Jam 6:30 pagi hari tadi, saya beserta kakak pulang dari Surabaya. Perjalanan dari ITS pun cukup lancar. Tidak banyak kendaraan yang lalu lintas di jalan, mungkin karena pemilu, pikir saya. Saya pun melanjutkan perjalanan hingga Gresik. Saya tiba di Gresik sekitar pukul 7:45. Dari sini, feeling saya masih baik-baik saja. Hingga sampai akhirnya kami tiba di Duduk Sampeyan, Gresik. Disana tiba-tiba vbelt motor Vario saya putus. Saya sudah pernah mengalami ini sebelumnya, saat saya berangkat ke Surabaya awal februari lalu. Namun kejadian kali ini berbeda. Kalau dulu saya berangkat ke Surabaya sendiri, kalau sekarang saya bersama kakak. Kalau dulu beberapa meter ada bengkel yang buka, sekarang bengkel di depan sedang tutup. Sebelumnya saya masih berpikir tidak apa-apa, paling bengkel tutup karena masih pagi. Kami diarahkan untuk berjalan sekitar 500 meter dari bengkel pertama untuk menuju bengkel kedua. Kami menurut saja, kami berjalan. 500 meter berlalu. Masih tidak ada tanda-tanda ada bengkel maupun rumah warga. Kami berjalan lagi, mungkin 500 meter selanjutnya kami menemukan tanda-tanda pertokoan. Kami sedikit lega, namun bengkel kedua yang kami datangi juga tutup. Akhirnya kami menyeberang jalan hingga akhirnya menemui bengkel yang ketiga. Ada mas-mas disitu. Namun ternyata, dia bukan pemilik bengkel. Dia pun tidak bisa membenarkan vbelt motor saya. Lalu mas-mas tersebut menjemput pemilik bengkel di TPS agar dapat membantu kami. Beberapa menit kami menunggu, mas tadi kembali dan hasilnya nihil. Sang pemilik bengkel tidak mau membantu kami. Katanya sibuk dengan TPSnya. Padahal menurut tetangga-tetangganya “Padahal Cuma saksi”. Yasudahlah. Kami legowo saja. Akhirnya kami diantarkan oleh sang tetangga tadi untuk menuju bengkel keempat. Bengkel keempat buka. “Alhamdulillah”, saya bersyukur dalam hati. Ketika sang tetangga berbincang dengan pemilik bengkel, pemilik bengkel ternyata menolak (lagi), alasannya mau nyoblos. Disini saya sudah mulai diuji kesabarannya. Selanjutnya sang tetangga mengantar kami lagi ke sebuah bengkel menyeberang rel, yang katanya bengkel itu juga rumahnya. Jadi kemungkinan besar bengkelnya buka. Setelah kami sampai di lokasi, apa yang terjadi? Bengkelnya tutup. Sangat-sangat hopeless. Apa memang saya tidak diijinkan pulang hari ini? Lalu sang tetangga mengajak ngobrol istri dari pemilik bengkel kelima, beliau bilang kasihan kami dan sebagainya kepada sang istri. Lalu sang istri berusaha untuk menelfonkan suami. Kita bernafas lega. Akhirnya. Lalu sang tetangga pamitan pulang dan kami menunggu di rumah pemilik bengkel kelima. Setengah jam berlalu. Tidak ada kabar dari sang istri. Satu jam berlalu. Masih tidak ada kabar. 1 jam seperempat, sang istri bilang ternyata suaminya tidak bias membantu. Suaminya saksi di TPS. Tidak bias ke rumah membantu kami sebentar. Seketika itu saya langsung semakin sedih. Panik? Pasti. Tapi apa yang harus saya lakukan? Pun saya tidak tahu. Saya mencoba menelfon teman yang ada di Surabaya. Dia bilang, “yasudah titipin aja motornya, balik naek bus ntar pas mau balik Surabaya baru ambil motornya”. Seketika itu saya menangis. Bukan menangis karena capek atau apa. Saya kesal. Kesal dengan jawabannya yang seolah-olah tidak punya dosa padahal sebenarnya saya pulang, mengambil alih tanggung jawabnya. Saya sudah dimarahi pula oleh kakak. Saya semakin bingung dengan apa yang harus saya lakukan. Saya menelfon