Selasa, 02 Juni 2015

Teruntuk kau, yang sedang mengejar mimpi

Selasa, 2 Juni 2015
23:34 WIB, Gebang Wetan 5A-B

Teruntuk kau, yang sedang mengejar mimpi

Aku terdiam. Merenung menyelami apa yang seharusnya aku perbuat. Ini adalah bulan Juni. Bulan dimana seharusnya aku berbahagia. Karena sebentar lagi, sahabatku sejak SMP berulang tahun. Aku harus kesana. Itu adalah cita-citaku sejak aku mengenalnya. Sahabat yang selalu menemaniku saat menggila. Titik itu hampir saja aku dapatkan. Tapi aku menolak untuk menggapainya. Kesempatan tidak pernah datang dua kali. Kata yang berulang kali terngiang-ngiang di pikiranku. Namun apa daya, restu orang tua serta tanggung jawabku disini belum usai. Masih ada sesuatu yang harus aku lakukan. Setidaknya aku tahu diri. Sudah seringkali aku dibantu olehnya, namun ketika aku diperlukan, haruskah aku meninggalkannya? Dia adalah keluargamu sendiri. Tidak, aku tidak berani melakukannya. Ya, setidaknya aku bisa memberikan balas budi atas apa yang selalu dibantu untuk keluargaku.
Jauh dari hati yang paling dalam, sejujurnya aku ingin. Ingin mengikuti pameran tersebut dan utamanya adalah bertemu dengan kedua sahabatku. Aku berusaha menguatkan diriku sendiri bahwa, someday i will go to this place dengan hasil jerih payahku sendiri. Suatu saat kita pasti bertemu. Semoga.
Sejujurnya, hal tersebut merupakan sebagian kecil dari alasanku saat ini. Belum waktunya. Aku masih ingin belajar. Aku telah difasilitasi oleh berbagai orang keren yang berada di sekitarku. Aku sekarang tergabung bersama sebuah klub di Surabaya untuk memfasilitasiku dalam berfokus membuat karya. Spazio, Fordward Factory Lt. 7 Surabaya. Disini aku dapat menghilangkan segala kepenatanku dengan melakukan hobi yang aku sukai. Bersama orang-orang baru yang jauh lebih hebat diatasku. Setidaknya aku bisa melupakan sejenak beberapa masalah yang mungkin sedang merusak pikiranku akhir-akhir ini.
Mungkin memang benar. Orang bilang aku terlalu baik, baik yang menyebabkan tidak memikirkan diriku sendiri. Bodoh, mungkin iya. Kenapa bisa aku selalu mengiyakan apa yang orang lain minta dariku. Sementara, mereka hanya menghubungiku ketika aku dibutuhkan. Bahkan, dihubungi balik saja susahnya minta ampun.
Maaf. Maaf jika aku menyebalkan akhir-akhir ini. Maaf jika aku tidak mempedulikanmu bahkan cenderung memarahimu. Bukan, bukan karena aku sengaja marah atau aku benci denganmu. Aku adalah orang yang paling tidak bisa marah dengan orang yang dekat denganku. Aku hanya ingin kau berintrospeksi. Apa yang selama ini kau lakukan, harusnya kau bercermin. Apa kurang dan lebihnya segala perbuatan yang kau lakukan. Aku tahu kau adalah orang hebat. Orang yang selalu bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Tapi tidak sadarkah engkau dengan segala tindakanmu? Mungkin kau tak pernah menyadarinya karena kau menganggapnya baik-baik saja. Itu hanya dari sisimu. Namun coba perhatikan dari sisi yang lain. Perhatikan dengan baik ketika kau berada di posisi itu. Apa kau menganggap semuanya baik-baik saja? Bukan karena tidak ikhlas atau entah apa yang kau pikirkan ketika membaca tulisanku ini, tapi lebih kepada, coba hargai orang lain. Bukan karena aku tidak mau membantu atau tidak mau mengerjakan apa yang tidak bisa kau lakukan. Coba kau memposisikan diri ketika kau berada pada kondisi tersebut. Demi kebaikanmu suatu saat nanti. Mungkin iya kau belum merasakannya sekarang, tapi lihat beberapa tahun lagi. Ketika hal ini tak segera kau perbaiki.
Aku disini hanya bisa mendoakanmu. Mendoakan segala yang terbaik untukmu. Dibilang iri, sangat tidak pernah aku lakukan. Karena aku tahu, setiap orang mempunyai porsi rezekinya masing-masing. Semua jalan kehidupan telah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Aku berdoa semoga kau bisa mengupgrade diri, bukan sekedar meningkatkan kemampuanmu saja. Lebih kepada bagaimana kau memperlakukan orang lain. Hal yang sangat dibutuhkan ketika kau ingin menjadi leader.
Leader dan boss adalah seseorang yang berbeda. Leader adalah orang yang mau membantu anggotanya ketika mengerjakan sesuatu, namun boss hanya bisa menyuruh dan mengarahkan tanpa membantu sedikitpun apa yang harus dilakukan oleh sang anggota. Dan satu hal yang paling harus diingat adalah, semua orang mempunyai waktu 24 jam. Tinggal bagaimana setiapnya membagi waktu agar bisa melakukan seluruh pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak ada orang yang sibuk dan tidak sempat mengerjakan. Ketika orang tersebut dapat meluangkan waktunya secara lebih, orang tersebut akan dapat menyelesaikan setiap detail pekerjaannya. Hanya mau atau tidak.

Regards,

Ari Agustina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar