Ica....... Kamu kemana aja? Aku kangen sama kamu.”

”Aku... Pindah yo, setelah kepergian bapak ku. Aku pindah didaerah Jakarta Timur.”

”Lalu kenapa kamu nggak kasih kabar aku?”

”Maafin aku yo.”

”Kamu tau nggak? Aku bersikap begini itu gara-gara kamu tau?”

Tak terasa Ify menitikkan air mata, ”Maafin aku sekali lagi yo, tapi kamu janji ya, setelah ini kamu tudak boleh ketus lagi sama yang lain, kamu harus mempunyai sikap peduli pada mereka.”

”Pasti Fy, aku akan lakuin ini demi kamu, sahabat kecilku.”

Seisi kelas melihat mereka bak melihat drama telenovela yang jarang ada ini dengan sangat serius. Mereka sangat kaget, sosok seorang Rio yang notabenenya cuek, serta tidak peduli, yang bungkusnya sangat buruk bahkan tidak sempurna itu hatinya sangat mulia, karena bisa bersikap sangat peduli kepada gadis miskin yang menjadi sahabat masa kecilnya itu. Karena Ifylah Rio sadar bahwa manusia sangatlah perlu menghargai orang lain karena mungkin tanpa orang lain ia tidak akan bisa bahagia.

- the end -