Selasa, 05 Agustus 2014

Antusias Pemuda pada Desa-nya

Hakikat seorang pemuda adalah ingin adanya perubahan, entah itu untuk dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya atau bahkan yang lebih luas lagi, Indonesia, mungkin juga bisa sampai dunia. Kenyataannya, yang saya temui sekarang ini, rata-rata pemuda justru tidak peduli dengan lingkungannya. Kebanyakan mereka aktif di luar namun dengan mudahnya melupakan lingkungan sekitarnya. Saya pernah mendapat kutipan, “perbaikilah dulu apa yang ada di sekitarmu sembari kamu belajar di luar”. Inilah yang seharusnya dipertahankan. Contoh realnya adalah daerah lingkungan kos saya di Gebang Wetan. Kondisinya sangat jauh berbeda dengan pemuda di daerah rumah saya. Banyak pemuda yang acuh, bahkan cenderung tidak peduli. Bukan masalah rasis atau apa, akan tetapi ketika seseorang peduli, maka seseorang itu akan bergerak untuk memperbaiki. Saya juga pernah mendapatkan quotes dari Menteri Sosmas BEM ITS, bahwa “jika kamu ingin berbuat kegiatan kesosmasan, pikirkan juga apa yang membuat kamu semangat disana, banyak yang ketika melakukan kegiatan kesosmasan lalu mutung di tengah jalan karena putus semangatlah, bosanlah, atau apapun itu. Mengapa kalian tidak berfikir bahwa semisal, saya ingin memperbaiki desa saya, untuk apa? Agar nanti anak cucu saya bisa hidup disini dengan tenteram, makmur, agar anak saya bangga punya desa ini. Tidak apa-apa egois sembari waktu berjalan, sembari meluruskan mainset dengan niat yang sudah terbentuk”. Intinya kembali lagi di diri masing-masing bahwa kesadaran keperluan itu perlu di tingkatkan. Banyak pemuda yang menganggap sebelah mata desa dan pemerintahannya. Bahkan justru desa adalah sepotong kecil daerah yang sangat mempengaruhi masalah-masalah besar lainnya. Desa juga sedikit banyak membentuk karakter seseorang atas kebudayaan tentang kepribadiannya. Ketika kamu lahir dalam kondisi dimana lingkunganmu serba keras, belom tentu kamu akan menjadi orang yang keras juga, akan tetapi potensi untuk bertindak keras lebih besar dibandingkan dengan orang yang hidup dilingkungan serba lembut. Contoh kecil pengaruh adanya sebuah desa adalah ketika terdapat bantuan dana dari pemerintah untuk rakyatnya misalnya, ketika tidak ada pemerintahan desa, siapa yang harus mengurusnya, siapa yang akan memberikannya langsung kepada rakyat. Kabupaten? Cakupannya sangat luas, pasti akan kesulitan ketika ttidak ada pihak desa yang membantunya. Karang taruna pun juga disini (gebang wetan) sudah tidak ada. Padahal, dulu, pak RW Gebang Wetan sempat cerita bahwa dia ingin kader-kadernya itu mengerti tetang pemerintahan, tidak melulu tentang dirinya sendiri dan teman-temannya mungkin, yang harus ditekankan lagi adalah tentang daerahnya sendiri. Siapa yang tidak bangga ketika daerahnya mendapatkan penghargaan sebagai desa terbaik? Desa terkreatif? Bahkan bisa jadi penghargaan itu hingga tingkat internasional. Kader-kader yang dibutuhkan sebenarnya adalah yang mau untuk melakukan perubahan dan mampu memimpin perubahan itu. Dahulu, pemuda adalah aktivis dimana saja. Di kampungnya sendiri pun, yang namanya pemuda akan lebih suka ikut terjun langsung dan melakukan sesuatu yang bermanfaat yang intinya adalah tentang kontribusinya untuk kampungnya tersebut, bukan hanya tentang demo dan bakar-bakar ban mobil di depan gedung pemerintahan. Apa yang dulu biasa mereka lakukan juga saat ini sudah hampir tidak ada, sebagai contoh adalah kegiatan lomba 17 agustusan. Antusias pemuda untuk mengelola kegiatan ini sudah sedikit berkurang. Sudah jarang diadakan lomba 17 agustusan padahal efeknya baik untuk masyarakat, baik tentang kebersamaan, kekompakan, keadilan, serta ketrampilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar