9 April 2014. Pesta
demokrasinya rakyat Indonesia. 9 April lalu merupakan tanggal Pemilihan
Legislatif dilaksanakan.
Dalam proses pemilu ini, ada 4 surat suara yang harus digunakan. Surat suara
untuk DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten. Pemilihan Umum Legislatif
inilah yang nantinya akan menentukan calon-calon wakil rakyat pilihan kita.
Semoga yang dapat menjadi wakil-wakil kita nantinya, itulah yang terbaik.
Merekalah yang memang pantas untuk menempati kursi tersebut.
Menurut pandangan saya,
pemilu yang diselenggarakan Rabu lalu masih sedikit merepotkan. Mengapa? Masih
banyak warga yang tidak mencoblos karena ia bingung memilih siapa. Masih banyak
warga yang tidak menggunakan hak pilihnya karena ia tidak bisa menggunakan
kertas suara tersebut. Miris memang. Tapi apa yang terjadi ini, itulah
kenyataan dimana kondisi ini benar-benar terjadi. Lemahnya pengetahuan warga
tentang teknis pencoblosan inilah, yang seharusnya sedari dulu menjadi
perhatian dari pemerintah. Pasalnya, warga yang seharusnya turut berpartisipasi
aktif dalam menggunakan hak suaranya, menjadi pasif karena terhalang oleh
kondisi ini. Padahal, karena golput-nya mereka inilah, pemerintah pun menjadi
rugi.
Selain itu, politik
uang dalam pemilu masih juga terjadi. Semua calon memberi uang kepada
masyarakat sekitar 15-20 ribu. Untuk apa? Membeli hak pilih, tentunya. Justru
pikiran semacam inilah yang menurut saya sangat keliru. Mengapa? Masyarakat
menerima uang dari banyak calon dengan jumlah yang sama. Lalu untuk apa mereka
memberi? Toh nantinya masyarakat juga akan menggunakan hak pilihnya sesuai
keinginannya jika uang yang diberikan sama. Niatnya untuk sedekah? Lalu kenapa
harus saat mendekati pemilu? Bahkan H-1 Pemilu. Bagaimanapun juga, itu akan
menimbulkan persepsi orang bahwa tujuannya bukan sedekah, melainkan membeli hak
pilih. Jika memang politik uang seperti ini masih terjadi, lalu jika
calon-calon ini nantinya sudah terpilih, apakah ada jaminan bahwa mereka tidak
ingin mengembalikan uang yang telah mereka gunakan untuk ini? Tidak hanya itu.
Belum menjadi apa-apa saja, mereka sudah menghambur-hamburkan uang demi
kepentingannya nanti. Jika sudah jadi? Yakin mereka akan lebih baik dari saat
ini? Itu memang persepsi masing-masing. Tapi menurut saya, inilah yang menjadi
awal kebobrokan mental DPR saat ini. Latar belakang yang tidak pas namun
memaksa, karena tuntutan partai atau apalah itu semacamnya, membuat mereka maju
menjadi DPR. Padahal, mungkin saja bukan bidang mereka. Ya, saya tidak
menyalahkan orang untuk masuk politik. Tapi, saya hanya menyarankan pada orang
yang ingin masuk politik, dalami dulu, apa politik Indonesia saat ini.
Bagaimana kondisinya, apa yang harus diperbaiki, lalu apa yang seharusnya
dijalankan. Politik memang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.
Politik dapat mengubah sesuatu menjadi baik, namun juga dapat mengubah menjadi
sebaliknya. Orang yang sudah masuk politik, pasti akan dihadapkan dengan 2 hal,
mengikuti arus, atau menentangnya. Dan kebanyakan orang, yang masuk politik
karena tuntutan partai dengan latar belakang yang sama sekali tidak ada sangkut
pautnya dengan politik, justru akan terjerumus dalam pilihan yang pertama,
mengikuti arus.
Itulah sedikit cerita
saya tentang kondisi pemilu legislative Rabu lalu. Semoga hal seperti ini tidak
terulang di pemilu presiden serta pemilu-pemilu selanjutnya. So, bagaimana
menurutmu pemilu yang baik itu?
Regards,
Ari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar