*flashback*
Ify bangun dari tidur lelapnya. Ia segera mandi dan bersiap ke meja makan untuk sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Ia menyisir rambutnya yang indah tersebut dan mengambil sebuah jepit kecil berhiaskan kupu-kupu dan segera mengambil tas ranselnya yang akan dibawanya ke sekolah. Ify berlarian kecil menuju tangga dan segera duduk di kursi meja makan. Ify mendengar suara-suara teriakan yang berasal dari kamar mama papanya. Kebetulan kamar mama papa Ify terletak persis disebelah kanan meja makan, sehingga Ify dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka ributkan.
”Pa, Mama udah nggak tahan lagi sama Papa! Jadi gini kelakuan papa selama ini? Mama nggak nyangka Pa, Papa bisa setega ini sama Mama, sama Gabriel, sama Ify juga! Mama Capek Pa! Mama minta cerai!” teriak mama Ify sambil terisak
*flashback off*
Tak terasa butiran bening yang sedari tadi ia tahan itu keluar juga dari pelupuk mata bulatnya. Butiran bening tersebut memang tak nampak, karena terhapus oleh derasnya air hujan yang kini menerpa tubuh gadis mungil itu dengan sangat kencang.
”Non, Non Ify, yaampun Non, kenopo Non udan-udan ngene? Nek loro piye Non? Non segera ke vila ya? Ditimbali sama Mamanya Non, Mamanya Non khawatir sekali sama Non.” ujar Pak Ujang dengan logat jawa kentalnya.
“Nggak mau Pak, Ify mau disini aja! Biarin Ify sakit. Paling juga nggak ada yang peduli kok.”
“Non jangan gitu, kasihan Mamane Non. Ayok ya Non ya ke vila?” Pak Ujang memaksa.
”Nggak mau, Pak!” bentak Ify
”Tapi non....”
”Udah lah Pak, Pak Ujang balik aja sendirian ke vila. Bilangin mama kalau Ify mau disini aja. Ify mau sendiri disini.”
”Ya udah Non, saya pergi ya.”
Setelah kepergian Pak Ujang, Ify terus meratapi sikap papanya -yang memang Ify belum tahu seperti apa itu, namun dengan perkataan mamanya yang ia dengar kemarin, Ify jadi yakin kalau ternyata papanya itu orang yang tidak baik- kepada mama Ify sampai Mama Ify berkata ingin bercerai. Dalam bayangan Ify, perceraian merupakan hal yang sangat buruk untuk keluarganya. Papanya akan meninggalkan keluarganya dan Ify belum siap menerima itu semua.
Lelah, itu yang sedang dirasakan oleh Ify saat ini. Rasanya badannya seperti tertimpa beras seberat satu ton yang dilemparkan untuknya. Ify hampir tak sanggup lagi menghadapi ini semua. ”Kak....... Ify kangen sama kakak. Ify nggak mau papa pergi, Ify harus gimana kak,” desah Ify. Ya, Ify memang anak kedua dari keluarga ini, karena ia mempunyai seorang kakak laki-laki.
***
”.............................oke sir,” akhir perkataan Gabriel yang sedang menelpon rekan kerjanya. Memang, gabriel selain kuliah, juga sedang meneruskan bisnis papanya yang berada di Jerman sekarang. Sudah hampir 1 musim ini, gabriel belum pulang ke Indonesia. Gabriel sendiri mempunyai alasan yang sangat kuat untuk tetap tinggal di Jerman untuk sementara ini dan tidak ke Indonesia dulu. Tak lain tak bukan, alasan itu adalah kondisi perusahaan papanya akhir-akhir ini. Terombang-ambing. Miris untuk Pak Stevent –ayah Ify dan Gabriel- yang telah membangun susah payah perusahaan ini sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Namun apa daya, memang seperti itu lah keadaan yang sebenarnya, sehingga membuat Gabriel bertekad untuk menangani perusahaan ini dahulu dan mengacuhkan kuliahnya.
***
Hari berganti hari seiring semakin kacaunya keadaan keluarga Ify. Ify pun sangat jarang sekolah, padahal sebenarnya sebentar lagi ia akan menghadapi ujian nasional. Ify malah sering keluyuran nggak jelas untuk meluapkan masalahnya. Ify juga sering mengupdate twitternya dengan kata-kata kasar seperti ”Fuck, Damn, dan sebagainya”. Untuk yang kesekian kalinya ia membuka twitternya dan mengupdate ”NJIR. UDAH DIEM. BOSEN GUA NGEDENGERIN SEMUA INI!” Setelah mengupdate demikian Ify mempunyai niat untuk membuka replies yang artinya mention teman-temannya untuk ia. 25 new mention. Ia segera mengklik icon tersebut dan dalam beberapa detik muncul sedemikian mention yang menanyakan kabarnya. Terutama via dan shilla, sahabat Ify.
@ashillazhrtiara : @Ifyalyssa fy, lo kemana aja? Lo kenapa?
@viazizah : @Ifyalyssa fy, lo baik-baik aja kan? Lama banget nggak sekolah?
Yah begitulah kira-kira mention yang bejibun dari mereka. Entah ada dorongan apa, ify segera membalas mention dari sahabatnya itu. Ify yakin, raut kecemasan sangatlah nampak pada wajah ceria kedua sahabatnya itu.
@ashillazhrtiara @viazizah lo semua tenang aja, gue ngga papa kok J
Yah itu balasan singkat dari Ify, setidaknya ia bisa meyakinkan kedua sahabatnya kalau ia memang baik-baik saja.
@ashillazhrtiara : Masa sih Fy? I know something wrong with you (⌣́_⌣̀) RT @ashillazhrtiara @viazizah lo semua tenang aja, gue ngga papa kok J
Setelah melihat balasan dari Shilla tersebut, Ify segera meng-close opera mini nya dan melanjutkan aktivitas lainnya yang dianggap lebih penting daripada sekedar membalas mention tersebut. Ify memang paling tidak suka urusannya dicampuri, meskipun itu sahabatnya sendiri. Jadi Ify memilih untuk diam dari kedua sahabatnya itu.
***
Pagi hari ini Ify berlarian kecil menuju taman tempat ia biasa merenung. Ia tampaknya sedikit terburu-buru, karena rintik-rintik hujan mulai membasahi tubuhnya. Ify sangat kaget melihat siapa yang ada disana. Rio. Kakak kelasnya dulu yang terlihat galak itu duduk memejamkan mata sambil bersandar di dekat pohon kecil yang ada di sana. “Ngapain dia di sini?” batin Ify.
Ify menghampiri Rio dan duduk tepat disampingnya. Merasa ada yang menduduki tempat kosong disampingnya, Rio segera membuka matanya dan mendapati Ify yang sedang menutup wajah dan menghembuskan nafas berat.
“Ngapain lo disini?” kata Rio pada Ify
”Ini tempat biasa gue merenung kok, suka-suka gue dong mau kesini. Lagian ini kan juga bukan tempat milik nenek moyang lo.” ucap Ify santai
”Eh elo tuh....... ditanya baik-baik jawabnya malah kek nenek sihir gitu.”
“Hellow? Gitu dibilang santai? Gimana judesnya om?” ujar Ify meledek
”Ah udahlah lagi males gue debat, emang ngapain sih lo disini? Ngga sekolah?”
”Ngga. Males.”
Rio pun melengos. Ia hampir saja berdiri dan melangkahkan kakinya ke tempat yang lebih damai, tentram serta sejahtera tanpa orang yang ada di sampingnya ini.
“Heh, mau kemana lo kak? Sini aja kali, gue nggak bakalan ngapa-ngapain lo kok.”
”Heh oncom, kebalik kali. Seharusnya cowok yang bilang gitu ama cewek.”
”Yah menurut gue kan lo itu ................... jadinya gue bilang gitu?”
”Maksud lo? Gue cewek? Ha? Buta ya mata lo? Jelas-jelas keliatan kalo gue cowok dibilang cewek. Anjir banget ya lo itu.”
”Yaudah sih santai aja. Nggak usah misuh juga bisa kali kak”
”Apaan? Yang biasanya misuh didepan umum siapa? Elo kan? Yang mengumbar-umbar napsu di twitter siapa? Elo juga kan?”
Skak mat. Ify merasa kalah telak dengan perkataan Rio barusan. Ya Ify memang sering melakukan hal itu, karena menurut Ify, setelah mengupdate kata-kata demikian Ify merasa lebih plong dan sedikit terbebas dari masalahnya.
”Kalo punya masalah ya diselesein, nggak usah ditahan, terus ngumpat kata-kata jelek di depan umum,” kata Rio menasehati.
Entah kenapa, Ify selalu mendengarkan nasehat-nasehat Rio sedari tadi. Padahal biasanya Ify paling tidak suka dinasehati. Ify malah sering menyumpel lubang telinganya untuk mendengarkan musik keras-keras daripada mendengarkan orang lain berbicara panjang lebar menasehatinya.
”Kenapa lo diem aja?” kata Rio datar setelah ia mendapati Ify bengong
“Hah? Enggak, nggak papa.”
“Naksir ya sama gue? Udah bilang aja?”
”Dih! Ogah! Amit-amit deh kak gue suka sama elo!”
”Gue pegang kata-kata lo. Sampe lo naksir dan jadi cewek gue, lo harus nraktir sesuka gue selama seminggu.”
Mampus, ucap Ify dalam hati.
“Iya deh iya. Pegang tuh kata-kata gue. Kalo perlu sekalian deh gue traktir lo ke Jepang sekalian, biar kena radiasi nuklirnya, biar tau rasa deh lo.”
”Oke. Inget ya, karma itu berlaku lho,” ujar Rio lalu meninggalkan Ify dari taman tersebut.
***
Hari ini Ify mulai sekolah lagi. Ify menjadi sadar akan kebegoan yang dilakukannya hari-hari kemarin. Karena satu alasan. Nasehat Rio. Ya, nasehat Rio membuat Ify sadar 1800 akan tingkah lakunya yang konyol akhir-akhir ini. Dia yakin bahwa dirinya kuat. Dan dia yakin pasti orang tuanya akan akur kembali.
Hari berganti hari, sejak perjanjian konyol yang mereka sepakati, Rio semakin hari semakin gencar memberikan pesona-pesonanya kepada Ify. Semakin hari pun Ify berusaha mati-matian mendoktrin otaknya agar ia tidak leleh pada pesona Rio yang sangat luar biasa itu. Namun, tampaknya usahanya sama saja dengan menegakkan benang basah, alias sia-sia saja. Bagaimana tidak? Secara sengaja rio memberikan senyuman mautnya –yang pasti membuat seluruh wanita leleh- kepada Ify setiap Ify menghampirinya. Kelakuan Rio makin hari pun makin membuat Ify frustasi.
Seperti hari ini. Ify ingin bersepeda mengitari kompleks perumahannya. Kebetulan Rio yang rumahnya hanya berjarak 3 meter dari rumah Ify mengetahui hal itu dan berusaha memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Rio segera mengambil sepedahnya sambil bersiul-siul jahil saat menyalip Ify. “Woe, edan ya lo kak?”. Rio berpura-pura tidak mendengarnya. “Dasar sinting”. Ify ngedumel. “Eh ada orang ngomong barusan ya, uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuups” kata Rio dibuat-buat dan menengok ke arah Ify. Ify pun yang sudah sangat jengkel dengan kelakuan Rio barusan segera berbalik arah dan memutuskan untuk pulang saja, dari pada ketemu makhluk jelek plus njengkelin satu ini, pikirnya dalam hati. “Yes berhasil, hahahahahahahahahahaha” tawa Rio keras sekali, sampai disangka oleh warga dia gangguan jiwa.
“Dek, gila ya?” ucap seorang warga yang sedang lewat.
“Hah? Saya waras kok pak?” sangkal Rio.
“Kalau waras kenapa ketawa-ketawa sendiri begitu? Mana keras lagi” ucap warga tadi.
“Oh enggak pak, maaf maaf saya kesenengan tadi, maaf pak” Rio segera kabur meninggalkan orang yang menyebutnya –gila- itu.
***
Di bandara
Seorang laki-laki tampan berkulit kuning langsat itu tampak sangat kebingungan. Ia celingak-celinguk seperti mencari seseorang namun belum ia temukan. Ia memang sudah sangat lama tidak menginjakkan kakinya disini. Ya, selain sekolah, ia juga bekerja di luar negeri. Siapa lagi kalau bukan Gabriel. Gabriel Stevent.
Setelah melangkah kira-kira 300 meter dari tempat ia berdiri tadi, akhirnya ia menemukan seseorang yang dicarinya sedari tadi. Rio. Ya, sengaja Gabriel meminta Rio menjemputnya karena Iel –sapaan Gabriel- ingin memberi kejutan untuk keluarganya terutama Ify. Gabriel sering mendapat cerita dari Rio tentang Ify maupun tentang orang tuanya. Gabriel prihatin dengan kondisi Ify saat ini. Karena ia tahu Ify adalah ababil atau biasa disebut abg labil. Untuk itu, ia menyempatkan dirinya bertandang ke Indonesia khususnya Jakarta untuk memberi support kepada adik tercintanya.
***
Tok… tok… tok…
“Siapa sih, malam-malam gini dateng? Setan kali” ujar Ify ngaco
Tok… tok… tok…
Ketukan pintu kedua membuat Ify bangun juga dari duduknya, dan dengan sangat malas dan terpaksa, ia segera berlari membukakan pintu jati yang berada 5 langkah dari posisi ia duduk tadi.
“Apaan malem-malem kesini? Gangguin orang aja” ujarnya galak kepada orang yang berada di depan pintu tadi
“Sewot mulu sih jadi orang, ada tamu itu harusnya disambut dengan senyum dong” ujar tamu tadi
“Kalo sama elo mah, ngapain senyum, gue bukain aja masih beruntung lo”
“Yaudah, gue pulang lagi”
“Emang ada apaan lo kak Rio malem-malem ke sini?” ujar Ify kepada tamunya yang ternyata itu adalah Rio
“Numpang pup, wc gue lagi rusak”
“Ih, serius!”
“Gue? Kesini? Ada urusan lah pastinya”
“Sama siapa? Gue?”
“PD amat lo jadi orang, eh tapi mau gue kasih tau nggak?”
“Apaan?”
“Tereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng……………… dih kok gak muncul? Yel muncul dong!”
“Emang mana kak Iel? Emang kak Iel pulang? Mana mana?” ujar Ify heboh
“Tar, gue cari dulu” kata Rio sambil mencari-cari sesosok manusia yang tadi dibawanya kesini
“Ketemu! Weh tapi dia…………………?”
“Kenapa kak?”
“Tidur nih! Woy Yel bangun woy bangun! Ngebo aja lo!” ucapnya kepada Ify sambil sibuk membangunkan Gabriel
“Hah? Apaan? Ada Maling?” kata Iel setengah sadar
“Maling pala lo peyang” ujar Ify dan
“Cieeeeeeeeeh kompak amat” seru Gabriel
“Apaan sih” ujar Ify cepat
“Eh kak, kapan pulang? Kok nggak ngasih kabar dulu sih?”
“Hehe…
“Eh Yel, kenapa tadi lo sampe molor kayak gitu?
“Masuk dulu yuk, dingin nih. Gue tadi molor gara-gara lo berdua ngobrol mulu gue dikacangin. Gatau orang lagi capek apa ya? Ya akhirnya ketiduran lah” sembari berjalan menuju ruang tamu Iel menjawab pertanyaan Rio tadi
“Yaudah, gue pulang duluan ya, udah malem, takut tar dimarahin emak”
“Yailah manja benjet cih anak mama. Unyuuuuuuuuuuuu” ledek Ify
“Yaudah sono pergi” usir Iel bercanda
***
Sudah sekitar satu minggu Iel berada di Indonesia. Kondisi keluarganya pun semakin membaik. Kondisi tersebut tampak kelihatan jelas dari raut muka seluruh keluarga Stevent. Dalam sarapan pagi bersama ini misalnya. Mama dan papa ify sudah nampak akur dan tidak pernah bertengkar lagi. Ify pun tidak pernah membolos sekolah lagi. Bahkan keluarga ini ini terlihat harmonis dan seakan-akan tidak pernah terjadi keributan di dalamnya.
***
Hari ini Ify berangkat sekolah seperti biasa. Namun dengan suasana yang berbeda. Kali ini dia berangkat sekolah diantar oleh kakaknya, Iel. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia diantar oleh Rio menggunakan angkutan umum yang sering lewat didepan gang perumahannya. Ify agak kecewa karena Rio tidak menjemputnya hari ini. Ify juga heran, kenapa kakaknya sesemangat ini mengantarnya ke sekolah. Padahal biasanya paling males Gabriel untuk mengantarkan adiknya ke sekolah.
“Kak, tumben lo nganter gue. Ada angin apaan?”
Yang ditanya malah senyam-senyum sendiri.
“Yailah, senyam-senyum aja lo. Kayaknya ada yang sedang lope lope nih” goda Ify kepada Iel
“Paan sih, anak kecil ga boleh tau” ujar Iel sewot
“Gitu ya sama adek sendiri juga”
“Biarin wooo”
Ify lebih memilih untuk diam dan tidak menggubris omongan kakaknya barusan. Iseng-iseng Ify mengambil blackberry kakaknya yang ada di dashboard mobil.
“Jangan diambil ih” ujar Iel sambil merebut hpnya
“Kenapa? Wah macem-macem nih isinya”
“Dih elah Fy, dibilangin nggak ada apa-apanya juga”
“Kalo nggak ada apa-apanya sini minjem” direbut kembali hp Iel oleh Ify
Yang punya hanya manyun melihat kelakuan adiknya yang satu itu. Ify segera membuka bbm kakaknya dan sangat shocked setelah membukanya. Bagaimana tidak? Isinya Shilla semua.
“Hahahahahahahahahaha yaampun, ini toh yang buat kakakku senyam-senyum kayak orang gila yang biasa di jalan itu hahahahahha” tawa Ify meledak-ledak.
“Apaan sih”.
“Yailah sewot, wah bilangin mama aaaaaaaaaaaah. Pantesan juga semangat 45 nganterin gue ke sekolah. Betewe dapet pinnya darimana kak?”
“BB eluh”
“Weh, nyolong ga bilang-bilang”
“Lu bego, apa pura-pura bego sih Fy, namanya nyolong masa mau ngomong dulu”
“Oh iya ya kak, beneran bego kali gue, cieeeeh shilla nih ye”
“Apaan sih lu ah. Yaudah sana turun, udah nyampe”
“Iya iya bawel, titip salam ga nih sama neng shilla?”
“Au ah”
Gabriel segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Ify.
***
Di dalam kelas, Ify terus meledek shilla. Kebetulan hari ini bapak ibu gurunya sedang rapat. Sehingga jam pelajaran kosong semua.
“Cieh neng shilla sama kakak gue nih” kata Ify
“Apaan sih Fy” ujar shilla
“Cieh yang pipinya merah ngalah-ngalahin tomat busuk” ledek Via
“Tomat seger ngapa Vi, tomat busuk mah kesukaan lo?” ujar Shilla menanggapi
“Au deh tomat apaan aja terserah, yang penting neng shilla sama aa Gabriel, ye ga vi?” ujar Ify
“Hahahahah, iye tuh Fy, betewe udah resmi belom nih?”
Yang ditanya hanya senyam-senyum malu
“Bau-baunya sih udah nih”
“Bener Shill?”
“Ehmmmmm…. Iyeh”
“CIE CIE SELAMAT YA. PEJE PEJE PEJE PEJE” ujar Ify dan Via kompakan
“Yah tinggal gue dong nih yang jomblo. Via ama Apin. Shilla ama Kak Iel. Gue? Ama bangku aja deh, ya bangku ya?”
“Fy, Plis deh jangan gila ngapa?”
“Iya Fy, lagian paling bentar lagi juga ada yang nyangkut kok”
“Lu kata pohon, nyangkut?”
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. Akhirnya obrolan mereka terpaksa harus diakhiri karena bel pulang telah meraung-raung sedari tadi.
***
Hari ini hari Rabu. Kebetulan Sekolah Ify sedang libur. Ify memilih asyik untuk duduk di taman kota. Hari ini fikirannya sedang galau tingkat dewa. Bagaimana tidak? Sudah seminggu ini Rio menghilang. Tidak tau ke mana juntrungannya. Ify pun bersenandung kecil,
Sudah lama
Ku menanti dirimu
Tak tahu sampai kapankah
Sudah lama
Kita bersama sama
Tapi segini sajakah
Entah sampai kapan
Entah sampai kapan
Hari ini ku akan menyatakan cinta
Nyatakan cinta
Aku tak mau menunggu terlalu lama
Terlalu lama aaaaaaaaaa~
Saat sedang asyik-asyiknya bernyanyi dari hatinya yang paling dalam, tiba-tiba terdengar suara yang membuat jantungnya hampiir meloncat keluar.
“Lagu itu…………………………. Buat gue ya?”
“Ih, PD banget lo kak?”
“Alah, gausah ngeles, gue tahu kok kalo lo suka sama gue”
“Emang. Terus kenapa?”
“Traktir gueeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee”
“Tapi jawabannya apa?”
“Hah? Emang ada perjanjian gue harus jawab? Terus emang lo nembak gue?”
“Ih……. Dodol banget sih lo kak, tau ah”
“Yeeeh ngambek, gitu doang juga, kalo ngambek jelek banget lo Fy, sumpah”
“Oh, berarti biasanya gue cantik
“Siapa bilang? Kalo biasa
“Ih gitu banget sih lo kak sama gue”
“Suka-suka gue, byeeeeee”
“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh, mau kemana?”
Rio pun pergi meninggalkan Ify sendirian yang masih sangat kebingungan dengan sikap Rio tadi. “Paan sih maksud tuh orang atu”. Ify pun memutuskan untuk pulang saja daripada dia tambah bete di taman sendirian. Ify memilih untuk berjalan dan menuntun sepedanya saja. Lagian rumah Ify juga tidak jauh dari taman kota ini. Sambil menikmati suasana, pikirnya.
***
Di tempat lain, Rio yang dibantu oleh Iel, Shilla, Sivia, serta Alvin sedang sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang telah direncanakannya. Rio pun segera mengambil gitar, karena ia yakin sebentar lagi pasti acaranya akan dimulai.
***
Ify masih terus berjalan menuju rumahnya. Memang kini jaraknya sudah agak dekat. Kira-kira 500 meteran lah. “Kok aneh sih? Sepi amat? Biasa juga pada ngerumpel disini tuh anak-anak kecil” kata Ify heran. Sembari berjalan ia menemukan sebuah kaleng coca cola warna merah. Awalnya sih Ify ingin menendangnya. Tapi setelah dilihat-lihat dalam kaleng tersebut ada kerrtasnya. Buru-buru ia buka kertas tersebut. Wanted! 500 again – M –. “Apaan nih? Bukan buat gue kali” ujar Ify agak jengkel. Ify terus berjalan lagi, ia menemukan kaleng yang sama, kaleng yang ada 100 meter dari Ify berada sekarang. Will – A –. “Apalagi sih?” seru Ify. Ify terus berjalan lagi. Di tiga tempat yang berturut-turut ia terus menemukan kaleng yang sama yang berisi arti berbeda-beda pula. Di tempat ketiga Say – R –. Ditempat ke empat Ify menemukan Love – I –. Dan di tempat terakhir Ify menemukan You – O –.
***
“Eh eh itu Ify tuh kayaknya” ucap Rio semangat. “Sembunyi sembunyi” perintah Iel cepat.
***
Ify celingak celinguk di depan rumahnya. Sepi. Hanya itu yang ada dalam otak Ify. “Pada kemana sih? Kompromi kali ya” omel Ify.
“Did you remember some tin you looked at the way? Please arrange it”
Ya, kata-kata itulah yang ada pada spanduk besar yang sengaja ditulis dan ditempelkan di tembok rumah Ify. “Apaan sih? Rajin amat tuh makhluk ngerjain gue” ujar Ify tambah bete. 5 menit berlalu. Sembari terus berpikir
An empty street
And empty house
A hole inside my heart
I'm all alone
The rooms are getting smaller
I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had
The song we sang together
And all my love
I'm holding on forever
Reaching for the love that seem so far...
So I say a little prayer
And hope my dream will take me there
Where the skies are blue
To see you once again my love
Oversees from coast to coast
to find the place i love the most
Where the fields are green
To see you once again my love
I try to read
I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself from thinking
I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had
The song we sang together
And all my love
I'm holding on forever
Reaching for a love that seem so far...
To hold you in my arms
To promise you my love
To tell you from my heart
You're all I'm thinking of
I'm reaching for a love that seem so far...
“Gimana? Keren kan?” ujar Rio seperti biasa.
“Yang ngasih nih tulisan siapa sih? Nyebelin banget”
“Kok sewot? Gue yang ngasih. Ngapa? Nggak suka? Yaudah gue balik”
“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeh jangan duluuuuuuu. Maksudnya apaan?”
“Ahelah dodol banget sih! Inget yang dikertas nggak?”
“Enggak” ujar Ify dengan polosnya
“YAILAH IFYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY” seru Rio gemes
“Emang apaan sih?”
“Nih ya, Inget baik-baik! Wan.ted.500.again.will.say.love.you. Udah?”
“Oh. Eh apa? Love you?” seru Ify berbinar-binar
“Y”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaah. Tuh kan bener kata hati gue”
“Emang ati bisa ngomong?”
“Konotasi elaaaaaaaaaaaaaaaaaaah”
“Oh. Eh gue jawab nggak?”
“Nggak perlu”
“Yah, kok gitu?”
“Kan gue udah tau di taman tadi”
“CIEEEEEEEEH PEJE PEJE” Ujar Iel, Shilla, Via, dan Apin bersamaan.
Ya, seminggu menghilang, ternyata Rio gunakan untuk menyiapkan surprise party yang sangat indah untuk Ify, surprise partynya nikita willy aja kalah *plak. Setelah surprise party ini, rencananya Gabriel pun akan kembali ke Jerman untuk kuliah serta kerjanya. Ia merasa waktunya kembali karena keluarganya sudah tenteram seperti sedia kala.
– END –
Tidak ada komentar:
Posting Komentar