Reggie, teman SI dari Lamongan. Parahnya, Reggie tidak pulang. Lalu saya bias apa? Saya memutuskan untuk terus mendorong motor saya hingga sampai ke bengkel selanjutnya. Setiap orang yang ditanya tidak yakin ada bengkel yang buka disaat pemilu seperti ini. Mereka pun bilang, “bengkelnya jauh banget mbak”. Kami pasrah, kami tetap berjalan sampai menemukan bengkel yang buka. Disetiap jalan kami menemui orang dan kakak saya selalu bertanya dimana bengkel terdekat, dan selalu dijawab dengan jawaban “wah masih jauh mbak, sekitar 3-4 km an lagi”. Tidak apa-apa, pikir saya. Kami berjalan lagi. 2,5 km kami berjalan, ada yang bilang bahwa belokan dikanan jalan ada bengkel. Kami mencoba mendatanginya. Ketika itu sudah sekitar jam setengah 10 pagi. Ternyata, bengkel yang dimaksud adalah hanya tukang tambal ban, tidak bias ganti vbelt. Perlu dicatat, ini sudah jam setengah 10 pagi. Kalau kejadian ini tidak terjadi, mungkin saya sudah sampai di rumah. Saya berusaha tetap bersyukur. Tidak apa-apa. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar 3 km kami berjalan dari bengkel ke lima, masih belum ada tanda-tanda aka nada bengkel lagi. Itu sudah jauh dari duduk, tempat motor kita mogok tadi. Di depan pun sudah kelihatan gapura “Selamat Jalan Gresik, Selamat datang Lamongan”. Kami tetap berjalan. Sampai akhirnya ada 2 orang sekitar umur 30 dan 40-an tahun berhenti dan menolong kami. Mereka mendorong motor kami dengan motornya, sehingga kami tidak perlu berjalan lagi, sekitar 700 meter dari tempat sebelumnya, kami ditunjukkan bengkel. Bengkelnya buka. “Bismillah ya Allah”, dalam hati saya berucap. Ketika kami tiba di bengkel, kakak saya mencari-cari pemiliknya tapi tidak ada. Kami Tanya ke warung sebelah dan katanya yang punya rumahnya sebelah. Kami mendatangi rumahnya, dan ibuknya bilang mereka mau nyoblos dulu. Seketika saya hopeless lagi. Ginikah euphoria penduduk mengenai pemilu? Setinggi ini? Sampe gak mau nolong orang di depannya dulu demi Indonesia yang “katanya” lebih baik? Saya sedikit frustasi. Saya hanya pasrah ,menunggu. Akhirnya sang bapak keluar. Beliau bertanya kenapa dan kami jawab “vbeltnya putus pak”. Bapaknya tampak iba melihat kami. Lalu bapak tersebut akan berangkat ke tps dan bertanya ke tetangganya terlebih dahulu. “Rame gak?”. Sang tetangga menjawab “Rame banget tadi”. Bapak tersebut mengurungkan niat untuk berangkat ke TPS, namun terjadi sedikit cekcok dengan istrinya. Istrinya ngambek karena bapaknya tidak jadi berangkat nyoblos bareng. Akhirnya sang istri berangkat terlebih dahulu dan sang bapak turun tangan membantu kita memperbaiki vbelt. 10 menit berlalu, vbelt motor Vario kami pun jadi. Subhanallah, saya sangat senang karena bapak ini mau membantu kita. Meskipun euphoria pemilunya tetap kental, setidaknya bapak ini mau turun tangan melihat seseorang yang lebih butuh bantuannya saat itu juga. Akhirnya kami pulang dan selamat sampai tujuan. Terima kasih pak, insya Allah segala kebaikan bapak akan dicatat oleh Allah dan akan dibalas nantinya. Terima kasih sekali lagi. Dari sini saya mendapatkan pelajaran, jika ada seseorang yang lebih membutuhkan bantuanmu, segeralah turun tangan untuk membantunya. Jangan terlalu cuek dengan lingkungan sekitar. Kita harus tau mana yang baik, mana yang harus kita tolong, mana yang benar, bahkan mana yang hanya berpura-pura untuk semua hal. Think smart.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar