Minggu, 04 September 2011

Kekecewaanku Itu Palsu

Cerpen ini sebenernya Cuma curahan hati saya aja sih -_-. Tapi ga semuanya juga kok. Maaf juga kalau judulnya gak nyambung. Soalnya gap inter bikin judul sih -_-. Yaudah let’s check it out  oh iya sebelumnya cerita ini special for my dearest best friend SHELLA DESICA and YUNITA DWI RUSTINA
KEKECEWAANKU ITU PALSU
Malam kian larut. Jarum jam yang bertengger di dinding kamarku pun kian lincah berlarian menuju angka 12. Sebuah malam yang sangat berarti untukku. Dalam hidupku. Teng teng teng, jam dindingku pun mulai mengeluarkan suara lantang, pertanda bahwa sekarang sudah tengah malam. Malam 09 Mei 2011. Ya, mulai detik ini, usiaku sudah mulai bertambah, menandakan bahwa umurku semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Aku segera mencari-cari hp-ku. Ku telusuri setiap sisi kamar bernuansa ungu muda ini. Kucari-cari dibawah bantal, tapi tidak ada. Aku berusaha mengingatnya dan “AHA!” di saku ternyata. Ya, tadi aku menaruhnya di saku, mengapa aku bisa lupa hal sesepele ini? Ah, aku tidak begitu memikirkannya. Setelah ku temukan hp-ku, pun aku segera mencari aplikasi browser yang dapat langsung terhubung ke dunia maya. Aku pun segera login di salah satu social network dengan lambang burung berkicau. “NOW IS MY BIRTHDAY, YEAAAH \m/” aku pun mengupdate demikian setelah aku berhasil masuk ke dunia burung perkicauan ini.
Jarum jam sudah bergerak 2 menit dari pukul 12 malam. Tapi aku masih berniat untuk begadang. Aku belum berminat untuk istirahat menghilangkan lelahku untuk saat ini. Aku segera membuka mentionku. Terdapat beberapa twit dari sahabat-sahabatku.
Karenish : HAPPY BIRTHDAY MY BESTFIEND @Jesjessi semoga kita cepat dipertemukan ya :’)
Hahahah aku tertawa membacanya. Ya, sahabatku ini memang tinggal sangat jauh dari rumahku. Berates-ratus kilometer jarak kita terpisahkan.
Jesjessi : @karenish AAAAA thank you sayangggg :* ajegile doanya -_-
Kira-kira demikian balasanku untuk twit karen tadi.
Nirinin : @jesjessi HAPPY BIRTHDAY MY shity (?) TWIN, best wishes for you :*
Jesjessi : @Nirinin thankyou tanteeeeeeeeeeeeeee :* amin amin 
Defhh : @Jesjessi HAPPY BIRTHDAY Si, best force for you 
Jesjessi : THANK YOU DEEEE ) RT @Defhh: @jesjessi HAPPY BIRTHDAY Si, best force for you
Emmm…… hanya itu yang masuk dalam mentionku, aku agak kecewa sebenarnya.. karena sahabatku yang lainnya apa tidak ingat dengan hari bersejarahku ini? Yah tidak apalah, aku menunggu saja, jujur aku sangat berharap mereka mengucapkan hb kepadaku, meskipun hanya ‘HB’.
Aku memutuskan untuk keluar dari social network itu dan kulihat terdapat beberapa messege received di inbox ku.
From : Tanteku sayang :*
HAPPY BIRTHDAY TO YOU…. HAPPY BIRTHDAY DEAR :*
From : Mmih :*
HAPPY BIRTHAY IBUUUUUU… best wishes for you <3
“Sial” umpatku pelan.. ya, mungkin aku agak emosi saat ini. Bukan agak sih, tapi sudah. Jarrum jam pun sudah menunjukkan pukul 1.00. daripada aku emosi, lebih baik aku memutuskan untuk tidur.
Mungkin hanya secuil orang yang mengucapkan kalimat –yang menurutku- sakral itu padaku hari ini, tapi itu tidak masalah bagiku. Aku cukup senang karena masih ada orang yang ingat dengan ulang tahunku hari ini. Aku sempat berfikir juga, setidak berharga itukah aku di depan mereka? Mereka yang selama ini menjadi teman baikku, bahkan sudah kuanggap menjadi keluargaku? Ya, aku cukup tau diri. Aku bukan siapa-siapa. Aku juga tidak mempunyai keahlian yang menonjol, sehingga tidak di ingat oleh mereka. Aku benci mereka. Padahal, saat mereka butuh aku siap ada, dan saat aku butuh? Kenapa mereka tidak ada. Aku benci mereka, sangat benci. Tapi.. jujur dalam hatiku yang paling dalam, tak bisa dipungkiri bahwa aku sangat kecewa. Sangat kecewa.
Mungkin aku orang yang bodoh.. merasa bahwa diriku tidak penting, dan tidak di anggap orang lain. Tapi memang itu yang aku rasakan. Aku benar-benar merasa kesepian di saat-saat seperti ini. Tapi bukankan aku harusnya bersyukur? Bersyukur karena aku masih mempunyai keluarga yang sangat menyayangiku, bersyukur karena sahabat-sahabat ku yang selalu ada di saat aku senang maupun sedih, bersyukur karena masih bisa menikmati indahnya dunia saat ini. Hey… harusnya aku tidak boleh terpuruk kan hanya gara-gara ‘mereka’ yang lupa dengan ulang tahunku? Toh juga bukan hanya ‘mereka’ kok temanku didunia ini. Sangat bodoh jika aku berfikiran seperti itu.
Aku juga sempat envy ketika ada orang lain yang terlihat sangat akrab dengan temanku. Tapi kenapa temanku itu begitu tidak menganggapku. Bahkan, saat ulang tahunku seperti ini ia hanya meng-smsku. Sedangkan jika orang lain itu yang ulang tahun? Mungkin dia akan mengucapkannya lewat sms, twitter, maupun facebook sekaligus. Tapi kenapa hanya sms kalau aku yang ulang tahun? Aku berpikir geram. Apakah masih layak disebut seorang ‘teman’, aku juga tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Hey… itu kehidupannya, bukan kehidupanmu. Terserah dong dia mau ngelakuin apa aja.. kamu nggak punya hak bukan ngelarang dia berteman sama siapa aja… lagi-lagi hati kecilku memberontak, menyadarkanku akan semua hal ini.
Tapi kenapa… kenapa aku selalu tidak dianggap? Sehina itukah aku? Kenapa hidupku ini begitu miris? Kenapa? Kenapa pula SAUDARAku yang datang ke rumahku hari ini juga tidak ingat dengan ulang tahunku? Padahal dia selalu membuka facebook, harusnya di berandanya kan ada namaku saat aku ulang tahun hari ini. Dan kenapa dia begitu tidak mempedulikanku? Kenapa? Bahkan mengajak ku ngobrol saja tidak. Oh, what a nice attitude. Jujur, hatiku saat ini seperti sedang ditusuk-tusuk oleh pisau. Hatiku menjerit, menangis meratapi nasibku saat ini. Tidak, bukan hanya hatiku, cairan bening dari mataku pun saat ini sudah hampir kering. Mungkin habis untuk menangis sedari tadi. Ya allah… aku benci hari ini. Aku benci semuanya…… Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku? Aku hanya seorang gadis lemah, cengeng serta manja. Apa aku kuat untuk menghadapi ini semua? Ah mungkin terlalu lebay kalau aku berkata seperti itu. SAKIT HATI, ya itu yang lebih tepat untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini.
Tok tok..
Aku mendengar bunyi kamarku diketuk. Aku yang sedari tadi berusaha memejamkan mata pun mulai tersulut lagi. “Siapa sih, ganggu orang aja”, ujarku ngedumel sambil membuka pintu kamarku. “Oh elo, ngapain lo kesini?” tanyaku dengan nada datar, sejujurnya aku sangat malas untuk bertemu orang hari ini
“Kenapa? Ga boleh ya gue main kesini?” ujarnya santai
“Boleh, tapi hari ini gue lagi males”
“Yailah cantiik, jelek deh kalau ngambek. Cepet tua loh marah-marah mulu” ujarnya
“Apaan sih? Gue tutup nih pintunya kalau lo bawel? Buruan ada apaan?”
“Tar sore ikut gue yuk?”
“Kemana?”
“Taman”
“Ngapain?”
“Nyulik elo, ya main laaaaaaaaaaah”
“Ga ah, males”
“Yaudah ga gue kasih hadiah loh”
“Apaan emang?”
“Ada deeeeeeeh, makanya ikut yuk”
***
Sore ini, langit begitu tampak menawan dengan semburat jingganya yang tertorehkan selaras dengan awan putih gembul di angkasa. Begitu serasi dengan seorang cowok berpostur tinggi putih yang sangat gagah, dengan rambutnya yang khas bermodel acak-acakan. Begitu serasi dengan dandanannya yang terkesan sedikit urakan namun masih dalam batas sopan.
Lain halnya dengan gadis manis berlesung pipit yang sedang duduk menata dirinya sejak 5 menit lalu, berpatut di depan sebuah cermin besar berwarna coklat gelap. Ia menggunakan setelan t-shirt ungu muda dipadukan dengan celana jeans selutut dengan cardigan senada dengan warna jeansnya. Gadis itu tampak agak murung. Mungkin gara-gara emosinya masih meluap-luap. Gadis itu…………..aku.
Aku sedang berusaha mengatur emosiku agar nanti ketika aku ke taman aku tak melampiaskannya kepada sepupuku. Sepupuku yang sudah repot-repot mengajakku.
Setelah kurasa selesai, aku segera turun dari kamarku yang berada di lantai dua ini. Aku menunggunya sambil menonton salah satu acara komedi di stasiun televisi swasta di Indonesia. Ya, dengan menonton komedi mungkin mood ku akan menjadi lebih baik.
Hampir setengah jam lebih aku menunggu, kulirik sedikit jam yang ada di tanganku. Pukul 4.07. padahal ia janji akan menjemputku pukul setengah 4. Aku mulai bosan, bersamaan dengan itu..
“Hey..”
“Kenapa jam segini baru dateng? Jamuran kali nungguinnya”
“Ngambek mulu ih”
“Ya lagian udah tau gue orangnya on time, kenapa di suruh nunggu?”
“Yaudah daripada bawel berangkat sekarang aja yuk”
Aku tidak menjawab. Aku lebih memilih untuk keluar dari rumah –mama papa tidak ada dirumah- dan meninggalkannya yang ternyata malah mengekor dibelakangku.
“Ngapain naik mobil?” tanyaku
“Masa udah dandan keren-keren giini disuruh jalan kaki sih hehe” katanya nyengir
“Biarin wlee” ujarku memeletkan lidah
Rey, sepupuku pun langsung menancap gas, membiarkan spidometernya melambung menaiki angka-angka normal yang biasa digunakan oleh para pengemudi. Setengah jam perjalanan, kami pun tiba di tempat tujuan kami, di taman kota. Memang, jaraknya terbilang agak jauh dari rumahku yang terletak di pinggiran. “Sampai”, ujarnya sambil tersenyum kepadaku. “Turun yuk”, ujarnya lagi. Aku hanya mengangguk.
***
Di taman kami hanya diam sedari tadi. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Suasana disini tampak begitu….. kikuk. Hanya bunyi deratan ayunan tua yang meronta-ronta ketika ku naiki.
“Rey…” ujarku membuka suara
“Ya?” tanyanya
“Lo ngapain ngajak gue kesini kalo kita cuma diem-dieman begini?”
“Gue lagi sibuk Si, maaf ya hehe” jawabnya
“Oh” jawabku malas
“Jangan ngambek dong”
“Ga”
“Tuh kan ngambek”
“Engga”
“Si, jangan ngambek dong, jelek tau”
“Abisnya……..”
“Maaf deh maaf”
“Ga gue maafin”
“Yaudah, gue tinggal pulang”
“Iya deh iya..”
Suasana kembali hening. Dari pada suasananya tidak enak begini, aku berfikir untuk memutari taman saja. Ninggalin si kunyuk satu itu disini. Diam-diam aku melangkahkan kakiku meninggalkan Rey yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya.
“Jessi, lo mau kemana?” tanyanya, mungkin dia menyadari kepergianku tadi
“Pergi, abisnya gue dikacangin mulu”
“Lo orang kok, bukan kacang”
“Nah kan, mulai deh”
“Biarin”
“….”
“Kok diem lagi sih? Katanya ga mau dikacangin?”
“Ehm Rey…….. Lo lupa ya hari ini hari apa?”
“Hari Rabu kan”
Aku melengos, “Bukan itu yang gue mau Rey” ujar ku lirih, pelan sekali
“Oh”
“Yailah ngambek lagi”
“Rey…….”
“Hm?”
“Kenapa sih orang-orang ga nganggep gue? Ga mentingin gue? Bahkan di hari seperti ini mereka juga ga inget hari apa? Kenapa sih Rey mereka semua jahat sama gue?”
“Ga ada yang lupa kok”
“Buktinya elo lupa kan..”
“Gue gak lupa kok, hari ini hari Rabu kan?” ujarnya
“….” Aku memilih diam tak bersuara
“Emang penting banget ya Si, buat lo hari ini?”
“Penting lah…”
“Kenapa harus penting”
“Ya penting aja…”
“Harusnya lo sedih dong, kan itu tandanya umur elo terus berkurang”
“Tapi kan gue harus bersyukur karena gue masih dikasih kesehatan sama Allah, gue masih dikasih kehidupan”
“Dengan cara apa lo bersyukur?”
Aku terdiam. Diam karena memang aku tidak tau mau menjawab apa. Ya selama ini, apa pernah aku bersyukur kepada-Nya? Kapan terakhir kali aku mengucap syukur pun aku sudah lupa. Mungkin waktu pelajaran agama ketika sd dulu.
“Kenapa diem? Lo gatau ya caranya bersyukur?”
“Gue tau kok” ujarku ragu
“Apa?”
“Senantiasa bilang Alhamdulillah sama berbagi ke yang nggak punya aja”
“Terus?”
“Udah”
“Gini ya si…. Bersyukur itu ya emang seperti yang lo ucapin tadi, tapi bersyukur bukan hanya itu aja caranya. Bersyukur dengan cara yang sederhana aja misalnya. Bantu-bantuin mama lo bersihin rumah, bantuin orang-orang yang sedang kesusahan, bantuin mama nyuci baju, bantuin nyapu, pokoknya yang sederhana itu juga udah sama dengan bersyukur kok. Karena, elo dianugerahin rumah yang besar, yang mewah, punya baju-baju bagus, punya duit banyak, harusnya elo bersyukur dong? Bersyukur dengan cara merawat apa yang Allah kasih ke elo. Itu udah bersyukur kok” ujar Rey panjang lebar.
Jleb. Rey benar. Bahkan melakukan semua itu aja aku tidak pernah. Sama sekali tidak pernah.
“Pernah elo ngelakuin begitu? Enggak kan? Kasihan mama lo Si, kalo kakak lo pulang doing kerjaan mama lo jadi sedikit lebih ringan, kakak lo kan yang sering nyapu? Nyuci baju? Ngepel? Dan lain-lainnya? Elo? Mana pernah” ujarnya sinis
Jujur, kata-kata Rey tadi sedikit memancing emosiku.
“Tau apa lo tentang gue? Kenapa sih harus disbanding-bandingin sama kakak gue? Gue gasuka. Inget itu” ujarku tajam
“Gue tau semuanya kok. Nyokap lo sering cerita ke gue. Gue tau gue lancang, tapi toh kita sepupuan kan?”
“Pantesan semua orang-orang sering bandingin elo sama kakak lo.. elo nya aja yang bego. Elo itu salah Si, sifat-sifat lo itu harusnya di ubah” lanjutnya setengah mengatur nafas sejenak.
“Apa hak lo ngatain gue bego? HAH?!” bentakku
“Maaf tuan putri, tapi aku berkata apa adanya kok” ujar Rey mendramatisir
“Sialan lo” ujarku mulai emosi
“Iya deh Jessi sayang, Jessi pinter banget deh. Jesii kan sering juara olimpiade, sering jadi kebanggaan guru-guru. Gue aja sampe kalah haha. Eh tapi ya Si, percuma kali pinter doang tapi nggak bisa ngapa ngapain. Bisa mudah dimanfaatin orang dong kalau gitu? Percuma juga lo pinter tapi gapernah pinter ngendaliin emosi? Orang pinter ittu bukan di eksakta aja kali. Pinter ngendaliin emosi, itu juga namanya pinter kok, pinter bersosialisasi, itu juga pinter kok. Pinter itu nggak seperti yang lo pikirin aja tau. Elo? Lo belom bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat buat orang lain kan? Elo baru ngelakuin semuanya demi kepentingan elo sendiri, Si. Apa itu yang namanya pinter?’ ujarnya santai
Aku hanya terdiam. Diam sambil menunduk menahan emosiku. Diam sambil menunduk menyembunyikan air mataku yang ingin keluar sedari tadi.
“Kenapa diam? Ga bisa jawab? Semua orang itu sayang sama lo Si. Bahkan, mereka membanding-bandingkan elo dengan kakak elo itu demi kebaikan elo juga..”
“TAPI REY… KENAPA SEMUA MENGELU-ELUKAN KAKAK MULU? KENAPA? GUE GAPERNAH REY GAPERNAH” aku mulai terisak. Rey? Hanya diam membiarkanku melanjutkan berbicara.
“Jujur gue iri Rey, iri banget. Kakak gue kalo minta sesuatu pasti dibeliin, sedangkan gue? Mana pernah? Mereka juga, bahkan orang tua gue pun sering banget banding-bandingin gue sama dia. Gue sebel Rey. Gue benci. Apa mereka gak ngehargain gue? Mereka bisa dong bilang dengan cara baik-baik? Ga perlu di banding-bandingin? Gue gasuka itu. Mereka tau” Aku semakin terisak dan terus menunduk. Membiarkan air mataku mengalir dengan deras dari kedua mata bulatku.
“Tapi Si, cara lo itu salah, harusnya lo ga boleh bentak mereka, harusnya lo terima aja itu. Lo berusaha buat ngelakuin apa yang mereka mau, gue yakin kok mereka gak bakal ngelakuin itu lagi kalo lo mau berubah”
Aku masih diam mematung.
“Lo ubah dulu sifat lo, kebiasaan-kebiasaan lo, turuti aja perintah mereka. Gue yakin mereka ngelakuin yang terbaik buat lo. Mereka itu sayang banget sama lo”
“Mereka nggak peduli sama gue Rey” ujarku lirih
“Yaelah, ngomong apaan sih lo? Kalo mereka nggak peduli ngapain mereka nyempattin ke sini buat bilang happy birthday ke elo?”
“Mana?”
“Tuh” Rey mengangkat dagunya seolah-olah menunjukkan ke arah mana aku harus melihatnya.
“HAH?!” aku kaget. Sangat kaget. Mereka dengar dong apa yang aku bilang sedari tadi.
“HAPPY BIRTHDAY JESSI, HAPPY BIRTHDAY JESSI, HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY JESSI” Aku masih diam dengan mulut menganga.
“Jessi, maafin kita ya sayang, mama papa tau kalo kita salah, kita nggak bakal bandingin kamu lagi, mungkin kakak kamu juga capek udah dibandingin mulu sama kamu, maafin mama sama papa ya Si” ujar mamaku
“Eh, oh iya ma. Maafin jessi juga ya. Jessi ga pernah nurut sama mama. Jessi emang anak yang nakal ma, hehehe” ujarku nyengir
“Happy birthday ya de”, ucap kakakku
“Makasih kak fin”
“Oh iya, jangan suka ngiri lagi lo sama gue, justru harusnya gue yang ngiri sama elo”
Aku mengangkat alis. Kenapa bisa? Tanyaku dalam hati
“Iyalah, secara lo itu yang dibanggain sama papa mama, elo yang pinter, elo yang bikin keluarga kita bangga karna elo, elo bikin keluarga kita berarti di mata masyarakat, semuanya kan karna elo” ujar kak findi seakan ia mengerti apa maksudku tadi.
“Tapi tetep aja kak, di balik itu semua kan ada elo, my hero, my destiny, and my beloved sister hahahaha” tawaku
“Yang seneng, gue dikacangin nih”
Aku tertawa melihat ulah Rey seperti tadi, dan… sejak kapan dia pindah tempat? Kukira dari tadi dia masih duduk disampingku. Kenapa sekarang sudah bergabung bersama semua keluargaku dan teman-temanku? Ah, mungkin aku nggak menyadari pas dia jalan kesitu tadi.
