“Radar Surabaya,
penerbit yang berdiri atas otonomi pak Dahlan, kini sudah bisa berdiri mandiri.
Baik dalam bidang pemberitaan, redaksi, administrasi, dll. Harapan kami, 22
radar lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia ini dapat terinspirasi serta
bisa berdiri secara mandiri” – Nofi, PJ Redaksi Radar Surabaya.
Hari ini, jum’at 4
April 2014, kami peserta PJTL FTIf ITS mengunjungi salah satu media di
Surabaya, tepatnya di graha pena yaitu Radar Surabaya. Kami bertemu dengan Bapak
M. Fail sebagai manajer pemasaran, serta Ibu Nofi atau yang biasa dipanggil Bu
Ofi sebagai PJ Redaksi, serta teman-teman kru dalam media yang sangat welcome
kepada peserta. Radar Surabaya ini sebelumnya bernama Koran Bisnis yang
selanjutnya diambil alih oleh Jawa Pos dan berganti nama menjadi Koran
Reformasi Suara Indonesia. Setelah adanya peraturan dari jawa pos bahwa tiap
karasidenan akan mempunyai suatu radar tersendiri, maka suara Indonesia ini
berubah nama kembali menjadi Radar Surabaya. Selain radar Surabaya, dalam
karasidenan ini ada pula Radar Sidoarjo dan Radar Gresik. Radar Sidoarjo dan
Gresik mempunyai 20 kru. Sementara Radar
Surabaya mempunyai sejumlah kru yaitu 40 untuk tim redaksi serta 50 untuk tim
iklan dll.
Berbicara tentang
media, tentunya tidak asing pula mendengar kata wartawan, redaktur, serta
fotografer. Wartawan dalam dunia pers memiliki peran sangat penting yaitu
sebagai pengontrol kebijakan maupun masyarakat. Seorang wartawan harus
mempunyai sense of belonging serta kemampuan dalam menilai suatu permasalahan
secara objektif. Redaktur, adalah orang yang mempunyai tanggung jawab penuh
atas lebaran yang dihasilkan, misalkan redaktur ekonomi, maka redaktur ini akan
bertanggung jawab sepenuhnya untuk lembar berita ekonomi pula. Yang terakhir
adalah fotografer, fotografer dalam media pers harus punya rasa tanggap yang
sangat tinggi, bahkan hasil fotonya yang termahal adalah ketika dapat menangkap
kejadian tersebut pas pada waktunya. Semua hal tersebut, di Radar Surabaya ini
sendiri punya pakarnya. Beliau adalah pak Fail.
Semakin banyak
berbincang dengan pak Fail, semakin banyak pula kita mendapatkan cerita inspirasi
dan semakin bertambah pula pengalaman yang kita miliki. “Pekerjaan jurnalis itu
hobi, kalo nggak hobi nggak mungkin betah disini” ujar pak Fail. Menurutnya,
jurnalis bukan merupakan pekerjaan yang gampang, kerja yang selalu under
pressure serta komitmen waktu harus sangat teratur dan tepat.
Orang-orang yang sudah
terjun dalam media menjual informasi. Satu yang harus di garis bawahi, mereka
menulis berita bukan sebagai kebutuhan pribadinya, melainkan kebutuhan setiap
pembacanya. Teknik meliput yang baik harus selalu di perhatikan. Hasil
wawancara dari narasumber harus diolah sehingga dapat mudah dimengerti dan
dipahami. Salah satu contohnya adalah wartawan investigasi, ia akan menyamar
menjadi orang biasa tanpa seragam serta selalu mencari informasi-informasi
terkini melalui orang yang ia ajak bicara, dimanapun dan kapanpun. Wartawan
investigasi ini selanjutnya yang akan mengolah berita-berita yang telah
didapatkan secara akurat untuk dituangkan kedalam tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar