Kamis, 10 April 2014

Pemilu? Gunanya apa?


9 April 2014. Pesta demokrasinya rakyat Indonesia. 9 April lalu merupakan tanggal Pemilihan Legislatif dilaksanakan. Dalam proses pemilu ini, ada 4 surat suara yang harus digunakan. Surat suara untuk DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten. Pemilihan Umum Legislatif inilah yang nantinya akan menentukan calon-calon wakil rakyat pilihan kita. Semoga yang dapat menjadi wakil-wakil kita nantinya, itulah yang terbaik. Merekalah yang memang pantas untuk menempati kursi tersebut.
Menurut pandangan saya, pemilu yang diselenggarakan Rabu lalu masih sedikit merepotkan. Mengapa? Masih banyak warga yang tidak mencoblos karena ia bingung memilih siapa. Masih banyak warga yang tidak menggunakan hak pilihnya karena ia tidak bisa menggunakan kertas suara tersebut. Miris memang. Tapi apa yang terjadi ini, itulah kenyataan dimana kondisi ini benar-benar terjadi. Lemahnya pengetahuan warga tentang teknis pencoblosan inilah, yang seharusnya sedari dulu menjadi perhatian dari pemerintah. Pasalnya, warga yang seharusnya turut berpartisipasi aktif dalam menggunakan hak suaranya, menjadi pasif karena terhalang oleh kondisi ini. Padahal, karena golput-nya mereka inilah, pemerintah pun menjadi rugi.
Selain itu, politik uang dalam pemilu masih juga terjadi. Semua calon memberi uang kepada masyarakat sekitar 15-20 ribu. Untuk apa? Membeli hak pilih, tentunya. Justru pikiran semacam inilah yang menurut saya sangat keliru. Mengapa? Masyarakat menerima uang dari banyak calon dengan jumlah yang sama. Lalu untuk apa mereka memberi? Toh nantinya masyarakat juga akan menggunakan hak pilihnya sesuai keinginannya jika uang yang diberikan sama. Niatnya untuk sedekah? Lalu kenapa harus saat mendekati pemilu? Bahkan H-1 Pemilu. Bagaimanapun juga, itu akan menimbulkan persepsi orang bahwa tujuannya bukan sedekah, melainkan membeli hak pilih. Jika memang politik uang seperti ini masih terjadi, lalu jika calon-calon ini nantinya sudah terpilih, apakah ada jaminan bahwa mereka tidak ingin mengembalikan uang yang telah mereka gunakan untuk ini? Tidak hanya itu. Belum menjadi apa-apa saja, mereka sudah menghambur-hamburkan uang demi kepentingannya nanti. Jika sudah jadi? Yakin mereka akan lebih baik dari saat ini? Itu memang persepsi masing-masing. Tapi menurut saya, inilah yang menjadi awal kebobrokan mental DPR saat ini. Latar belakang yang tidak pas namun memaksa, karena tuntutan partai atau apalah itu semacamnya, membuat mereka maju menjadi DPR. Padahal, mungkin saja bukan bidang mereka. Ya, saya tidak menyalahkan orang untuk masuk politik. Tapi, saya hanya menyarankan pada orang yang ingin masuk politik, dalami dulu, apa politik Indonesia saat ini. Bagaimana kondisinya, apa yang harus diperbaiki, lalu apa yang seharusnya dijalankan. Politik memang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Politik dapat mengubah sesuatu menjadi baik, namun juga dapat mengubah menjadi sebaliknya. Orang yang sudah masuk politik, pasti akan dihadapkan dengan 2 hal, mengikuti arus, atau menentangnya. Dan kebanyakan orang, yang masuk politik karena tuntutan partai dengan latar belakang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan politik, justru akan terjerumus dalam pilihan yang pertama, mengikuti arus.  
Itulah sedikit cerita saya tentang kondisi pemilu legislative Rabu lalu. Semoga hal seperti ini tidak terulang di pemilu presiden serta pemilu-pemilu selanjutnya. So, bagaimana menurutmu pemilu yang baik itu?
Regards,
Ari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar