Hakikat seorang pemuda adalah ingin
adanya perubahan, entah itu untuk dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya atau
bahkan yang lebih luas lagi, Indonesia, mungkin juga bisa sampai dunia. Kenyataannya,
yang saya temui sekarang ini, rata-rata pemuda justru tidak peduli dengan
lingkungannya. Kebanyakan mereka aktif di luar namun dengan mudahnya melupakan
lingkungan sekitarnya. Saya pernah mendapat kutipan, “perbaikilah dulu apa yang
ada di sekitarmu sembari kamu belajar di luar”. Inilah yang seharusnya
dipertahankan. Contoh realnya adalah daerah lingkungan kos saya di Gebang
Wetan. Kondisinya sangat jauh berbeda dengan pemuda di daerah rumah saya.
Banyak pemuda yang acuh, bahkan cenderung tidak peduli. Bukan masalah rasis
atau apa, akan tetapi ketika seseorang peduli, maka seseorang itu akan bergerak
untuk memperbaiki. Saya juga pernah mendapatkan quotes dari Menteri Sosmas BEM
ITS, bahwa “jika kamu ingin berbuat kegiatan kesosmasan, pikirkan juga apa yang
membuat kamu semangat disana, banyak yang ketika melakukan kegiatan kesosmasan
lalu mutung di tengah jalan karena putus semangatlah, bosanlah, atau apapun
itu. Mengapa kalian tidak berfikir bahwa semisal, saya ingin memperbaiki desa
saya, untuk apa? Agar nanti anak cucu saya bisa hidup disini dengan tenteram,
makmur, agar anak saya bangga punya desa ini. Tidak apa-apa egois sembari waktu
berjalan, sembari meluruskan mainset dengan niat yang sudah terbentuk”. Intinya
kembali lagi di diri masing-masing bahwa kesadaran keperluan itu perlu di
tingkatkan. Banyak pemuda yang menganggap sebelah mata desa dan
pemerintahannya. Bahkan justru desa adalah sepotong kecil daerah yang sangat
mempengaruhi masalah-masalah besar lainnya. Desa juga sedikit banyak membentuk
karakter seseorang atas kebudayaan tentang kepribadiannya. Ketika kamu
lahir dalam kondisi dimana lingkunganmu serba keras, belom tentu kamu akan
menjadi orang yang keras juga, akan tetapi potensi untuk bertindak keras lebih
besar dibandingkan dengan orang yang hidup dilingkungan serba lembut. Contoh
kecil pengaruh adanya sebuah desa adalah ketika terdapat bantuan dana dari
pemerintah untuk rakyatnya misalnya, ketika tidak ada pemerintahan desa, siapa
yang harus mengurusnya, siapa yang akan memberikannya langsung kepada rakyat.
Kabupaten? Cakupannya sangat luas, pasti akan kesulitan ketika ttidak ada pihak
desa yang membantunya. Karang taruna pun juga disini (gebang wetan) sudah tidak
ada. Padahal, dulu, pak RW Gebang Wetan sempat cerita bahwa dia ingin
kader-kadernya itu mengerti tetang pemerintahan, tidak melulu tentang dirinya
sendiri dan teman-temannya mungkin, yang harus ditekankan lagi adalah tentang
daerahnya sendiri. Siapa yang tidak bangga ketika daerahnya mendapatkan
penghargaan sebagai desa terbaik? Desa terkreatif? Bahkan bisa jadi penghargaan
itu hingga tingkat internasional. Kader-kader yang dibutuhkan sebenarnya adalah
yang mau untuk melakukan perubahan dan mampu memimpin perubahan itu. Dahulu,
pemuda adalah aktivis dimana saja. Di kampungnya sendiri pun, yang namanya
pemuda akan lebih suka ikut terjun langsung dan melakukan sesuatu yang
bermanfaat yang intinya adalah tentang kontribusinya untuk kampungnya tersebut,
bukan hanya tentang demo dan bakar-bakar ban mobil di depan gedung
pemerintahan. Apa yang dulu biasa mereka lakukan juga saat ini sudah hampir
tidak ada, sebagai contoh adalah kegiatan lomba 17 agustusan. Antusias pemuda
untuk mengelola kegiatan ini sudah sedikit berkurang. Sudah jarang diadakan
lomba 17 agustusan padahal efeknya baik untuk masyarakat, baik tentang
kebersamaan, kekompakan, keadilan, serta ketrampilan.
Selasa, 05 Agustus 2014
Sabtu, 02 Agustus 2014
Liburan Semester Genap
Halo blog, liburan semester yang harusnya 3 bulan, baru aku rasakan 3 minggu di rumah nih :') selebihnya bertualang di Surabaya. Tapi 3 minggu itu rasanya luuuuuama lho blog kalo nggak ngapa-ngapain. Nah, maka dari itu, liburan ini daripada nganggur, aku belajar tracing. Ini hasil-hasilnya...... Meski masih agak failed sih, hehe namanya juga masih belajar :)
Estka Eko Fadhil
Roni Vayayang
Yollafie Asmara
Safrina Kharisma Imandani
Dan terakhir...... Aku. Ari Agustina.
Gimana blog? Nggak mirip ya :( Maklum masih amatiran hahaha. Tapi masih akan terus belajar kok.
Kamis, 10 Juli 2014
Sabtu, 28 Juni 2014
Di dalam Ketegaran Semu
Liburan kali ini aku belajar, tentang apa arti kekuatan sesungguhnya. Pun
sebaik-baiknya kamu menutupi kelemahanmu dengan kekuatanmu, semua tetap akan terungkap. Seperti malam ini. Malam yang
membuat aku paham apa arti ketegaran dan cara mengemas itu semua.
Kau sungguh hebat. Berulang
kali kau menutupi hal ini dengan sangat cantik. Kalau malam ini kau tidak menceritakan hal ini padaku, mungkin aku tidak akan pernah tahu betapa hebatnya dirimu. Kau begitu tegar, ini kisah lama. Tapi kau tidak pernah menampakkan hal itu sama sekali. Bagaimana cara agar bisa melakukannya?
Sungguh aku ingin belajar. Aku benar-benar kagum. Bagaimana bisa seseorang seperti dirimu mengatur beban yang sangat banyak yang ada dalam dirimu. Mungkin,
inilah idealnya seorang pemimpin.
Pemimpin. Kau tidak ingin melihat anggotamu sedih karenamu, karena masalah pribadimu. Kau berhasil menyembunyikannya.
Kau juga tidak ingin melibatkan
orang-orang disekitarmu untuk masuk kedalam masalahmu. Diluar kau kelihatan begitu kokoh. Kau kuat. Tapi, semenjak malam ini aku paham, kau tidak sepenuhnya kokoh. Ya mungkin di luar kau begitu kokoh, tapi di
dalam, kau rapuh.
Jujur, aku sendiri menangis ketika kau menceritakannya.
Dan mungkin sebaik-baiknya aku menyembunyikan tangisanku itu, kau tetap tahu. Hingga akhirnya kau menyudahi kisah ini. Aku tahu kau tidak ingin aku berlarut-larut dalam kesedihan ceritamu.
Bagaimana bisa seorang anak yang jauh dari orang tuanya begitu tegar saat mendengar bahwa kini, ayahnya sudah tiada. Aku ingat betul, ketika liburan tiga hari dulu, kau pernah cerita. Kau begitu menggebu-nggebu cerita mengenai sosok ayahmu. Kau sangat kagum dengan ayahmu. Dan kau bilang, bahwa “aku telah berjanji pada ayahku, liburan
semester 2 ini, aku akan tetap berada di rumah,
aku akan menjaga ayahku”. Dan kini,
seminggu sebelum liburan tiba, ayahmu sudah pergi meninggalkanmu.
Bagaimana perasaanmu ketika kau diharuskan untuk mengikuti pelatihan ini itu, ayahmu sedang dalam kondisi yang buruk,
ia diharuskan untuk operasi. Mungkin ketika aku yang berada dalam posisi itu, aku ingin segera pulang. Tapi kau tidak. Kau tetap menjalaninya dengan tenang. Bagaimana mungkin seorang anak ketika ditelfon orang
tuanya untuk segera pulang saat ini juga, menampilkan keadaan di depan bahwa “ya aku baik-baik saja”.
Kau bilang, 2 minggu ketika kau dipaksa pulang, kau selalu menemani ayahmu di Rumah Sakit. Dan kau juga bilang, ayahmu ingin selalu berada disisimu. Bahkan ketika kau akan kembali ke Surabaya, kau bilang ayahmu menangis. Tidak rela kau kembali ke kota perantauanmu secepat ini dan ingin agar kau cepat-cepat pulang lagi. Ini adalah momen terakhir kali kau bicara pada ayahmu. Kau lalu bilang, ketika kau kembali untuk menuntut ilmu, ayahmu tidak mau makan dan berbicara lagi. Kau selalu bilang di telfon untuk menyuruh beliau makan, “buat apa minum obat jika tidak makan”. Dan kurang dari satu bulan setelah kau kembali ke kota perantauan, kau mendengar telfon. Di pagi buta setelah bangun, kau diberitahu bahwa kondisi ayahmu sedang benar-benar buruk. Ayahmu tidak berbicara sama sekali. Dengan kondisi sekujur badannya yang
dingin. Banyak orang yang mengerubungi ayahmu sambil membacakan yasin. Dan kau di
suruh pulang saat ini juga ketika semua final project
harus kau tempuh.
Kau mencoba mengajak bicara ayahmu di telfon,
namun yang di katakana ibumu adalah “tuntunlah ayahmu membaca syahadat nak”. Seperti petir yang
menyambar sangat cepat, kau segera menuntunnya, kau meminta maaf atas segala kesalahan yang
pernah kau lakukan selama ini. Dan kau, tidak akan pernah berbicara dengannya lagi. Bahkan, tidak pernah bertemunya lagi.
Langganan:
Komentar (Atom)