“Eh iya Rey… hehehe makasih ya buat semuanya.. udah dengerin curhatan gue.. udah bikin surprise kayak gini hehe”
“Sama-sama sepupuku sayang.. gue justru punya surprise yang lebih istimewa lagi buat lo”
“Apaan?” tanyaku penasaran
Berjanjilah wahai sahabatku
Bila kau tinggalkan aku
Tetaplah tersenyum
“siapa yang nyanyi? Kayaknya gue kenal deh? Tapi mana orangnya?” ujarku pelan
Meski hati sedih dan menangis
Ku ingin kau tetap tabah, menghadapinya
Aku masih celingak-celinguk mencari sosok yang mengalunkan lagu favoritku tadi, “ah dia……..”
Bila kau harus pergi
Meninggalkan dirimu
Jangan lupakan aku
“Gi…….o”
Semoga
Dirimu disana
Kan baik-baik saja
Untuk selamanya
“Ya itu pasti Gio”
Disini aku kan selalu
Rindukan dirimu
Wahai sahabatku
Prok prok prok. Kulihat semua keluarga dan teman-temanku memberi tepuk tangan padanya. Orang yang telah menyanyi dengan suara emasnya itu kepadaku.
“Happy birthday Jessi”, ucapnya kepadaku
“Elo………..Gi…o?”
“Kenalin, aku Gio Damanik Susanto” ujarnya sok
“Hah? Jadi elo beneran Gio?”
“Biasa aja dong mulutnya” uups aku pun langsung menutup mulutku refleks. Jadi sedari tadi mulutku nganga? Aaaaaaaaaah malu banget ini..
“Giooooooooooooooo” reflek aku memeluknya
“Lepasin weh, malu tau”
Uuuuuuups, lagi-lagi aku salah tingkah.
“Abisnya….. eh eh, elo berubah banget Yo? Gila, makin ganteng aja lo, pujaan para wanita dong lo? Hahaha” candaku
“Termasuk elo”
“Hah? Gak deh ya.. Lo kan sahabat gue gitu, ngapain gue suka sama elo, wajah-wajah kayak elo mah dipasar juga banyak”
“Sialan lo”
“Hahahaha, eh tapi beneran deh, 3 TAHUN coy gue ga ketemu elo, gue pangling kan jadinya, lo putih, tinggi, ganteng, keren, pinter, padahal kan lo dulu bantet kayak gue, pinter juga pinteran gue hahahaha” tawaku renyah, kulihat semua orang disekitarku juga ikut tertawa.
“Jesssssssssssssi” ujarnya geram sambil memelototiku
“Peace mameeeeeen”
Hah, aku sadar sekarang.. aku sangat bodoh, bodoh karena menganggap diriku sendiri tidak penting, bodoh karena mengganggap semua orang tidak peduli padaku. Maafkan aku ya Allah, maaf. Aku telah berburuk sangka padamu. Kekecewaanku pada mereka pun sirna sudah. Seolah-olah diterpa badai yang hilang entah kemana. Kekecewaanku pun seakan-akan hanya kekecewaan palsu. Hanya bualanku semata. Karena, ternyata mereka sangat sayang kepadaku. Aku sangat bersyukur di hari ulang tahunku yang ke 16 ini. Aku akan berusaha untuk bersikap lebih baik lagi. Aku berjanji aku tidak akan mengecewakan keluargaku, tak akan mengecewakan Rey, tak akan mengecewakan semuanya, dan pastinya tak akan mengecewakan Rini, Karen, dan… Gio. Karena aku yakin bahwa mereka sangat menyayangiku dengan tulus. Ah betapa indahnya dunia ini…….
Saat kau menganggap seseorang itu berharga, jangan berharap lebih pada mereka, karena hanya akan membuatmu sakit hati. Saat kau membenci seseorang, pun jangan berburuk sangka dahulu padanya. Bisa jadi, ia lah teman terbaikmu yang akan menemanimu saat senang maupun sedih, saat teman-temanmu yang lain tertawa diatas penderitaanmu.
-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar